
sesampainya gisel dikamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk itu, menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya kembali.
suasana malam yg sunyi, tiada angin yg berembus membuat gisel merasa serah, ia pun membuka jendela kamarnya lalu menatap langit malam.
"sebenarnya siapa diriku?, kenapa aku gak ingat masa kecilku?,apa orang tuaku tau kalau aku sekarang sudah tak ingat mereka lagi? ". ucap gisel lalu kembali keranjangnya.
trrr trrr trrr
ponselnya berdering, ia segera malihat layarnya "zag? ".lirih nya.
"ada apa zag? ".tanyanya pelan.
"temani aku". suara zag diseberang sana terdengar seperti susah berkata kata.
"baiklah aku akan kesitu".ia langsung memutuskan sambungan telpon dan berlari menuruni anak tangga.
sesampainya dikamar zag, gisel langsung duduk dikursi yang ada disamping ranjangnya sambil membuka buku.
zag memperhatikannya. merasa diperhatikan gisel pun menutup bukunya.
"apa kau tidak ingin tidur? ".tanyanya kesal.
"aku takut kau meninggalkanku".
"dasar anak kecil, aku tidak akan meninggalkan mu". cetusnya.
zag tersenyum mendengarnya, lalu memejamkan matanya.
"kau juga tidurlah, malam semakin larut". ucapnya lirih.
gisel hanya tersenyum simpul lalu mengangguk pelan.
setelah zag yakin gisel benar benar tertidur pulas, ia pun mengusap rambutnya perlahan.
"kau menyebalkan, tapi entah mengapa aku sangat menyayangi mu". katanya lalu mengambil selimutnya untuk menyelimuti gisel.
keesokan harinya....
gisel terbangung, ia mendapati tangan zag diatas kepalanya.
"zag? ".lirihnya.
tak ada jawaban, ia oun menurunkan tangan zag lalu menyiapkan sarapa pagi.
zag terbangun dan ia tak mendapati gisel disana, ia pun berusaha duduk dan meraih ponselnya.
tiba tiba gisel telah ada didepan pintu kamarnya sambil membawa nampan berisikan semangkuk sup dan segelas susu panas.
"kau sudah sarapan? ".tanya zag sebelum sendok yang dipegang gisel memasukin mulutnya.
"Sebentar lagi, yang penting sekarang kamu makan dulu, nanti juga aku bakalan sarapan". ucapnya lalu kembali mengarahkan sendok kemulut zag.
setelah semuanya habis, gisel membersihkan nya lalu membawa semuanya kedapur.
"sepertinya aku harus mengajarinya secepatnya, karna jika tidak , marko akan bertindak semaunya nanti". bati zag.
setelah semuanya beres, gisel pun kembali kekamar zag untuk mengganti perbannya.
"nanti sore kita akan latihan".katanya ketika gisel sibuk mengganti perbannya.
"latihan?, tapi keadaanmu sangat buruk".
"aku tidak apa apa, dan sebaiknya kau serius dalam latihan, jangan biarkan aku menghukum mu ".
"baiklah, aku akan menurutimu".ucapnya sambil membereskan perban bekasnya kedalam kantong plastik.
sore harinya..
"luruskan tanganmu, pertahanan adalah hal paling penting dalam bertarung,". zag meluruskan tangannya sambil mempratikkan gerakan menangkis serangan.
"akhh".zag terjatuh, lukanya masi belum sembuh.
gisel segera menghampirinya.
"kau tidak apa apa? ".katanya sambil membantu zag duduk dikursi taman belakang yang tak jauh dari temoatnya terjatuh.
"biarkan aku istirahat dulu, kau lanjutkan saja latihanmu". zag menyandarkan kepalanya disandaran kursi.
"baiklah, jika kau butuh sesuatu panggil aku". gisel kembali latihan seperti yang diajarkan zag padanya.
waktu semakin cepat berlalu,gisel pun mulai menguasai apa apa yang telah diajarkan zag padanya, namun kekuatannya belum juga terlihat, zag tidak bingung akan hal itu, karena dia juga mengalami hal yg sama sepertinya waktu itu.
"oke, lahtihan hari ini cukup sampai disini, kita lanjutkan besok". ucapnya sambil duduk kekursi taman.
"uhhhh, lelah sekali". keluh gisel.
"ini masi permulaan, yang sebenarnya belum kau alami".zag tersenyum.
"apa?! ".gisel langsung membaringkan dirinya diatas rerumputan.
"ku harap latihan ini segera berakhir".lirihnya.