Guardian Stone

Guardian Stone
Bangkitnya Batu Kegelapan



Gempa yang terjadi membuat material bebatuan diatas mereka runtuh, getaran gempa itu juga membuka jalan rahasia yang tersembunyi diantara dinding bebatuan. Seketika hawa panas menerpa tubuh mereka. Semua orang terpana sesaat dengan apa yang barusan terjadi.


mereka semua berdiri didepan jalan rahasia yang baru saja terbuka. Di hadapan mereka terdapat jalan setapak dengan tebing larva dikedua sisinya. Di ujung jalan setapak itu terdapat sebuah altar, terlihat sebuah kilauan berwarna ungu kehitaman ditengah altar.


Semua orang terlihat gembira atas keberasilan mereka menemukan apa sejak tadi mereka cari begitu pula dengan Bachri, ia terlihat puas dan ingin segera menuju altar di ujung jalan. Tetapi tidak bagi Liana, semenjak jalan rahasia itu terbuka ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tubuhnya terasa kaku dan bergetar, raut wajahnya terlihat ketakutan. Perlahan-lahan ia melangkah mundur lalu berpegangan pada tangan Doni.



Doni menyadari tingkah aneh Liana, ia memandang wajah Liana yang terlihat ketakutan.


"Liana... kau baik-baik saja?" bisik Doni.


"Don... kurasa kita harus pergi dari sini!" ucap Liana, pandangannya masih tertuju pada kilauan ungu gelap yang berada altar.


"Hah? Pergi??" Doni binggung.


"Kilauan ungu kehitaman itu memiliki aura hitam yang sangat pekat dan dapat mendatangkan mara bahaya yang sangat hebat"


"Apa?? Aura....? jangan bilang kalau kilauan ungu dialtar itu... sebuah batu?!"


Liana hanya mengangguk mengiakan perkataan Doni.


"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?" Doni memandangi teman-teman rombongannya.


"Pak Bachri! Jangan masuk kesana!!" seru Liana. Semua orang serentak memandang ke arah Liana.


"Disana sangat berbahaya! Kita harus pergi dari tempat ini!!" Liana mempertegas perkataannya.


"Kau tidak perlu khawatir, nona Liana" Bachri melanjutkan langkahnya


"Tidak!! Kau tidak boleh kesana!! Akan terjadi hal yang tak kau inginkan jika kau memaksa masuk kesana!!" seru Liana.


"Singkirkan dia!" Bachri berbisik kepada pria berkepala botak.


"Maaf nona... sebaiknya anda pergi saja!" seru si kepala botak, memandang Liana dengan tajam.


Liana memandangi Bachri dan para rombongan yang memasuki jalan rahasia menuju altar.


"Ayo Liana, kita pergi!" ucap Doni.


"Em...." Liana mengangguk, mengikuti langkah kaki Doni.


*****


Hawa panas dari larva mengiringi langkah kaki rombongan Bachri, keringat mengucur deras membasahi baju mereka. Bachri tiba di altar di ujung jalan. Kini terlihat jelas kilauan ungu kehitaman itu adalah sebongkah batu yang berukuran sekepal tangan orang dewasa.


"Akhirnya aku berhasil menemukannya, Ayah! Aku akan mewujudkan impian impian kita" batin Bachri terseyum penuh kebanggaan.


Bachri meraih batu ungu kehitaman dihadapannya.


Klakk!!


Seketika angin berhembus kencang, angin itu berasal dari altar.


"HEAAAAAGGGGGHHH!!!!"


Bachri berteriak, tekanan udara menjadi terasa berat. Angin dengan kuat mengitari Bachri, membuat sebuah pusaran udara yang dasyat. Orang-orang disekitar Bachri terlempar bahkan ada yang terjatuh ke jurang larva.


Wuzzz... Wuzzzz... Wuzzz...


Energi maha dasyat berkumpul didalam inti pusaran, energi yang berasal dari kegelapan. Material-material yang berada dilangit gua berjatuhan menimpa orang-orang dibawahnya.


"Kyaaaaa!! " Pekik liana, tubuhya terhempas terkena hantaman angin dari altar.


"Liana!!" cepat Doni menangkap tangan Liana, Doni berusaha bertahan dengan berpengangan pada batu di dekatnya.


"Doni...." ucap Liana lirih.


"Bertahanlah... kita harus segera pergi" pelahan hantaman angin mereda, menyisakan rasa sesak dari kekuatan kegelapan yang menyeruak.


"Angin sudah mereda. Ayo Liana kita pergi!"


Liana mengangguk mengiyakan. Aura biru sekelebat melewati pandangan Liana, ia tersentak lalu cepat ia berbalik. Batu Sapphire menggelinding tak jauh dari kaki Liana. Batu Sapphire itu menerang seperti memanggil Liana.


"Liana! Ayo... !" Seru Doni.


Liana cepat mengambil batu Sapphire dan pergi meninggalkan rombongannya. Batu yang berada dilangit-langit mulai runtuh. Liana dan Doni harus tetap waspada, jangan sampai reruntuhan batu itu mengenai mereka.


*****


"Hah....hah....hah..." mereka terus berlari mengabaikan rasa penat dikaki mereka. Keadaan goa yang mulai runtuh menuntut mereka terus berlari untuk menyelamatkan diri.


DUARRRRRRR!!!!!


Ledakan keras terdengar dari dalam gua, material-material yang ada didalam gua berhamburan keluar, membuat Liana dan Doni terhuyun terkena dorongannya.


"Mereka semua....." Doni tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Awan hitam memenuhi langit yang tadinya cerah. Awan hitam itu mengumpul mengitari sekitar gua. Gemuruh mulai terdengar kilatan-kilatan petir tampak dari celah kumupulan awan.


Liana memandang kearah langit yang gelap, firasat buruk yang dirasakannya terasa semakin kuat.


"Akan terjadi lah yang sangat buruk..." batinnya. Liana tahu ia harus bergegas meninggalkan tempat ini.


"Don... ayo kita tinggalkan tempat ini!" seru Liana.


"Ayo! Perasaan gue gak enak nih.... " sahut Doni.


DUAAARRRRR!!!


Tanah kembali bergetar, ledakan terdengar kali ini sangat dasyat. Ledakan dasyat itu menghancurkan sebagian tebing. Liana dan Doni yang berada tak jauh dari tebing terlempar, tubuh mereka terguling-guling kearah jurang landai.


"Agghh.... punggungku" Doni meringis mendapati dirinya menghantam pohon. Doni kemudian tersadar dan segera mencari keberadaan Liana.


"Liana!! Liana!!..."


"Aku disini Don..." Doni segera menoleh terlihat Liana sedang membersihkan tanah yang menempel di sekujur tubuh dan rambutnya.


"Kau tidak apa-apa, Liana?"


"Iya aku baik-baik saja... bagaimana denganmu?"


"Punggungku menghantam pohon besar disana.... tapi aku tak apa. Apa yang ditanganmu Liana?" Doni mengedarkan pandangannya pada tangan kiri Liana yang terlihat menggenggam sesuatu.


"Hah? Ohh... ini" Liana mengadahkan telapak tangannya.


"Ini batu Amethys yang diletakan pak Bachri di patung sebelum kita masuk" jawab Liana, tersenyum.


"Sepertinya batu ini terlempar bersama kita dan jatuh di dekatku"


"Ohhh...."


HAHAHAHAHAAAA.....!!!!


Liana dan Doni tersentak, cepat mereka memandang kearah asal suara. Seseorang sedang melayanng di udara, aura hitam yang pekat mengitari tubuh orang itu.


"Bachri?!!...." mata Liana terbelalak. Bachri yang dihadapannya kali ini bukan lah Bachri yang ia kenal sebelumnya. Bachri yang dihadapannya sangatlah dipenuhi oleh kekuatan kegelapan dan sangat lah berbahaya.


"Tak ku sangka kalian berdua masih dalam keadaan hidup" seru Bachri.


"Liana, Ayo kita pergi!!" Doni cepat menarik tangan Liana.


"HAHAHAA... kalian ingin kabur??! Tak akan kubiarkan seseorang pun hidup!!!"


Bachri mengangkat kedua tangannya, aura hitam berkumpul diatas tangan Bachri kemudian ia melemparkannya.


DUAARRRR!!!!!


Doni dan Liana berguling menghindari lemparan Bachri, mereka terus memacu langkah kaki mereka menyelamatkan diri dari cengkraman Bachri. Tiba-tiba Doni menghentikan langkahnya, mereka berada di ujung jurang. Dibawah terdapat jeram yang sangat deras dan berbatu terjal.


"Cihh!! Sial! Bagaimana ini?? melompat belum tentu selamat?!" batin Doni putus asa.


"MATI KALIAN!! " Bachri melemparkan bola energi hitam raksasa kearah Doni dan Liana.


DUARRRR!!!


*****


Blub... blub... blub....!!


Arus sungai begitu deras mengalir melewati apapun yang berada di sepanjang perjalanan. Bukan hanya arus sungai yang deras batu-batu yang berada di sungai membuat dasyatnya hempasan air.


"Huah!!" Liana mencoba mengusai diri, tetap tenang dan perlahan-lahan menepi ketepian sambil menyeret Doni yang tak sadarkan diri.


"Don... Doni...!! Bangun, Don...!" Liana memberikan tekanan pada ulu hati Doni. Setelah beberapa kali percobaan Doni akhirnya bangun.


"Huuk! Uhuuk!!" air keluar dari mulut Doni.


"Don, syukurlah kamu sadar..." Liana merasa lega.


"Liana....." Doni memperhatikan sekelilingnya.


"Kita ada dimana?" Doni mencoba untuk duduk.


"Entahlah... tapi tadi samar-samar aku mendengar suara kendaraan, mungkin kita tak jauh dari jalan raya"


"Kacamatamu....?" Doni tersadar saat melihat Liana tanpa kacamatanya.


"Mungkin jatuh pas kita jatuh di air tadi. Oh ya kamu sudah baikan, Don?


"Iya.."


"Kalo gitu ayo kita lanjutkan perjalanan kita" Liana membantu Doni bangkit dari duduknya.


*****


"Liana... sebaiknya kamu istirahat" ucap Doni, saat mereka berada di dalam bis. Mereka sangat beruntung, tak lama setelah mereka keluar dari hutan ada sebuah bis yang lewat.


"Kamu juga Don..." Liana kembali memandang kearah luar jendela. Pikirannya masih mengingat kejadian yang tadi ia dan Doni alami.


DUAARRR!!!!


Bachri melemparkan bola energi hitam berukuran raksasa kearah Liana dan Doni.


WUZZZ..... Bola energi itu melesat, benda-benda disekitarnya seketika menghitam dan mati. Doni dengan cepat melindungi liana dengan tubuhnya, sekaligus mendorong Liana kearah arus jeram. Tubuh mereka jatuh diikuti bola hitam dibelakang mereka. Bola hitam itu siap melahap tubuh mereka tanpa tersisa.


Doni memejamkan matanya, pasrah dengan nasibnya.


"Tidak! Aku tak ingin mati seperti ini!" batin Liana, menatap nanar bola energi hitam di hadapannya.


HIINNKKKK.......


Sinar kebiruan muncul dari balik jaket Liana. Sinar itu dengan cepat melindungi Liana dan Doni, membuat sebuah gelembung yang membungkus mereka berdua.


DUARRRRR!!!!! Ledakan hebat menghantam mereka, untung saja sinar kebiruan itu telah melindungi mereka berdua, jika tidak tamatlah riwayat mereka. Walau begitu dampaknya masih terasa, ledakan itu memberikan hentakan keras pada tubuh Doni yang melindungi Liana dengan tubuhnya. Doni mengerang lalu tak sadarkan diri.


BLURRR!!!.....


Tubuh mereka masuk kedalam air dengan segera derasnya arus sungai membawa tubuh mereka berdua.


*****


"Pak, berhenti...!" seru Liana kepada supir bis. Tak lama kemudian bis itu berhenti, Liana dan Doni segera turun.


Hari sudah berganti malam, Doni mulai gelisah, Doni berfikir keras dimana mereka akan menginap malam ini.


"Liana... kamu yakin disini tempatnya?"


"Entah lah...." ucap Liana, terus berjalan.


"Aduh nih anak" batin Doni cemas. Saat di bis tadi Liana mengatakan ia memiliki saudara yang tinggal di Solo, tapi ia mengungkapkan bahwa ia tak begitu ingat dimana rumahnya.


"Don! Hei... kok melamun!" Liana menarik lengan Doni.


"Lewat sini!" Liana masuk ke sebuah gang.


"Gang Mangga.... kamu yakin lewat sini?!"


"Iya.... Ayo cepat! Aku sudah lapar" ucap Liana.


Gang yang mereka masuki terlihat sunyi dan gelap, hanya terlihat remang-remang lampu dari rumah-rumah penduduk disekitar. Mereka berhenti disebuah rumah yang berada di tikungan gang, rumah sederhana dengan pekarangan yang luas.


"Disini rumahnya?"


"Kayaknya...." sahut Liana.


Liana mengetuk pintu, menunggu penghuni rumah membukakan pintu. Sesaat Liana berfikir apa benar rumah yang ia didatangi adalah rumah yang tepat dan apakah penghuninya masih tinggal dirumah ini.


KLAKK!!!


Seorang pemuda membuka pintu, matanya terlihat menyelidik.


*****