
Kaki berbalut sepatu snakers hitam dengan garis putih di bagian pinggir melangkah dengan terburu-buru seolah-olah ada badai yang memburunya. Rambut pendeknya berayun mengikuti hentakan pada tubuhnya.
Bulir bening mulai menetes dari pelupuk mata kanannya kemudian disusul pelupuk mata kiri. Punggung tangan kirinya mengusap bulir-bulir itu dengan kasar. Kakinya berhenti melangkah tepat di depan perpustakaan kemudian ia masuk lalu mengisi absen.
Kembali melangkah, ia menemukan seorang cowok berdiri di antara rak buku-buku paling pojok. Matanya kembali berbinar basah, kakinya melangkah lebar lalu menghambur kepelukan cowok itu, ia merendam suara tangis di dadanya dan meremas punggungnya.
Cowok itu yg semula memasukkan tangan ke saku celana langsung beralih mengusap lengan cewek di pelukannya. "Cup ... cup ... cup ... anaknya pak Rohmat kok nangis, kenapa hmm?" canda cowok itu dengan senyum manis saat cewek itu memukul punggungnya.
"Bisa enggak, sih, lo diem aja, Deon? Gue tu lagi sad," protes cewek itu dengan masih menangis.
Deon mendesah kesal. "Kaira, lo kalau ada masalah cerita, jangan dipendam sendiri. Inget, kita itu sahabat harus saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan, lo sedih gini gue jadi enggak tega dengernya," ucapnya dengan lembut.
Kaira mulai sesenggukan. "Deon ... please ... gue cuma butuh peluk lo, enggak lebih." Bukannya Kaira tidak ingin cerita, justru ia menangis karena tidak tahu harus melampiaskan perasaannya seperti apa atau ingin cerita ke siapa.
Deon mengangguk mengerti lalu mengusap-usap puncak kepala Kaira. Rasanya ia seperti dejavu, dulu sekitar tujuh tahun yang lalu ....
Deon yang mengenakan pakaian merah putih khas anak SD itu merentangkan tangan saat sahabatnya, Kaira, berlari ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.
Kaira memeluk Deon kemudian tangisnya pecah. "Kenapa, Aira yang cantik ini menangis? Ada yang jahatin kamu ya? Sini bilang sama Aa Deon!"
Kaira menunjuk ke ujung jalan, di mana ada Kevin bersama Anggun bergandengan tangan, mereka juga memegang es krim kerucut lalu tampak tertawa ceria.
Deon yang paham lalu mengusap-usap kepala Kaira dengan perhatian.
"Kevin sama Anggun enggak ngajak aku beli es krim! Mereka juga malah asik gandengan," adunya sambil sesenggukan.
Deon melirik sekali lagi ke arah Kevin dan Anggun yang mendekat dengan raut yang tidak terbaca. Deon melepas pelukan lalu menangkup pipi gembul Kaira dengan kedua tangan mungilnya, kedua jempolnya mengusap air mata Kaira.
"Jadi, Aira nangis karena cemburu sama Kevin yang lebih asik sama Anggun?"
Kaira kecil lalu mengangguk lucu, wajahnya masih ditangkup Deon.
"Deon, kita juga harus kayak mereka ... kita main berdua aja, mereka enggak usah diajak!"
Deon kecil menggeleng, "Bukan gitu cara nyelesaiin masalah Aira, itu namanya kamu dendam, enggak baik tahu dendam sama orang!"
"Tapi ini enggak adil, Deon! Mereka enggak ajak kita jajan es krim tahu!"
Kevin dan Anggun yang mendengar perkataan Kaira langsung terkejut. Deon yang menyadari kehadiran mereka langsung mengarahkan tubuh Kaira ke belakang.
Kaira langsung melipat kedua tangan di depan dada lalu membuang muka, tidak ingin memandang Kevin dan Anggun.
"Aira ngambek, ya, enggak diajak beli es krim? Suruh siapa tadi asik gambar, yaudah aku ajak Anggun aja!" matanya beralih menatap Deon, seolah membela diri ia berucap, "bukan salah aku dong enggak ajak dia!"
Kaira melengkungkan bibir ke bawah, matanya kembali berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak mau menatap Kevin atau pun Anggun. "Kevin enggak ada ngomong atau ngajak aku pergi beli kok, tiba-tiba aja kalian udah ilang pas aku udah selesai gambar."
Deon yang tahu Kevin ingin membalas ucapan Kaira langsung dipotong, "Kevin diem aja deh, ngalah, ya, mending kamu minta maaf."
"Tapi, kan, Kevin enggak salah!" bela Anggun sambil bersedekap.
Deon mengamit tangan kanan Kaira lalu mengamit tangan kanan Kevin, kemudian menyatukannya, ia juga mengamit tangan kanan Anggun kemudian menumpuk telapak tangan mereka menjadi satu di udara.
"Kita itu sahabat sejati, seharusnya masalah sepele kayak gini enggak perlu dibesar-besarin, toh tadi aku juga main sendiri loh waktu kalian gambar di ruang khusus, tapi apa kalian lihat aku ngambek kayak Aira atau marah-marah kayak Kevin?" tutur Deon membuat mereka bertiga menatap Deon.
Deon tersenyum lebar sampai matanya menyipit saat Kevin menghampirinya lalu memeluknya, disusul Kaira dan Anggun.
"Maafin kita, ya, Deon!" ucap mereka bersamaan yang diangguki oleh Deon.
"Aku enggak diajak pelukan nih?" Di belakang mereka ternyata ada Waldo yang membawa kresek berisikan tiga es krim kerucut yang masih terbungkus. Kemudian mereka tertawa lalu memeluk sang pahlawan kesiangan itu.
Namun, itu dulu saat Deon tahu masalahnya makannya ia bisa menyelesaikan masalah itu. Saat ini berbeda, Deon tidak tahu apakah masalahnya sama seperti dulu atau ada hal baru mengingat mereka telah beranjak dewasa.
Mungkin jika dulu hanya masalah sepele seperti tidak diajak main bersama, tidak diajak jajan bersama atau tidak diperhatikan maka sekarang berbeda, bisa masalah keluarga, hati atau fisik, apalagi Kaira sampai menangis seperti ini.
"Orang tua gue mau cerai, Deon." Tidak! Bukan itu masalah utamanya karena memang dari dulu Kaira berharap ibunya yang bejat itu segera ditalak sang ayah. Seandainya ia bisa cerita, saat ini dia menangis karena bimbang antara cemburu dengan sahabatnya sendiri atau ada kemungkinan ia bisa kehilangan Kevin, kehilangan perhatiannya, kasih sayangnya dan perlindungannya.
Deon tampak biasa saja, ia tahu bahwa ini pasti terjadi mengingat Kaira sering cerita bagaimana interaksi kedua orang tuanya yang tidak ramah. Ia turut prihatin dengan Kaira, anak satu-satunya yang tidak memiliki saudara pasti merasa sangat kesepian, belum lagi keributan setiap hari di rumahnya.
Namun, seandainya Deon tahu alasan sebenarnya Kaira menangis, apakah ia masih akan turut prihatin pada Kaira? Entahlah, untuk saat ini, Kaira hanya membutuhkan tempat untuk sandaran.
Sedangkan di sisi lain, Kevin, Anggun dan Waldo berjalan menuju ke lantai dua, mereka dengar ada yang berkelahi di lapangan yang biasa dipakai untuk upacara. Dari atas, mereka memandang ke bawah dan menjadikan pagar pembatas sebagai tumpuan tangan.
Mata Kevin beredar, mencari sosok yang ia damba-damba beberapa hari ini. Adik kelas penuh sejuta pesona yang ia lihat tadi pagi saat olahraga. Selain cantik, adik kelasnya itu juga memiliki daya pikat yang tidak bisa dijelaskan olehnya.
"Do, gue rasa, Kevin, bukannya ngeliat cowok yang lagi berantem deh," bisik Anggun pada cowok berhodie hitam di sampingnya yang menatap datar ke bawah.
"Asvra," jawab Waldo singkat membuat Anggun mengernyitkan dahi. "Bentar lagi Kevin turun."
Anggun mengangkat kedua alis. "Tahu dari mana lo?"
Waldo menggeleng, hal itu membuat Anggun kebingungan, cewek itu menggaruk kepalanya yang berbalut hijab.
"Eh, gue turun, ya, mau liat dari deket," ujar Kevin lalu menepuk bahu Waldo kemudian bahu Anggun sebagai salam perpisahan.
"Mau ngapain lo?" teriak Anggun saat punggung Kevin mulai menjauh dari pandangannya, cowok itu tampak terburu-buru turun tangga.
"Ikut berantem." Bukan Waldo yang mendapatkan pertanyaan dari Anggun melainkan Kevin, tapi mengapa seolah-olah Waldo tahu apa saja tentang Kevin dan adik kelas itu?
Anggun jadi bertanya-tanya tentang Waldo. Sejauh ini, Anggun sedikit tahu kehidupan Waldo yang biasa-biasa saja, tidak kaya tapi juga tidak miskin, ia hanya tinggal bersama Deon untuk menge-kos, rumah orang tua Waldo ada di luar kota. Anggun tahunya sejak taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas, sosok Waldo sangat misterius, sulit dipahami setiap kata-katanya yang terlalu irit.
Seolah tidak mau ambil pusing, cewek itu kembali menoleh ke bawah dan seketika ia melotot. Kevin di sana meninju cowok yang tadinya berkelahi. Akhirnya sekarang yang berkelahi bukan adik kelas dan seangkatannya, tetapi adik kelas dan kakak kelas.
"Dasar tolol, pasti gara-gara cewek," gumam Waldo lalu mengenakan kupluk hodie-nya dan memasukkan kedua tangan ke saku hodie, kakinya melangkah turun diikuti Anggun di belakangnya.
"Wah parah Kevin, malu-maluin circle kita aja," komentar Anggun tak habis pikir. Tentu saja kabar yang ia tahu dari grup gosip SMA bahwa penyebab adik kelasnya berkelahi karena merebutkan cewek, tapi ia tidak tahu kabar itu hoax atau fakta.