
"Kevin! Balikin buku gue!" Kaira berkacak pinggang seraya menatap lawan bicaranya dengan hasrat membunuh. Sedangkan cowok di depannya terkekeh bahkan dengan santainya mengoper buku itu ke orang lain.
"Andre, tangkap!"
Buku ber-cover biru laut itu melayang hingga berpindah tangan, Kaira mengumpat saat Andre dan Kevin mempermainkannya.
Hingga akhirnya Deon datang dan merebut buku Kaira. "Kalian ini seneng bener gangguin cewek," ucapnya.
Kaira tersenyum penuh kemenangan karena dia merasa dibela oleh Deon. Namun saat tangannya terulur hendak meraih bukunya, Deon malah melempar ke orang lain membuat Kaira menganga dengan mata melotot.
"Anj*rlah kalian sama aja!" pekik Kaira kesal, napasnya sudah memburu, ibarat di film-film kartun pasti kedua telinganya memerah dan mengeluarkan asap.
"Astagfirullah jangan gitu dong, Deon, Kevin, kasihan Aira," ucap Anggun tanpa menoleh ke mereka, matanya fokus membaca buku.
Deon, Kevin dan yang lain tertawa puas menyaksikan raut kesal Kaira. Deon yang merasa kasihan langsung mengambil buku Kaira lalu menyerahkannya sambil tersenyum hangat.
"Maafin kita, ya, Ki," ujar Deon memasang raut sok sedih.
Kiara merebut bukunya dengan raut masih sama. "Kok nama gue jadi 'Ki', sih? Lo pikir nama gue batu aki apa?" protesnya.
Deon tertawa renyah hingga menambah kadar kegantengannya, Anggun yang duduk di pojok kelas sambil menyontek saja sampai terpesona.
Tiba-tiba kepala Kaira diusap-usap dengan penuh kasih sayang hingga membuat Kaira tertegun. "Maafin kita, ya, Kaira yang cantik," ucap Kevin.
Kaira yang dipuji seperti itu lantas menunduk dalam, ada perasaan membuncah di hatinya, seperti ribuan kupu-kupu terbang di perutnya, aneh sekali perasaan ini. Tidak tahan dengan perasaannya, Kaira berlari dan duduk di kursinya yaitu di kursi samping Anggun.
Melihat tingkah Kaira membuat Deon dan Kevin tertawa, mereka tahu bahwa Kaira sedang salah tingkah.
***
"Lo mau apa, Aira? Nggun? Deon?" Baru saja mereka duduk di kantin, Kevin dengan lagaknya mengeluarkan dompet kulit berwarna coklat yang sudah usang lalu melemparnya ke atas meja, wajahnya yang sok cool malah menjadikan kesan lawak bagi teman-temannya.
"Lo mau neraktir kita?" tanya Kaira dengan mengangkat kedua alis.
"Enggak mungkin, Kevin, mau neraktir, dompet dia aja isinya cuma lalat ijo tuh," cibir Anggun kemudian tertawa sampai gigi kelincinya terumbar.
"Krik-krik krik-krik ...," sindir Kevin karena lawakan Anggun yang tidak lucu sama sekali. Kemudian Anggun berdehem lalu sibuk menepuk-nepuk di sekitarnya.
"Nepuk apa lo, Nggun? Arwah nyamuk?" canda Kaira kemudian terkekeh dengan tingkah absurd temannya itu.
"Menepuk bayang-bayang mantan terindah yang masih menempel di kepala," senandung Deon membuat semua tertawa karena wajah Anggun berubah menjadi merah padam. Fyi, Anggun itu memiliki mantan terindah yang juga satu sekolah dengannya, baru pacaran sejam sudah putus saja karena cowoknya ilfil dengan tingkah Anggun.
"Mana dulu alasan ngajak putusnya gini, 'maaf, aku kira kamu anggun, seperti namamu, tapi setelah tahu kamu suka manjat pohon pinang saat acara tujuh belas Agustus, aku jadi ilfil,' ha ha ha ...," kata Kaira sambil menirukan logat mantan Anggun dengan suara yang diberat-beratkan membuat Kevin dan Deon tertawa.
"Is! Itu, kan dulu, Aira! Jangan diungkit mulu, gue malu set*n!" Anggun yang tidak terima dibully kemudian menjewer telinga Kaira hingga mengaduh.
"Astagfirullah, istigfar Anggun, masa' ngatai temen setan, enggak boleh begitu," nasihat Deon sok bijak, meniru nada bicara Anggun yang biasanya suka menasehati.
"Duh, sakit, Nggun!" Kaira langsung menarik tangan Anggun hingga jewerannya terlepas. Gadis itu melirik Kevin yang sejak tadi diam.
Ternyata cowok itu sedang memerhatikan adik kelasnya yang duduk di pojok kantin bersama teman-temannya. Kaira mengikuti pandangan Kevin, ia menemukan seorang gadis dengan poni tail dan dikuncir kuda itu sedang asik mengobrol. Kevin memerhatikan adik kelasnya itu dengan penuh damba.
Brak!
"Apaan, sih, lo!" ucap Kevin sedikit kesal.
"Lagian lo kenapa liatin ke sana? Orang kita lagi seru-seruan di sini, mata lo malah ke sana-sana," ujar Deon sambil menggeleng kecil.
Waldo datang membawa dua nampan berisikan pesanan Anggun dan Kaira, di belakangnya ada ibu-ibu penjual membawa nampan pesanan Kevin, Waldo dan Deon.
Waldo ikut bergabung bersama mereka kemudian tersenyum tipis saat Anggun mengatakan terima kasih.
"Kayaknya si Kevin suka sama adik kelas tuh," ujar Waldo tiba-tiba membuat Kaira langsung terdiam dan menatap was-was Kevin. Ada yang gadis itu takutkan, ntah apa, yang pasti dia tidak akan mendukung bila Kevin benar-benar menyukai adik kelasnya itu.
Kevin menggidikkan bahu. "Dia cantik, cuma cuci mata aja, sih, masa' enggak boleh? Lo juga pasti demen yang bening-bening."
"Iya, juga, sih. Cantik tuh adik kelas terus anggun juga, enggak kayak Anggun yang sangat tidak angguly," ucap Deon membuat sendok garpu melayang hingga mengenai dadanya. "Ampun, Ndoro."
Lalu mereka tertawa melihat tingkah mereka. Di sela-sela tawa, pikiran Kevin dan Kaira berkecamuk. Ntah karena Kevin merasa ucapan Waldo benar dan Kaira yang merasa jika ucapan Waldo benar maka perasaan yang gadis itu miliki sepenuhnya salah.
Mereka itu sahabat, jika ada perasaan di antara persahabatan laki-laki dan perempuan maka perasaan itulah yang akan menjadi boomerang besar dalam persahabatan mereka.
_"Vin, please, kalau lo suka sama cewek jangan sama dia, gue enggak rela bangs*t!"_ gumam Kaira dalam hati sambil menyesap es jeruknya.
_"Kalau gue beneran suka sama adik kelas itu gimana? Gue masih malu buat ngungkapin, ini pertama kalinya gue liat cewek seseneng ini sampe dada gue berdebar-debar, rasanya gue mau nari India, bolle canea bolle kanggena ...,"_ monolog Kevin sambil menyesap es cincaunya sambil tersenyum-senyum.
Deon yang duduk di sebelah Kevin mengernyitkan dahi. Spontan ia menempelkan punggung tangan ke dahi Kevin membuat cowok itu menoleh ke Deon.
"Lo panas, Vin, sejak kapan lo demam malaria?" Deon lalu mendekap kepala Kevin membuat cowok itu memberontak.
"Asem! Bau badan lo! Makannya pake deodorant!" umpat Kevin seraya menggelitiki perut Deon.
"Ah, eike genit sekali sama seme, jangan gitu ih geli banget tahu," ucap Deon dengan nada dibuat imut, gayanya sudah seperti waria lampu merah dengan tangan melentik hingga membuat Kevin berlagak ingin muntah.
Kaira dan Anggun tertawa terbahak-bahak, mereka sudah tidak peduli menjaga image di depan laki-laki. Bahkan bahu Waldo menjadi sasaran empuk pukulan Kaira yang tidak tanggung-tanggung membuat cowok itu meringis.
***
"Vin, lo beneran cuma demen ngeliat dia karena cantik bukan karena emang lo udah jatuh hati?"
Kevin mengernyitkan dahi, menatap Kaira heran. "Memangnya kenapa?"
Kaira terdiam. "Kenapa apanya?"
Kevin maju selangkah membuat Kaira mundur hingga punggungnya mentok di dinding toilet yang dingin.
"Memangnya kenapa, kalau gue suka sama dia?" Kevin tersenyum smirk.
"Ya-ya, gue nanya aja sih, emang enggak boleh?" Kaira gugup sampai jantungnya memompa kuat.
"Lo cemburu, Aira?"
Kaira sontak melotot dan menatap Kevin yang menyipitkan mata.
_"I don't know, Kevin," balas Kaira dalam hati._