
Awan hitam menutupi seisi cakrawala, membelenggu sinar dari sang matahari. Hempasan angin menerpa pepohonanan rindang dengan kerasnya. Suhu disekitar mulai menurun, hawa dingin mulai terasa disekujur tubuh.
"Fan! Segeralah masuk, badai akan segera datang!" panggilan itu mengejutkan si pemuda yang sejak tadi berdiri terpaku akan perubahan terjadi di alam sekelilingnya. Pemuda itu segera mengemasi perlengkapan beladiri miliknya kemudian masuk kedalam rumah, seperti yang diperintahkan pria paruh baya tadi.
"Aneh sekali.... bukan kah perkiraan cuaca hari ini cerah, ya?" ucap Afan, pemuda berwajah oriental itu menyeka keringat yang menyecur di wajah.
"Hmm.... sepertinya ini bukanlah pertanda yang baik, telah terjadi sesuatu yang buruk diluar sana..." ucap pria paruh baya yang memanggil Afan tadi.
"Yang benar saja? Paman Lie ada-ada aja deh" Paman Lie menatap Afan dengan tatapan tajam, lalu menatap ke arah luar jendela, memandang langit yang semakin gelap.
"Cepat tutup semua jendela dan pintu!" paman Lie segera menutup jendela didekatnya. Seperti yang diperkirakan paman Lie, badai mulai datang. Angin kuat menghantam wilayah singkawang selatan siang ini, diikuti deru hujan dan kilatan petir menyambar silir berganti.
"BZAAARR!!!" Suara petir menggelegar di seluruh angkasa, menambah suasana mencekam dalam badai.
"Badai yang sangat hebat" Afan menyeruput teh hangat miliknya.
"Ini akan berlangsung lama...."
"Sepertinya, Paman"
Badai akhirnya terhenti saat matahari senja bergantikan sang malam, Afan melihat halaman rumahnya. Halaman rumahnya terlihat porak-poranda sehabis di terjang badai, beberapa peralatan rumah yang berada diluar berserakan tak tentu arah, begitu juga ranting-ranting pohon yang patah bertaburan dihalaman rumahnya.
"Badai telah pergi..... menyisakan perkerjaan rumah untukku....." Afan mendesah kesal.
*****
Lie terbangun, tubuhnya dibasahi keringat yang menyucur disekujur tubuhnya. Wajahnya terlihat cemas, ia melirik jam dinding disudut kamar 01.30. Lie mengusap keringat diwajahnya, lalu bergegas keluar dari kamarnya, Lie malangkahkan kakinya kearah pintu utama. Ditangan kanannya sebuah senter terpancar, Lie menyusuri anak tangga menuju ke sebuah kelenteng yang berada dipuncak bukit. Setelah lelah menaiki puluhan anak tangga Lie berdiri mengatur nafasnya yang sejak tadi terpacu. Pandangannya mengarah ke arah kelenteng. Kelenteng yang biasanya hanya diterangi oleh lampu remang-remang kini tampak terang, cahaya berwarna merah terpancar dari dalam kelenteng, alis Lie mengerut.
"Benar dugaanku, ada yang tidak beres" batin Lie, bergegas membuka pintu kelenteng. Pandangan Lie tertuju pada patung Buddha dihadapannya, patung itu lah yang memancarkan cahaya merah dari bawah tubuhnya.
Lie meraih jempol dari tangan patung Buddha dan kemudian sedikit memutarnya
"KREKK!!"
Sebuah celah terbuka dari balik lantai, tepat dibawah patung Buddha. Lie memasukan tangannya kedalam celah, meraih sesuatu didalam sana. Sebuah kotak kayu berukuran sedang kini berada di kedua tangannya. Kotak kayu itu lah yang didapatnya dari balik celah, kotak kayu itu dipenuhi dengan ukiran-ukiran indah khas china dan kotak kayu itu lah yang sejak tadi mengeluarkan cahaya merah yang menyinari seisi kelenteng. Lie kemudian membawa kotak kayu itu dan menyimpannya ditempat yang aman.
*****
Udara sejuk masih menyelimuti pagi hari ini, Afan terlihat sibuk membereskan peralatan dan sampah-sampah ranting pohon yang berserakan dihalaman. Badai kemarin benar-benar sangat hebat, beberapa pohon tumbang maupun patah.
"Wah....Paman Lie! Pagi-pagi udah masak sesuatu yang enak nih!" seru Afan begitu sampai didapur, bergegas ia menyiapkan peralatan makan dan bersiap menyantap sarapan paginya.
"Afan, setelah ini aku ingin membicarakan sesuatu denganmu,"
"Baiklah"
"Mungkin pembicaraan ini sedikit lama, jadi aku ingin kau meliburkan murid-muridmu untuk latihan"
"Sepertinya ini pembicaraan yang serius, baiklah aku akan memberitahukan orang tua mereka melalui sms," Afan kembali melahap sarapannya dengan lahap.
*****
"Afan, sudah saatnya kau menjalankan tugasmu yang sesungguhnya!" Afan menatap paman Lie dengan serius.
"Ini adalah pusaka dari nenek moyangmu yang terdahulu...." paman Lie menyerahkan sebuah kotak berukiran khas China kepada Afan yang langsung dibuka oleh Afan. Sebuah gantungan berbentuk persegi delapan dengan lambang Ying dan Yang ditengahnya yang terbuat dari batu berwarna merah dan hitam.
"Kau harus menjaga baik-baik pusaka ini, ia akan membantu dan memberimu kekuatan untuk melindungimu dan orang-orang yang kau sayangi kelak,"
Afan merasakan perasaan aneh saat memegang pusaka yang diberikan paman Lie, perasaan hangat bersamaan dengan sebuah energi yang sangat kuat mengalir kesekujur tubuhnya.
"Ini bukan barang yang sembarangan...." batin Afan.
"Semua sudah ku jelaskan apa ada pertanyaan?"
"Tidak, paman. Aku sudah mengerti!"
"Bagus! Aku sudah memesan satu tiket ke Jakarta untuk keberangkatan besok, jadi bersiap-siaplah!"
"Ini uang saku selama perjalananmu dan ini alamat Guru Shin Law, dia akan mengajarimu semua yang kau perlukan,"
"Baik Paman!" seru Afan mantap.
Afan mengingat ucapan terakhir paman Lie, saat ia sudah berada didalam pesawat yang ditumpanginya. Afan menatap kearah luar jendela, melihat hamparan luas lautan dan awan-awan yang terlihat seperti kapas yang lembut.
"Dari sini semua akan dimulai....... My Adventure!"
*****