Guardian's Avenger

Guardian's Avenger
BAB 4



Gisel telah lama tertidur pulas, namun zag belum juga tertidur, ia menikmati suara derasnya hujan diluar sana sambil memperhatikan wajah gisel yang terlihat lelah dan letih lalu memalingkan wajahnya kearah lain.


pikirannya melayang kembali pada saat ia bertarung dengan marko dilapangan sekolah.


"kuberi kau satu kesempatan, serahkan gisel padaku atau kau dan dia akan celaka".marko pergi dengan tawa yang sinis.


zag yang baru saja dikalahkan olehnya berusaha bangkit untuk berdiri.


"sampai kapanpun kau tak akan mendapatkan gisel bahkan seujung kukunya pun, karena dia ditakdirkan untukku bukan untukmu".ucap zag yakin.


"bocah ini!!". marko kembali melayangkan bogem mentahnya kewajah zag.


BUKKK!!!!


zag tersungkur, ia mengusap darah yang mengalir dari ujung bibirnya dengan ibu jarinya.


marko tak lagi menghiraukannya, ia segera pergi dengan cepat. sedangkan zag merentangkan kedua tangannya siatas rerumputan sambil memejamkan matanya.


"aku lelah".lirihnya.


"aku harus sering berlatih, dengan kekuatanku yang segini, tidak akan mudah mengalahkannya begitu saja, aku harus jadi lebih kuat darinya".batinnya.


lalu zag kembali menatap gisel.


"kau menyebalkan tapi juga baik, kau kedinginan namun kau tak mengatakannya padaku".zag menyelimutinya dengan hati hati lalu mengusap rambutnya perlahan.


suara hujan terdengar begitu jelas membuat zag semakin sulit untuk memejamkan matanya, namun tak lama rasa kantuknya pun datang,ia pun menarik selimut yang ada dibawah kakinya lalu tidur kambali.


Pagi pagi sekali, gisel bangun dan menyiapkan segala pekerjaan rumah dengan cepat,mulai dari menyapu,mengepel,menyuci pakaian,memasak,dan lain lain.


setelah semuanya beres, ia pun membawakan semangkuk bubur kekamar zag.


"zag? ".ucapnya sambil meletakkan mangkuk sup diatas nakas.


"karna kau masih tidur, aku ingin kesekolahmu dulu untuk meminta izin bahwa kau tidak bisa masuk sekolah untuk beberapa hari ini ".gisel mengambil ponselnya lalu beranjak pergi.


Mobil melaju dengan kecepatan 60km/jam diatas jalur hitam yang mengarah kesekolah.


ditengah perjalanan, ponselnya berdering,ia pun menepikan mobil untuk menghindari kecelakaan.


"halo? ".ucap gisel sambil meletakkan ponselnya tepat disamping telingannya.


"kau dimana? ".suara zag terdengar cemas.


"perjalanan menuju sekolahmu, ada apa? ". tanyanya cepat.


tak ada sahutan


"halo? ".


"tidak ada, segeralah pulang, aku lapar".


"kau pikir aku bisa makan dengan keadaan seperti ini? ".zag meringis kesakitan.


"baiklah, aku akan segera kembali".jawabnya lalu memutuskan panggilannya.


Setelah mengurus surat izinnya,gisel segera kembali kerumah.


Sesampainya dirumah, ia langsung menuju kamar zag.


"baiklah, aku telah kembali,ayo makan makananmu".gisel langsung duduk diatas kursi yang ada disamping ranjang, mengambil mangkuk lalu mengarahkan sendok kearah zag yang membelakanginya.


"kau terlalu lama".jawab zag acuh tak acuh.


"aku telah berusaha secepat mungkin zag, apa aku salah lagi? ".gisel meletakkan kembali mangkuk itu keatas nakas.


".....".


"kau marah? ".tanya gisel bingung. emosi lelaki memang tidak teratur batinnya


Tak ada jawaban.


"baiklah, jika kau tak mau makan aku akan membawanya kembali kedapur". gisel bangkit sambil membawa mangkuknya.


dengan cepat zag menariknya duduk kembali.


keseimbangan gisel hampir goyah, tapi segera diatasinya.


"kau ini bagaimana sih?,bukannya kau tak ingin makan?, lalu kenapa... ".gisel langsung diam ketika...


"suapi aku makan".katanya sambil melihat kearah lain.


gisel hanya tersenyum geli melihat wajahnya yg merah.


setelah makan, gisel membereskan semuanya lalu kembali kekamar zag dengan sebuah novel yg diambilnya dari perpustakaan pribadi.


"kenapa tidak tidur? ".tanya gisel ketika ia masuk lalau duduk dikursi.


"aku ingin mendengarmu membaca novel". jawabnya.


"apa? ".gisel heran, karna setahunya zag tak pernah suka baca membaca apalagi mendengarkan cerita karangan.


"aku ingin mendengarmu membaca novel". ulang zag.


gisel tersenyum simpul lalu membuka novelnya dari halaman pertama, memebacanya dengan jelas agar zag dapat membayangkan isi ceritanya.


tak lama ketika gisel telah lelah membaca, ia menoleh kearah zag yang tertidur pulas.


"ternyata kau sudah tidur ya, baiklah tidurlah dengan nyenyak ".gisel bangkit lalu pergi kekamarnya.