
Suasana Palapa Place terlihat ramai oleh orang-orang, hari ini adalah pembukaan pameran batu mulia yang diselenggarakan oleh Perusahaan Amber Gems Collection yang merupakan perusahaan Batu mulia terkemuka di Indonesia. Pameran ini tak hanya memamerkan hasil karya dari Amber Gems Collection tapi diikuti beberapa Perusahaan Gems (batu mulia) dan kolektor-kolektor Gems diseluruh indonesia. Mereka semua memamerkan hasil karya dan koleksi-koleksi batu mulia mereka ke khalayak ramai. Hal ini disambut dengan baik masyarakat, mereka datang silir berganti untuk melihat maha karya indah dari batu-batu mulia yang dibuat sedemikian rupa menjadi perhiasan yang indah memanjakan mata. Kebanyakan dari mereka adalah para pengusaha, orang terkemuka dipemerintahan dan dari kalangan selebritis turut serta meramaikan pameran batu mulia ini.
Seorang gadis muda sedang hilir mudik diantara stand-stand pameran ia membawa walky-talky ditangan kanannya, sesekali ia berbicara lewat walky-talkinya mengabarkan situasi disekitar stand.
...
...
"Liana!!......"
"Liana!!......." teriak seseorang dibelakang gadis muda yang dipanggil Liana itu, mendengar namanya dipanggil gadis muda itu segera menoleh dan melihat seseorang yang ia kenal datang menghampirinya.
"Ryan.... ada apa?" ucap Liana saat Ryan mendekat, ia tertunduk mengatur nafasnya yang putus-putus, tubuhnya yang gempal membuatnya harus ekstra tenaga untuk mengejar Liana.
"It..ttu..Paak Reee hann..." Ryan kembali tertunduk....
"Pak rehan kenapa??...yan..."
"Itu Pak rehan memanggilmu, Liana. Dia bilang ada yang ingin dibicarakan" akhirnya Ryan dapat menyampaikan apa yang ingin ia katakan.
"Ohh baik lah...." ucap Liana, melangkah pergi.
"Liana.....! Pak Rehan menunggu distand Black Pearl...!!"seru Ryan saat Liana mulai menjauh. Liana yang mendengar seruan Ryan langsung melambaikan tangannya sambil terus melangkah pergi.
*****
Sesampainya di stand Black Pearl Liana melihat sosok Pak Rihan bersama dengan seseorang pria disampingnya. Liana mengenali sosok pria itu dia adalah seorang pengusaha hebat di indonesia dan kolektor Gems stone langka yang juga ikut serta dalam acara pameran perusahaan tempatnya berkerja. Liana pun segera menghampiri pak Rehan.
"Ohh... Liana! Kemarilah... perkenalkan ini Pak Bachri Salim. Pak Bachri ini adalah teman lama saya" seru pak Rehan. Liana segera menyalami pak Bachri dan memperkenalkan dirinya.
"Saya Yuliana Dewi Sisilia... senang bisa berkenalan dengan anda," ucap Liana.
Dengan ramah pak Bachri memperlihatkan koleksi-koleksi Gems miliknya. Hingga mereka sampai disalah satu sudut ruangan, Sebuah batu mulia Sapphire terpajang disana. Batu mulia berwarna biru pekat, batu yang sangat indah. Mata Liana terpaku, batu sapphire dihadapannya begitu memikat dirinya. Warna biru pekat dari batu sapphire itu seakan menarik dirinya untuk mendekat dan tak ingin lepas. Aura biru muncul dari dalam batu sapphire, aura biru itu menyebar memenuhi seisi ruangan, aura yang sangat kuat tak seperti batu-batu lain yang pernah dilihatnya.
Sejak kecil Liana memiliki kemampuan untuk melihat aura benda-benda disekitarnya terutama bebatuan. Setiap batu memiliki aura yang berbeda-beda dan aura itu bisa berdampak bagi pemiliknya. Liana merahasiakan kemampuannya itu, ia hanya memberitahu kepada seorang sahabat baiknya, Doni.
"Nona Liana... Liana!" panggil pak Rehan, membuyarkan pikiran Liana. Pak Rehan dan pak Bachri memandang heran Liana. Selama beberapa saat Liana terpaku memandangi batu sapphire dihadapannya. Liana seperti terhipnotis, sudah beberapa kali pak Rehan memanggil nama Liana tetapi Liana sama sekali tidak menggubris seruan managernya itu.
"Kau tidak apa-apa, Liana?" ucap pak Rehan
"Iya, saya baik-baik saja, pak!" Liana tersenyum.
"Sepertinya kau sangat tertarik dengan batu sapphire milikku" ucap pak Bachri.
"Ya... batu sapphire ini terlihat berbeda dari batu sapphire yang pernah saya lihat, batu ini memiliki sesuatu yang spesial," ucap Liana.
"Dia adalah Gemolog yang terbaik. Liana bahkan dapat mengetahui keaslian dari sebuah gems dan ia bahkan dapat mengetahui isi material gems hanya dengan melihatnya saja"
"Hmm... dia gadis yang luar biasa, memiliki bakat alami seorang Gemolog" ucap Bachri.
"Terima kasih tuan Bachri, anda terlalu memuji," ucap Liana. Liana melirik arlojinya, waktu sipnya sudah selesai dan ia harus segera melanjutkan perkerjaan utamanya di kantor.
"Pak Rehan, saya undur diri terlebih dahulu...."
Rehan berpaling ke arah Liana, memberikan anggukan pelan, mempersilahkan Liana untuk pergi.
*****
"Tolong aku sampaikan.... pesan ini padanya.... agar dia tahu bahwa kini aku jatuh cinta...." Musik berdendang, suara indah dari salah satu musisi papan atas nusantara manambah suasana nyaman dan damai di rumah.
Liana menganggukan kepalanya mengikuti tiap ketukan lagi yang dinyanyikan oleh pernyanyi favoritnya itu, sesekali Liana ikut mendendangkan lagu. Ini adalah buku ke-3 yang telah dibacanya, sejak tadi pagi. Setelah selesai berbenah Liana akhirnya bisa menikmati waktu liburannya. Waktu liburan adalah waktu dimana ia bisa dengan puas melahap buku-buku yang telah dibelinya.
TEET....TET...TEET....!!
Suara getar hanphone berhasil menghentikan aktivitas Liana, ia melirik dari balik buku yang dibacanya. Liana melihat layar handphonenya, tak ada nama si penelpon hanya ada nomor telpon yang tertera.
Sebenarnya Liana enggan menjawab panggilan telepon itu, apa lagi itu telpon dari kantor... bisa-bisa liburannya sirna karna ada perkerjaan mendadak yang harus ia kerjakan. Liana membuang jauh-jauh pemikiran buruknya itu, ia lalu mengangkat panggilan itu.
"Hallo......"
*****
Mobil honda Jazz putih berhenti disebuah rumah mewah dengan pagar beton dan gerbang yang tak kalah hebatnya. Seorang wanita berumur 22 tahun turun dari mobil honda Jazz putih itu. ia menuju salah satu sisi gerbang lalu menekat tombol pada sebuah kotak putih dengan layar LCD berukuran 3 inci dan berbicara.
"Selamat sore, ini saya... Liana"
"Ohh ya.....akan ku bukakan gerbangnya" tak lama kemudian pintu gerbang terbuka. Wanita itu adalah Liana, ia kembali kedalam mobilnya dan memasuki gerbang, menelusuri halaman yang di sekitarnya terdapat banyak pepohonan yang rindang.
Terlihat seseorang pria paru baya berdiri diteras rumah. Senyumnya mengembang menyambut kedatangan Liana.
"Selamat datang di rumah Bachri Salim, nona Liana....!" ucap Bachri.
"Terima kasih, tuan Bachri atas undangan anda"
Bachri lalu mempersilakan Liana masuk ke dalam rumah mewahnya. Barang-barang antik menghiasi sudut-sudut rumah, menambah ke mewahan si pemilik rumah.
"Bagaimana nona Liana....jadi apa jawabanmu? Apa kau bersedia ikut dalam ekspedisiku?" Bachri menyeruput cangkir tehnya.
^^^...^^^..."Ya... saya akan ikut!" jawab Liana mantap....^^^...^^^