
Bab 4
"Sialan! Lo pikir gue takut?"
Kevin menyeka darah yang keluar dari hidungnya akibat ditinju adik kelasnya yang bernama Samudra. Cowok itu membalas dengan mencengkram kedua kerah baju Samudra hingga kusut, tatapan keduanya saling beradu tajam.
Waldo datang bersama Anggun dari atas, seseorang guru berperawakan sangar menghampiri lalu memisahkan Kevin dan Samudra, membawa dua belah pihak itu ke ruang BK.
Mendengar kabar Kevin masuk BK, Kaira dan Deon menghela napas. Kaira semakin cemas dengan perasaannya, dia tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu, Kaira tahu betul bagaimana Kevin, sifatnya bahkan caranya berjalan. Kevin tidak akan suka berkelahi jika tidak ada sesuatu yang mendorongnya untuk turun tangan.
Deon menatap Kaira yang termenung di sepanjang kooridor sekolah menuju kelas mereka. Deon tahu, Kaira sedang ada masalah berat, tetapi masih ada yang mengganjal di hatinya seperti Kaira menyembunyikan sesuatu mungkin?
Deon ingin menanyakan sesuatu itu, tetapi takut semakin merusak suasana hati gadis itu sehingga yang dia lakukan sekarang hanya merangkul dan mengusap bahu gadis itu agar lebih tenang.
Mereka duduk di kursi masing-masing, kelas saat ini sedang jam kosong, sepuluh menit lagi pulang sekolah. Anggun dan Waldo datang bersama Kevin.
Kevin, cowok itu meringis seraya memijat rahangnya yang terasa kebas akibat tinjuan adik kelasnya itu. Ia berkelahi karena cowok itu mengatai gadis yang bernama Asvra Seyna sebagai wanita malam. Kevin terlanjur emosi, ternyata itu alasan Gevan--sepupu Asvra, membela gadis itu hingga perkelahian pun terjadi. Kevin geram lalu menggantikan posisi Gevan untuk menghajar Samudra.
Kaira dihampiri Anggun. "Lo tahu enggak, sih, Kaira? Si Kevin bikin onar! Gila tuh anak, ngebelain adik kelas yang jelas-jelas enggak dia kenal, buat apa?" dumel Anggun sambil menatap Kevin prihatin.
Kaira menatap Kevin di ujung sana yang duduk di atas meja Deon, cowok itu masih sanggup tertawa meski ada ringisin ketika mendapat ejekan dari teman-temannya. Saat tatapan mereka beradu, detak jantung Kaira berpacu cepat, apalagi ketika Kevin tersenyum tipis seraya mengangkat tangan dengan menyatukan jempol dan telunjuk seperti memberikan kode "oke" padanya.
Kaira balas tersenyum lebar, Kevin itu sahabatnya dari kecil, mereka akan terus seperti itu. Ada perasaan, saling mencintai, menyayangi layaknya sepasang kekasih? Tidak mungkin itu terjadi pada mereka. Seharusnya Kaira cukup tahu diri saat ini, sahabat tetaplah sahabat.
"Sabar, Aira."
Kaira mendongak ke kanan, ternyata ada Waldo yang mengucapkan itu seraya tersenyum tipis. "Ho'oh tenan, punya beban kayak Kepin itu perlu kesabaran tingkat dewa," sahut Kaira sambil tertawa, puas melihat mimik Kevin yang kesal.
Kaira sebisa mungkin menyembunyikan perasaan yang sebenarnya pada sahabat-sahabatnya yang lain. Dia tidak ingin ada yang tahu masalah ini, masalah hatinya.
"Dasar Mak Lampir! Beban-beban gini, gue pernah jadi idaman mama lo," ucap Kevin seraya menguyar rambutnya membuat siswa yang lain menyorakinya.
Kaira terkekeh kecil, dulu memang mamanya pernah--ah ralat, wanita bejad itu mengatakan bahwa ia menyukai Kevin saat mereka mengerjakan tugas kelompok di rumah Kaira. Mereka saat itu hanya tertawa jenaka, mereka pikir wanita itu hanya bercanda semata, tapi siapa yang mengira ternyata diam-diam Kevin di-chat oleh wanita itu.
Awal chatingan memang masih biasa-biasa saja, tapi lama-lama wanita itu semakin menggoda Kevin sampai membuat Kevin jijik. Saat itulah Kaira tahu sebejad apa wanita itu. Bahkan temen Deon di kelas sebelah juga pernah hampir tidur dengan wanita itu.
Cukup tahu saja sekarang, Kaira benar-benar senang saat ayahnya memutuskan akan cerai dengan wanita itu.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Kaira, Kevin, Deon, Waldo, dan Anggun memasuki mobil Deon. Sepanjang jalan diisi oleh candaan Deon dan suara ribut Kevin dan Kaira.
"Eh, besok malam minggu, ya? Asiknya kita nongkrong di mana, ya, guys?" tanya Deon seraya menatap ke spion atas mobil kemudian fokus menyetir.
"Gimana kalau kita ke gunung? Kan, malam-malam seru tuh kemah ... cuma kita berlima aja sampai hari rabu?" usul Kevin dengan kedua alis terangkat. Menatap penuh gembira ke Anggun, Kaira, Waldo, dan Deon. Kevin duduk di tengah-tengah Kaira dan Anggun.
"Asik juga tuh, kapan lagi kan kita hangout bareng? Gue setuju!" ucap Anggun tersenyum senang.
"Kalau menurut gue sih ... bagus tuh! Kemah berlima hi hi," kata Deon, "kalau menurut lo gimana, Do?"
"Menurut lo gimana, Kai?" Kevin menyenggol lengan Kaira hingga menghentak gadis itu sampai dahinya menghantam kaca pintu mobil.
Kaira meringis seraya mengusap dahi lalu menatap kesal pada Kevin. "Sialan lo, Kep!" umpatnya kemudian menjambak Kevin yang tertawa.
"Lo, sih, ngelamun aja! Enggak baik loh melamun, Kai," ucap Kevin setelah jambakannya terlepas, tangannya mengusap-usap rambut agar kembali rapi.
"Nanti ada yang rasukin loh, Aira," ucap Anggun membuat Kevin tersenyum kemenangan, Kaira hanya mendengus lalu melipat kedua tangan dan memandang ke luar jendela.
Kalau dipikir-pikir, bisa saja dia ikut hangout bersama apalagi katanya untuk senin depan sudah libur sampai hari kamis. Kaira memandang Kevin, Anggun, Waldo, dan Deon yang kini menatap dirinya. Gadis itu mengangguk mantap membuat mereka bersorak.
"Yey!"
Deon dengan semangat mengajak tos ria pada Waldo, Kevin, Anggun, dan Kaira. Dia bersorak senang, membayangkan akan kemah di malam minggu bersama sahabatnya. Akhirnya malam minggu kali ini dia tidak akan nganggur menyekrol tiktok dari sore hari sampai dini hari.
"Yaudah, gue masuk rumah duluan, ya, guys!" ucap Kaira dan membuka pintu mobil karena memang sudah sampai gerbang rumah Kaira yang tinggi dan megah.
Kaira berdiri di depan gerbang, melambai pada sahabat-sahabatnya sambil tersenyum sampai mobil Deon mulai hilang dari pandangannya, barulah ia membuka gerbang rumahnya.
Gadis itu mengeluarkan earphone dari saku rok abu-abunya kemudian memasangnya sambil menaiki tangga teras. Ia membuka pintu dan masuk tanpa mengucap salam. Dia pikir untuk apa mengucap salam kepada mereka yang sedang bertengkar hebat sampai barang-barang mewah hancur berserakan?
Bahkan pembantunya enggan untuk menyambutnya datang karena keributan kedua orang tua Kaira di ruang tamu.
"Talak aja dia, Yah, enggak guna wanita murahan kayak dia," ucap Kaira dengan nada sinis pada wanita paruh baya yang memakai pakaian bermerk mahal.
Salma--istri ayahnya, menepuk tangan sambil tertawa sinis. "Dasar anak durhaka kamu! Ini hasil ajaran kamu, Mas? Putriku sendiri mengataiku? Melawanku? Kurang ajar! Saya akan pergi dari sini!" ucapnya dengan urat-urat leher yang menonjol akibat suaranya yang mengeras.
Ayahnya Kaira--Pak Rohmat, menelan saliva lalu membuang muka. Kedua tangannya menggenggam kuat sampai buku-buku tangannya memutih, urat-uratnya di sekitar wajah yang keriput dan lehernya terlihat penuh amarah. "Aku talak kamu, aku talak kamu, aku talak kamu, Salma," ucap Pak Rohmat kemudian bergegas pergi keluar rumah.
Lantunan lagu dari Rosa Linn berjudul Snap tidak mampu menghambat pendengarannya dari kerasnya suara kedua orang tuanya yang kini sudah berpecah-belah. Langkah higheels hitam milik Salma menggema di ruangan itu, wanita itu melangkah membawa satu koper keluar rumah.
Kaira terkekeh pelan, pelayannya yang memakai pakaian maid dengan warna hitam dipadukan warna putih itu mulai berdatangan dan membereskan kekacauan yang terjadi.
Gadis itu menatap kosong pintu besar rumahnya. Ia memiliki uang, fasilitas mewah, semua ia miliki, tetapi ia tidak memiliki keluarga yang utuh seperti Deon atau keluarga yang harmonis seperti Anggun atau keluarga seramah Kevin, ia juga tidak seberuntung itu dalam hal percintaan. Ia memiliki banyak mobil mewah, tetapi tidak pernah sekali ia gunakan untuk ke sekolah demi agar bisa menyetarakan dengan sahabat-sahabatnya.
Nyatanya sekarang, keluarga yang ia punya tinggal empat sahabatnya yaitu Anggun, Deon yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, Waldo, dan Kevin--cowok yang ia taksir.
Kaira tidak mau egois menguasainya, kali ini dia benar-benar hancur dalam hal percintaan dan keluarga. Gadis itu berlari ke lantai dua dengan air mata yang terus mengalir sampai ia terisak.
Sampai di kamar, Kaira membuka pintu lalu melempar tas asal dan menghempaskan tubuh ke kasur king size biru dongker dengan motif astronot. Membenamkan wajah di atas bantal lalu meraung sekuat-kuatnya sampai ia lelah dan tertidur.
Drtt.
Di dalam tasnya, hp gadis itu bergetar-getar sampai semenit kemudian berhenti dan kembali bergetar berulang-ulang sampai lima kali.
Panggilan tidak terjawab dari Kevin.