Gray Friendship

Gray Friendship
Awal Mula



Bab 1


Seorang gadis kecil yang mengenakan rok biru dan baju putih khas anak TK berlari dengan tawa riang mengiringinya. Di belakang gadis berambut pendek dengan nama Kaira Selviana ada anak laki-laki dengan potongan rambut mangkok mengejar, Kevin Andriano namanya, wajah mereka tampak begitu ceria.


"Aira awas ada Deon ...!" teriak gadis kecil seumuran Kaira dengan suara cempreng itu bernama Anggun Kesya. Gadis itu takut Kaira tertangkap oleh dua anak laki-laki di taman kompleks siang itu. Mereka sedang asik bermain kejar-kejaran.


Kaira menoleh ke samping selepas Anggun berteriak, mencari sosok yang bernama Deon hingga akhirnya ia tersandung batu dan kehilangan keseimbangan.


"Aduh, Mamah!" pekik Kaira saat perih ia rasakan di kedua lutut kemudian menangis.


"Kaira!" teriak Deon dan Kevin bersamaan, mereka langsung menghampiri Kaira dengan panik sedangkan Anggun melotot dan segera mengambil dedaunan.


"Hua ... sakit!" Kaira menangis tersedu-sedu sambil memegang kaki, kedua lututnya berdarah.


Kevin dan Deon berjongkok di depan Kaira. Kevin meniup-niup luka Kaira dan Deon mencoba menenangkannya. Anggun kemudian menghaluskan daun lalu menempelkan ke luka Kaira agar darahnya berhenti mengalir.


Srek!


Kevin, Deon, Kaira dan Anggun menoleh ke suara kain yang dirobek. Ternyata anak laki-laki dengan raut datar itu merobek lengan baju sekolahnya lalu berjongkok di depan Kaira dan mulai melilit lukanya dengan telaten.


Kaira berhenti menangis kemudian tersenyum, "Makasih Aldo!" katanya.


Waldo Kalvindo hanya mengangguk kecil lalu berdiri diikuti oleh Anggun. Kaira dibantu berdiri oleh Kevin.


"Temen-temen ... makasih, ya, udah nolongin Aira," ucap Kaira tulus sambil merentangkan kedua tangan lebar-lebar kemudian Anggun, Kevin dan Deon memeluk Kaira. "Aldo, sini!" ajak Kaira kemudian Waldo ikut memeluk dengan berat hati.


"Janji, ya, kita jadi sahabat selamanya?" ucap Kaira lebih mirip permohonan yang diangguki oleh Kevin, Deon, Anggun dan Waldo.


"Janji!" teriak Kevin, Deon dan Anggun, sedangkan Waldo hanya bergumam.


Sebelas tahun kemudian ....


Gadis berambut pendek itu berlari menyusuri gang kompleks dengan permen lolipop di mulutnya.


"Kaira!"


Mendengar namanya dipanggil membuat gadis itu menoleh ke belakang dan ia kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. "Duh!" ringis Kaira kemudian terduduk. Lutut yang dibalut rok abu-abu itu kotor terkena tanah.


Saat sedang membersihkan rok kemudian berusaha berdiri, kepalanya ditoyor seseorang dari belakang membuat Kaira mengumpat saat tahu siapa pelakunya. "Kampret lo Kevin!"


Cowok yang diteriakkan Kevin itu terkekeh dan berlari mendahului, meninggalkan Kaira.


"Kaira, tungguin gue!" teriak seseorang lagi dari belakang membuat Kaira enggan menoleh karena takut terjatuh kembali.


"Udah telat! Cepet!" balas Kaira berteriak kemudian berusaha mengalahkan larinya Kevin.


Tin! Tin!


Klakson mobil menghentikan aksi lari-larian mereka bertiga. Mobil avanza hitam itu berhenti kemudian pintu kaca depannya terbuka, nampaklah seorang cowok berkulit kuning langsat, berhidung mancung, mata sipit, rahang tegas, alis rapi dan bibir manis yang melengkung ke atas, tampan, Deon namanya.


"Butuh tumpangan enggak, nih?" canda Deon menatap mereka bertiga. Di samping Deon ada cowok yang memakai hodie hitam, berkulit putih, berambut keriting, hidung mancung, wajah tegas, alis tebal dan bibir pink kehitam-hitaman itu bermain game di ponsel dan hanya melirik sekilas interaksi mereka lalu kembali cuek, Waldo namanya.


Cowok tinggi dengan potongan rambut cepak itu membuka pintu penumpang lalu duduk santai seolah itu mobil miliknya sendiri.


"Enak banget lo, Kep, udah main masuk aja!" ucap Kaira yang masih kesal dengan Kevin. Kemudian Kaira menyusul masuk.


"Kep-kep-kep-kep, lo pikir nama gue Kepot apa? Nama gue tuh Kevin yang paling ganteng sedunia, baik, ramah, tidak sombong dan banyak--"


"--bacotnya!" potong Kaira dengan raut ingin muntah.


"Iya, awas aja lo ntar klepek-klepek sama gue!" ujar Kevin dengan songongnya.


"Najis banget gue suka sama lo!" Kaira melotot.


Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang kemudian lama-lama semakin cepat bahkan mobil melaju dengan ugal-ugalan sampai dikejar polisi.


"Anj*r! Dikejar polisi bego!" ucap Kaira panik.


"Santai aja," ucap Deon dengan smirk. Ia menginjak pedal rem kemudian membanting stir ke kanan lalu menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi hingga polisi terjebak di antara ribuan pengendara lain.


"Widih, keren juga lo, tapi lebih kerenan gue!" ucap Kevin sedikit takjub.


"Dasar Kekep!" ledek Kaira sambil berdesis sinis.


"Apa, sih, Sayang, sirik aja," goda Kevin sambil mengerling membuat Kaira berlagak ingin muntah.


"Huek! Muntah berlian nih gue bisa-bisa."


"Berisik!" Waldo yang sejak awal diam baru membuka suara karena ia terganggu saat main game.


"Aaa ... Babang Aldo enggak asik!" ucap Kevin dengan nada dibuat manja hingga membuat orang di mobil berlagak ingin muntah.


"Huek!"


"Jahat banget, sih, kalian menistakan diriku yang ganteng ini," ucap Kevin sambil pura-pura mengelap air mata palsu di ujung mata kiri.


"Bacot!"


Sesampainya di depan sekolah ternyata gerbangnya sudah tertutup. SMAN 6 Jaya sudah tutup sejak pukul delapan pagi dan sekarang sudah pukul sembilan.


"Ini sudah kesekian kali kalian berlima terlambat! Kok bisa barengan gini? Kalian memang janjian?" tutur Pak Samsud selaku guru BK. Guru gendut itu sudah lelah, letih dan lesu menghadapi kelima siswanya yang bolak-balik masuk BK dengan alasan terlambat.


"Kita, kan satu circle, Pak," sahut Kevin dengan percaya dirinya.


"Satu hati," sambung Kaira.


"Satu pikiran," sambung Anggun.


"Satu untuk semua dan," sambung Deon.


"Kompak," sambung Waldo dengan wajah datar, khasnya.


"Yoi, bro!" Mereka berlima lalu bertos ria.


Pak Samsud akhirnya mengusir mereka dan menyuruhnya menjalankan sanksi yaitu membersihkan lapangan yang luasnya seperti setengah lapangan pesawat tempur.


Kevin yang sejak tadi mengeluh dan ambruk karena kelelahan tiba-tiba segar kembali karena melihat adik kelasnya yang sedang berolahraga. Matanya yang semula menyipit terkena sinar mentari pagi langsung melotot melihat salah satu adik kelasnya.


Tiba-tiba ada tangan yang menutup pandangan hingga membuat bulu matanya masuk ke rentina hingga menyebabkan perih. Kevin langsung menyentak tangan itu.


"Astagfirullah Pak Kep, matanya tolong di kondisikan, ya," cibir Kaira membuat Kevin langsung mengalungkan leher gadis yang hanya setinggi dadanya itu dengan ketiak. "Astaga, Kekep! Bau kampret!"


"Nah, mamam tuh ketek, ha ha ha!" Di sela-sela tawanya, Kevin sedikit menoleh ke salah satu adik kelasnya yang melakukan pemanasan. Hingga ia dan adik kelasnya itu bersitatap membuat Kevin deg-degan.


Inilah mereka, persahabatan yang dimulai sejak usia dini hingga beranjak dewasa, mengarungi banyak lembah permasalahan bersama-sama dan berjanji akan saling membantu juga berjuang sama-sama. Namun, siapa yang bisa menebak bahwa di antara mereka pasti akan menemukan pasangan dan menjadikannya prioritas hingga bimbang menghampiri, ingin memilih tetap bersama orang terkasih atau sahabat sejati?