
Bab 5
Setelah mobil menjauh dari rumah megah Kaira, Deon merasa gelisah. Ia tahu betul kondisi kedua orang tua Kaira yang akhir-akhir ini sering bertengkar sampai memecahkan barang-barang. Gadis itu pasti tertekan.
"Deon!" teriak Kevin membuyarkan lamunan Deon.
Deon melirik sinis. "Apaan, sih, Vin! Gue enggak budeg, ya!"
"Ya, lo-nya sendiri ngelamun aja! Udah dipanggil juga berkali-kali," ucap Anggun membela.
Deon terkekeh. "Sorry, gue kepikiran Kaira," ia lirik ke Kevin lewat kaca spion atas, "dia kan lagi ada masalah sama keluarganya. Gue takutnya dia depresi atau tertekan sementara di rumahnya enggak ada orang di sisinya."
Kevin manggut-manggut membenarkan perkataan Deon. Ia jadi kepikiran gadis manis satu itu. Bukankah selama ini gadis itu tenang-tenang saja dan penuh ceria?
"Tadi juga gue liat Kaira matanya sembab waktu sama lo, Deon, dia habis nangis?" tanya Anggun membuat Kevin mengernyitkan dahi. Sementara Waldo hanya menyimak sejak tadi karena ia tidak suka berbicara panjang lebar.
Deon mengangguk. "Ya, itu dia nangis karena kedua orang tuanya mau cerai, tapi gue masih kurang percaya sih."
"Kurang percaya gimana maksud Lo?" tanya Kevin, kerutan di dahinya semakin bertambah.
"Ya, kan seharusnya dia senang dong pisah dengan mamanya, coba lo yang ada di posisinya? Pasti lo lebih milih orang tua lo pisah, kan, secara lo tahu mama lo sebejad itu."
Anggun dan Waldo manggut-manggut setuju, mereka melirik Kevin, menunggu tanggapan cowok itu bagaimana soal Kaira.
Kevin mengeluarkan handphone dari saku celana kemudian membuka kuncinya. "Coba gue telpon aja, ya, kita tanya dia bareng-bareng?"
"Kayaknya jangan ditelpon deh, dia pasti enggak mau jujur, kita enggak tahu gimana kondisinya kalau lewat telpon," usul Deon.
Kevin melirik Anggun di sebelah kirinya. Cewek itu menggidikkan bahu, ia sedikit menyerong kemudian berbisik, "Coba lo telpon pas udah di rumah, ya walaupun dia enggak mau jujur setidaknya lo bisa dia jadiin bahan cerita."
Kevin mengangguk mantap. Mobil pun berhenti tepat di depan rumah sederhana dengan cat tembok berwarna biru muda. Cowok itu mengamit tas kemudian bertos ria dengan sahabatnya sebelum keluar mobil.
Sampai depan rumah, ia disambut oleh sang Ibu dengan senyum pepsodent dan kedua tangan mengepal di depan dada. Kevin tahu kode-kode sang Ibu, wanita paruh baya berkepala empat yang sedang hamil enam bulan itu pasti meminta anaknya bernyanyi dan menari dahulu sebelum masuk rumah.
"Bu, ini serius Kevin harus nari kemanyu setiap pulang sekolah?" ucap Kevin dengan wajah frustasi bahkan kedua bahunya sudah turun saat sang Ibu dengan polosnya menggangguk ceria.
"Kamu yang nari, ibu yang nyanyi, monggo to Le'," mohon sang Ibu membuat Kevin tidak tega. Baiklah demi jabang bayi dan ibunya yang tercinta, dia rela harus menari kemanyu, awas saja bila besarnya nanti adiknya itu tidak tahu diri, Kevin pastikan anak itu akan menjadi babunya seumur hidup.
***
"Gue rasa, tangisan Kaira ada sangkut-pautnya sama Kevin, bener enggak?" kata Anggun, mendekatkan diri ke dua cowok di depan kemudi.
Deon mengangguk ragu sementara Waldo tetap dengan wajah datarnya.
"Kayaknya iya deh. Soalnya gue keinget dari dulu, Kaira nangis sama gue pasti masalahnya karena cemburu sama Kevin yang lebih merhatiin orang lain dibandingkan Kaira."
Waldo mengernyitkan dahi, ia spontan menoleh ke Deon. "Lo yakin, Deon?"
Deon dan Anggun menoleh ke Waldo. Deon mengangguk yakin, kemudian dia fokus menyetir kembali.
"Apa si Kaira cemburu sama Asvra karena Kevin selalu merhatiin adek kelas itu?" Anggun mengelus dagunya, berpikir.
Waldo mengangguk membenarkan saat Deon meliriknya. Cowok berhodie hitam itu memandang ke depan, ia jadi kepikiran soal ini. Kesimpulannya Kaira cemburu kepada Asvra, tetapi apa yang mendasari rasa cemburunya itu?
Tiba-tiba mata Waldo terbelalak, ia menoleh ke Deon yang mendadak menghentikan mobilnya bersamaan dengan Anggun yang melotot juga.
Mereka bertiga saling pandang lalu berkata serempak, "Kaira suka sama Kevin!"
Mereka serempak menghela napas panjang, ini akan menjadi persoalan yang rumit. Di mana Kaira menyukai Kevin sedangkan cowok itu menyukai Asvra, lagipula persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bertahan lama entah karena salah satunya mencintai atau saling mencintai. Ternyata benar, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan bila salah satu di antara mereka mudah baper.
"Nggun."
"Kenapa Do?"
"Kalo lo?"
Waldo melirik ke belakang. "Lo suka sama siapa?"
Anggun melotot, jelas dia tidak mungkin jujur jika dia saat ini masih gamon alias gagal move on dengan mantannya itu. Dia lebih memilih berdehem dan memandang keluar jendela.
"Lo suka mantan, ya? Upss," ucap Waldo dengan senyum smirk-nya.
Sedangkan Deon sudah tertawa sampai terbahak-bahak, jelas sekali sindiran Waldo untuk mengejek gadis itu sukses besar. Dapat ia lihat wajah memerah Anggun di balik kaca spion atasnya.
Anggun langsung menjambak rambut Deon dan Waldo hingga membuat Deon menjerit dan Waldo yang meringis.
"Lepasin, Nggun, ntar kita nabrak kalau lo jambak gue!" ucap Deon berusaha melepaskan diri.
Anggun melepaskan jambakannya kemudian mengambrukkan punggung ke sandaran kursi mobil sambil berdecak kesal.
Mobil berhenti tepat di depan pagar kayu yang melapuk berwarna coklat, di mana rumah bercat putih itu milik Anggun. Rumah sederhana dengan banyak tanaman bunga di sekelilingnya. Anggun menggendong tasnya dan mengucapkan terimakasih kepada Deon dengan nada judes.
Tinggallah di perjalanan hanya ada Deon dan Waldo. Beberapa menit sunyi melanda karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampailah akhirnya mereka di sebuah rumah dua lantai dengan cat telur asin. Deon memencet klakson kemudia gerbang hijau itu terbuka lebar, senyum ramah satpam menyambutnya.
Deon memarkirkan mobil kemudian membuka pintu dan masuk rumah. Tampak rumah sepi, hanya ada pembantunya yang sedang bersih-bersih. Deon pun mengajak Waldo langsung ke kamar mereka saja.
"Ah ... capek banget gue," gumam Deon seraya mengambrukkan badan ke atas ranjang. Ia melentangkan posisi kemudian menatap Waldo yang melepas sepatu serta menyusunnya di rak, cowok itu sangat rapi dan rajin. Terlihat dari tempat pribadi Waldo yang rapi dan bersih, berbanding terbalik dengan Deon yang berantakan.
"Do ...."
Waldo melirik Deon sekilas kemudian kembali fokus mengeluarkan buku-buku dalam tasnya kemudian menyusunnya. "Soal Kaira?"
Deon terkekeh, bagaimana bisa Waldo mengetahui apa yang ingin dia tanyakan. "Cocok banget lo jadi cenayang."
Waldo hanya tersenyum tipis, kemudian mengambil handuk dan turun ke lantai satu.
"Deon?"
Cowok itu tersentak saat suara sang Ibu terdengar di depan pintu. Dia langsung bangun dan tersenyum kepada ibunya. "Dari mana, Mah? Tadi Deon liat rumah sepi banget, papa belum pulang kerja?" tanya cowok itu dengan lembut.
Delvira menghampiri anak tunggalnya kemudian tersenyum samar, ia duduk di samping Deon lalu mengelus rambut anaknya dengan sayang. "Mama mau bicara serius sama kamu, ini soal Waldo."
Seketika senyum Deon lenyap, mimiknya langsung berubah. "Waldo kenapa, Mah?"
Mamahnya menunduk sebentar kemudian saat mendongak, pelupuk matanya menggenang. Deon yang panik langsung mengusap bahunya.
"Mah? Waldo kenapa?"
Mamahnya malah terisak karena dadanya terasa sesak sampai ia tidak bisa menahannya lagi. Dengan terbata, ia berkata, "Waldo ... ayah dan ibunya meninggal dunia karena kecelakaan."
Prang!
Deon dan Delvira terkejut saat ada benda yang terjatuh, ternyata di depan pintu Waldo tampak berdiri kaku dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan lagi.
***
Kevin merebahkan diri di kasurnya, ia meraih handphone dan mencari nomor Kaira, kemudian mencoba menghubunginya, tetapi sudah lima kali panggilan gadis itu tak kunjung mengangkatnya. Cowok itu menjadi panik, ia takut terjadi sesuatu kepada gadis itu.
Kevin bangun, menyambar jaket kulit hitamnya lalu berjalan cepat keluar kamar. Di ruang tamu ada sang ayah yang sedang menonton berita, pria kurus itu menatap anaknya dengan alis bertaut. "Edan, mau ke mana koe?" tanyanya.
Kevin menyambar tangan kanan sang ayah untuk diciumnya lalu mengamit kunci motor di atas meja. "Minjem motor, aku mau ke rumah temen, sebentar aja," ucapnya seraya berjalan tergesa keluar.
Kevin mengeluarkan motor supra milik ayahnya itu lalu menghidupkannya dan mengendarainya di jalan dengan ugal-ugalan sangking paniknya dengan kondisi Kaira saat ini.
"Kaira ... lo kenapa, sih? Tumben banget lo kayak gini," monolognya.