
"Hei.... Dit! Udah mau balik?" ucap Bian, menghentikan bola yang di jugglingnya.
"Hmm... si mbah minta tolong ditemani beli bahan buat bikin kandang" jawab Radit, sambil mengemasi pakaian dan handuknya.
"Lah, emang paman Darto kemana?"
"Lek Darto pergi ke tempat mertuanya, katanya lagi sakit"
"Ohh... gitu"
"Udah ya... kapan-kapan lagi deh main futsalnya" Radit berlenggang pergi.
*****
Brummm.... Radit mematikan mesin motornya, dan segera masuk kedalam rumah.
"Aku pulang, mbah..."
"Loh... cepat kamu pulang, dit?! Katanya ada kegiatan futsal" seru mbah Sarmin, duduk diruang keluarga.
"Sudah selesai mbah... Cuma nemenin teman bentar, mbah" Radit masuk kekamarnya.
"Mbah... jadi kan kita beli papan buat kandang?" Radit menongolkan kepalanya dari celah pintu.

"Hmm... tak perlu buru-buru toh dit..." mbah Sarmin menyeruput teh hangat dicangkirnya.
"Gak apa-apa mbah... sekalian jalan-jalan ke pasar"
"Bilang aja kamu mau jajan di pasar"
"Hahaha.... mbah bisa aja" Radit tertawa.
Radit tinggal bersama mbah Sarmin sejak ia masih SD. Mbah Sarmin adalah kakek dari sebelah ibunya. Ayah dan ibu Radit sangat sibuk berkerja diluar kota, itu sebabnya Radit sangat dekat dengan mbahnya ini.
*****
"Mbah, besok Radit mau pergi hunting foto sama Bagas" ucap Radit. Menyantap makan malamnya. Mbah Sarmin menghentikan makannya lalu manatap Radit.
"Sebaiknya kau tidak pergi. Beberapa hari ini mbah mendapat firasat buruk, sepertinya akan ada hal buruk yang akan terjadi" ucap mbah Sarmin dengan wajah serius.
"Gitu ya mbah..." radit terlihat menimbang keras kepergiannya esok.
"Terserah kamu toh le... mbah cuma khawatir kamu kenapa-kenapa" mbah Sarmin kembali melanjutkan acara makannya.
"Iya mbah... Radit ngerti"
*****
"Hallo... Bagas! Ini aku mau kasih tau kalau besok aku gak bisa pergi. Aku lupa kalau ada kerja kelompok buat lusa. Jadi kita pending dulu rencana hunting foto kita" ucap Radit ditelpon genggamnya.
"Oke aja lah dit..." seru Bagas mengiyakan.
"Oke dah dulu gas, makasih" Radit memutus sambungan telpon.
"Beri tepuk tangan untuk kelompok 2!" ucap pak Bima, dosen matakuliah komunikasi kepada mahasiswanya yang baru saja melakukan presentasi.
Radit kembali duduk, presentasi yang dilakukan kelompoknya berjalan dengan baik. Radit tersandar, akhirnya satu dari sekian banyak tugas miliknya terselesaikan. Pandangan Radit berlalih ke arah jendela di sebelah kirinya.
"Sebentar lagi hujan akan turun dengan derasnya. Siap-siap deh hujan-hujanan pulangnya nih...." batin Radit, menghela nafas.
"Hei, dit!"seru Firman, teman Radit yang duduk di belakang Radit.
"Em...."
"Enar habis kuliah pak Bima kita nongkrong, yuk!"
Seketika kata-kata kakek terlintas di pikiran Radit.
"Le... kalau urusan kuliahmu sudah kelar, langsung pulang, ya"
"Hei, Dit! Loe mau gak?!" seru Firman, meminta kepastian .
"Gak ahh.. gue ada urusan! Sorry ya, Fir"
Radit memacu laju motornya, awan hitam kini telah menghiasi langit siang ini. gemuruh mulai terdengar memanggil tetes-tetes air untuk segera turun ke bumi. Udara mulai terasa dingin, angin bertiup dengan kencang.
"Kayaknya bakal ada badai, nih?!" batin Radit.
Brum......
Radit mematikan mesin motornya, kedatangannya sudah disambut oleh kakeknya. Mbah Sarmin duduk di teras rumah, wajahnya terlihat sedikit gelisah.
"Mbah... kok duduk di luar? Dingin toh, mbah" ucap Radit mendekati mbah Sarmin.
"Ya... ini mbah mau masuk..."
Radit mengikuti langkah mbah Sarmin.
Hujan deras disetai angin kencang menerjang kawasan Solo. Jam sudah menunjukan pukul 21.15 tapi hujan masih tak ujung berhenti, bukannya mereda hujan semakin derasdan gemuruh, kilat pun tak hentinya menyambar di langit.
Radit memandangi jendela di ruang keluarga, tempat ia dan mbah Sarmin duduk. Suasana dirumah mencekam padamnya listrik membuat rumah mereka menjadi gelap gulita, hanya ada cahaya remang-remang dari lilin yang dipasang Radit di beberapa sudut rumah.
"Mbah dapat penerawangan.... semesta pun sudah memberikan tanda-tanda akan terjadi hal yang buruk" ucap mbah Sarmin.
"Hujannya udah reda mbah, syukurlah kukira bakal sampai pagi"
"Badai sampun mereda nanging mboten berarti sedoya sampun sae" sahut mbah Sarmin, kemudian beranjak menuju kamarnya.
*****
Radit merebahkan tubuhnya di tempat tidur, bersiap untuk tidur. Baru saja radit memejamkan matanya sebuah ketukan membuatnya terperanjat.
"Tok.... tok.... tok..... Permisi!" Seketika tubuh Radit menegak.
"Ada tamu?!" batin Radit, ia melirik jam, 22.30.
"Siapa sih malam-malam gini?" Radit melangkahkan kakinya dengan perasaan cemas Radit membuka pintu rumah. Dihadapan Radit seorang gadis dan pemuda dengan pakaian yang terlihat sedikit berantakan dengan keadaan basah kuyup.
"Maaf kalian siapa?!" Radit berdiri di ambang pintu.
"Radit kan...?!!" seru gadis muda dihadapannya
"Hah??" Radit mengerutkan alisnya, siapa gerangan kedua orang dihadapannya.
"Maaf... saya benar Radit, mbak siapa ya?"
"Ini aku dit, uni Lia" gadis itu tersenyum sumberingah.
"Uni Lia.... Liana? Anaknya om Hamdan" Radit megenali gadis muda di hadapannya.
"Iya.... syukurlah uni masih ingat sama rumah ini"ucap liana.
Cepat Radit mempersilahkan Liana dan teman laki-lakinya masuk dan memberitahu mbah Sarmin atas kedatangan Liana.
Liana merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia berada di kamar tamu, sedangkan Doni tidur bersama Radit.
Tok... Tok....
Seseorang mengetuk pintu kamar Liana.
"Kau sudah tidur, Liana? " terdengar suara mbah Sarmin dari balik pintu.
"Belum mbah, ada apa?" Liana membuka pintu.
"Mbah mau bicara denganmu"
"Iya mbah" Liana mengikuti mbah Sarmin ke ruang tamu.
" Liana... Apa terjadi sesuatu yang buruk padamu?"
" Apa yang terjadi padamu tadi?" mbah Sarmin menatap tajam. Liana terdiam, mulutnya terasa kaku.
" Kamu tidak bisa berbohong sama mbahmu ini. Jangan kamu sembunyikan apa yang telah terjadi... Mbah tahu saat ini kamu sedang ada masalah"
"Hahh... Itu" Liana menatap wajah mbah Sarmin, menimbang-nimbang untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Katakan saja, mbah akan mendengarkan"
Liana pun mulai menceritakan apa yang telah ia dan Doni alami tadi.
"Kalian sudah melakukan sebuah kesalahan besar.... Apa yang kalian lakukan akan membawa umat manusia ke dalam kehancuran"
"Tapi aku tidak tahu kalau akan terjadi seperti ini, aku juga sudah berusaha untuk menghentikan mereka, mbah!"
"Jika hanya dengan perkataan itu semua tidak ada artinya, bukan?" mbah Sarmin menggeleng.
Liana kembali tersentak, ia menundukkan kepalanya.
"Baiklah Liana, kau sudah bertemu dengan para penjaga, bukan?"
"Penjaga?"
"Iya... Penjaga gerbang yang sedari tadi kau bawa di dalam kantung jaketmu itu" ucap mbah Sarmin mematap kantung jaket Liana.
"Penjaga gerbang... Maksud mbah ini?" Liana memperlihatkan 2 batu kepada mbah Sarmin batu Amethist dan Sapphire.
"Ya.... Kedua batu itu. Kau harus selalu menjaga dan melindunginya karena dengan ke 12 batu itu lah kau dapat menyegel kembali kekuatan batu kegelapan"
"12...? Berarti masih ada 10 batu lainnya?"
"Iya... Kau harus segera menemukan 10 batu lainnya sebelum para kesatria kegelapan menemukannya dan jika kau kehilangan salah satu batu penjaga maka sudah tidak ada harapan lagi untuk umag manusia... "
Rasa takut mulai menghantui Liana
"Sekarang sudah larut, istirahatlah mulai besok kau akan memulai..."
"Bagaimana, mbah bisa tahu semua? "
"Aku hanya menceritakan cerita yang di turunkan oleh nenek moyangku dulu.... "
Liana terdiam memandang kepergian mbah Sarmin, rasa takut mulai Liana rasakan bermacam pertanyaan muncul dalam benak Liana. Liana mengalihkan pikiran negatif yang ada di kepalanya dan mencoba tetap tenang.
*****