Guardian Stone

Guardian Stone
Ekspedisi



Matahari bersinar dengan teriknya. Hawa panas begitu terasa menyengat kulit, keringat membanjiri tubuh Liana.


"Panasnya...." Liana kembali meneguk air minum yang ia bawa.


"Semuanya! Sebaiknya kita istirahat sejenak!" seru pak Bachri kepada rombongan ekspedisinya. Dengan senang hati Liana segera merebahkan tubuhnya di salah satu pohon rindang, tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Hah.... nyamannya....!" Liana mengipasi wajahnya yang sedikit memerah, karena udara panas.


"Eh... Don! Loe gak kecapean?!" seru Liana kepada sahabatnya Doni. Liana meminta kepada pak Bachri untuk memperbolehkannya mengajak sahabatnya Doni. Alasannya untuk menemaninya selama diperjalanan.



"Lumayan...." jawab Doni duduk didekat Liana. Doni sudah seperti saudara bagi Liana. Doni juga memiliki perkerjaan yang berhubungan dengan apa yang mereka lakukan saat ini, yaitu mencari batu langka. Doni berkerja sebagai pengamat batuan dan geografi bumi.


Liana mengedarkan pandangannya kearah teman-teman rombongannya. Tak ada satupun orang yang dikenalinya. Ia bersyukur bisa membawa Doni kalau tidak siapa yang akan diajaknya ngobrol.


Sebetulnya Liana merasa sedikit aneh dengan rombongan yang dibawa pak Bachri. Hampir semua orang membawa sepucuk senjata, sekalipun mereka menyelipkannya dibalik pinggang atau rompi mereka. Semua itu masih terlihat dimata Liana. Sebagian dari mereka memang sejak awal membawa senjata laras panjang. Mereka bilang untuk berjaga-jaga kalau ada binatang buas.


Beberapa menit kemudian Liana dan semua rombongan melanjutkan perjalanan mereka. Memasuki kawasan hutan, menelusuri pepohonan yang lebat.


Pak Bachri berada didepan rombongan menjadi pengarah perjalanan.


"Kita terus berjalan seperti ini...? apa tuan Bachri tahu lokasi yang kita tuju??" bisik Doni. Berjalan beriringan dengan Liana.


"Entah lah... kita ikuti saja...." jawab Liana.


Mereka semakin jauh memasuki hutan. Pepohonan besar dan tinggi menjulang mengiringi jejak langkah mereka. Pak Bachri menghentikan langkah kakinya. Ia melihat secari kertas yang sejak tadi diperhatikannya. Kertas kusam itu lah petunjuk arah bagi Bachri untuk menuntunnya ke tujuannya.


"Kita sudah dekat dengan tujuan kita!" seru Bachri. Memperhatikan tebing terjal yang ada disebelah kanannya. Bachri meneliti dengan seksama sambil melihat kertas kusam ditangannya.


"Ini dia....!!" ucap Bachri. Ia tersenyum penuh kepuasan, para anggota rombongan pun terlihat bersemangat kembali mengetahui apa yang mereka cari telah ditemukan.


"Bos, apa ini benar tempatnya?" tanya Bobby. Pria berkepala pelontos itu kepada Bachri.


"Iya... tidak salah lagi... aku yakin ini tempatnya!?" ucap Bachri, yakin.


"Sekarang kita hanya perlu mencari patung penjaga gerbang untuk membuka pintu ini!" seru Bachri lagi. Semua rombongan bergegas mencari patung yang dimaksudkan oleh Bachri.


"Ketemu!! Disebelah sini, Bos!!" seru Heru, pria jangkung dengan rompi hijau tua. Heru berhasil dengan cepat menemukan letak patung penjaga gerbang.


"Bagus sekali...." puji Bachri. Ia kemudian menghampiri patung penjaga sambil membawa koper berukuran sedang. Koper itu baru saja ia keluarkan dari tas punggung miliknya.


KLACCK!! Koper itu terbuka, didalamnya terdapat 2 buah batu mulia berwarna ungu bening dan biru gelap. Liana tahu bahwa batu itu adalah batu sapphire yang pernah ia lihat di acara pameran waktu itu.


Mata Liana kembali melihat pancaran aura berwarna biru yang keluar dari batu sapphire, tetapi kali ini tak hanya aura biru tapi pancaran aura berwarna ungu. Pancaran aura ungu itu berasal dari batu ungu yang ada di dekat batu sapphire.


"Aura ungu itu..." batin Liana. Memandang aura ungu yang berpedaran di udara.


Pak Bachri mengambil batu amethyst dan meletakannya ke tangan patung yang ia cari itu. patung itu terlihat seperti seseorang yang sedang duduk bersimpuh dengan kedua tangannya menadah ke depan. Batu amethyst itu bersinar, aura ungu berpedar terang di udara.


Suara gemuruh terdengar, tanah disekitar tempat mereka berada bergetar. Tebing yang ada didekat mereka ikut bergetar lalu ukiran-ukiran kuno tiba-tiba muncul membentuk sebuah gerbang.


GRRRRRRGGGHHHH!!!


Tebing itu terbuka, bagaikan pintu gerbang yang sangat kokoh. Terdapat sebuah lorong panjang, seperti sebuah goa rahasia yang sengaja di sembunyikan dari keramaian. Semua orang terkesima dengan apa yang terjadi.


"Bagaimana bisa?!" batin Liana, tak percaya. Hai ini pula yang menjadi pertanyaan seluruh anggota rombongan.


*****


Dap. . . Dap. . . Dap. . .


Langkah demi langkah ditempuh rombongan Bachri. Mereka masuk ke dalam goa rahasia dari balik tebing. Mereka menelusuri jalan setapak dengan cahaya dari batu-batu yang memancarkan cahaya kehijauan. Batu-batu bercahaya hijau itu tersebar di dinding-dinding gua.


Mata Liana tak bisa lepas dari rasa kagumnya. Tempat ini benar-benar indah.... untuk pertama kalinya Liana merasa sebahagia ini.


"Hei Liana! Ayo ... entar kamu ketinggalan....!" Doni mengingatkan


"Ohh... ya" sahut Liana. Mata liana masih tertuju pada batuan yang bersinar indah itu.


"Dasar....! Anak ini, kalau liat batu bawaannya gak ingat sama sekitarnya" batin Doni.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah hamparan tanah luas. Tak seperti jalan yang mereka lalui sebelumnya yang berupa jalan setapak sempit.


"Jalan buntu!"


"Sudah tidak ada jalan yang lain! Apa kita melewatkan sesuatu??"


"Lah bagaimana ini, Bos?!"


Bachri membuka lembar kertas usang yang di bawanya.


"Em.... ini bukan jalan buntu, tetapi sengaja ditutup untuk melindungi isinya" ucap Bachri. Ia mengeluarkan kopernya, lalu mengambil batu Sapphire. Bachri terlihat mencari-cari sesuatu dan tak lama kemudian ia menemukan sebuah patung di antara tumpukan stalakmit.


Patung itu seperti halnya patung yang berada di pintu masuk, hanya saja pose patung penjaga kali ini berposisi berdiri dengan kedua tangan mengadah keatas. Bachri meletakan batu Sapphire ditangan patung itu.


BBRRRRRGGGGGHHH!!!....


Bumi kembali bergetar, ukiran-ukiran kuno muncul memenuhi di dinding-dinding tebing.


*****