God's Promise Is Sure

God's Promise Is Sure
BAB 5



Suasana pagi kota Makassar yang begitu indah. Ratih duduk di sofa menikmati secangkir cappuccino hangat buatannya sambil menuggu Linda. Ratih sengaja memilih penerbangan sore, agar tidak   terburu-buru. Karena Linda berjanji akan mengantarnya ke bandara saat jam istirahat kantor.


Ratih sedikit mengintip lewat jendela. Ingin mengetahui kegiatan diluar, karena mendengar suara musik yang lumayan nyaring. Ternyata Ibu-Ibu komplek lagi ada kegiatan kerja bakti dan senam bersama.


Ratih memilih ikut bergabung dengan Ibu-Ibu komplek sekalian untuk berpamitan. Biasanya saat pagi hari lapangan itu  lumayan ramai karena Ibu-Ibu komplek yang senam pagi. Hanya saja Ratih bisa menikmati saat hari libur, karena kesehariannya hanya menghabiskan waktu di kantor.


Ratih duduk di sudut lapangan menikmati bubur ayam yang sedang mangkal, sambil memperhatikan Ibu-Ibu senam pagi. Ratih yang focus menikmati pemandangan di depan  sana, tiba-tiba dari arah belakang Linda membunyikan kelakson motornya dengan nyaring. Sontak Ratih menengok ke arah belakang dengan ekspresi kaget mendengar suara klakson motor milik Linda.


      “Berisik tau gak!” sungut Ratih dengan nada kesal, berdiri dari tempat duduknya untuk membayar pakle bubur ayam.


      “Kapan lagi gue buat lu kesel? kalo lu udah pulang ke Samarinda, gak ada lagi yang bisa gue jahilin.” jawab Linda.


Membuat Ratih kesel itu sudah menjadi hobi Linda. Dengan muka di tekuk Ratih berjalan cepat menuju kontrakannya, tanpa mempedulikan Linda yang menawarinya tumpangan. Dan terus menggoda Ratih yang sedang kesal karena ulahnya.


      “Berisik!” grutu Ratih, membuka pintu kontrakannya.


      “Oh iya, kita ke badandara naik taxi online kan?” tanya Linda.


      “Naik becak,” ucap Ratih.


Ucap Linda, “Sudah jangan cemberut terus.” Linda hanya tersenyum miring melihat sahabatnya yang memasang muka kesalnya sambil menatapnya dengan penuh permusuhan.


 


 


Beberapa menit berlalu, taxi online yang di pesannya sudah parkir di depan kontrakan Ratih. Ratih melangkah keluar yang di barengin Linda dari belakang sedang menarik koper Ratih. Bapak taxi membantu Ratih mengangkat barang-barangnya untuk di masukan ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke bandara.


Ratih menitip kunci kontrakannya ke Linda. Sebelumnya Ratih sudah berpamitan dengan Ibu kontrakannya dan menyampaikan kunci kontrakan akan di titip ke Linda, karena masih ada beberapa barang yang akan di ambil Linda setelah mengatar Ratih ke bandara. Supir taxi melajukan mobilnya menuju bandara Sultan Hasanuddin.


Ratih menikmati perjalanan kota makassar untuk terakhir kalinya. Entah kapan lagi  dia akan menginjakan kakinya di kota Makassar. Sembari berbincang-bincang dengan Linda.


      “Siapa yang akan menjemputmu saat tiba di bandara pranoto samarinda?” tanya Linda.


      “Tadi pagi aku sudah menelfon Ibuku. Dia akan menjemputku bersama dengan Rendi.” jawab Ratih.


      “Apa selama ini Rendi sering menghubungimu setelah dia menolfonmu menyuruhmu risegn karena secepatnya dia akan melamarmu.” tanya Linda kembali.


      “Kami hanya sesekali mengirim pesan singkat, Terakhir dia menelfonku tiga hari sebelum keberangkatanku, karena Rendi meminta dataku untuk membelikan tiket untukku.” jawab Ratih menjelaskan. Linda hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Tak terasa Mereka berdua sudah tiba di Bandara Sultan Hasanuddin. Ratih turun dari Mobil dan di bantu Bapak sopir untuk menyusun barangnya di atas troli barang. Mendorong trolinya menuju ruang check in, di bantu oleh Linda. Kemudian Ratih berpamitan ke Linda sambil memeluk Linda tanda perpisahan.  


      “Hati-hati Yah, jangan lupa berkabar kalo sudah tiba di bandara Pranoto.” ucap Linda. Memeluk Ratih.


      “Iya, kamu juga yah baik-baik di sini.” jawab Ratih. Kemudian mendorong trolinya masuk ke ruang check in.


Dari luar Linda masih trus memandangi Ratih sampe Ratih menghilang dari pandangannya.


*********


On behalf of The Airlines and the entire crew, I’d like to thank you for joining us on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!


(“Atas nama The Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!)


 


Ratih sudah tiba di Bandar Udara APT Pranoto Samarinda. Ratih berdiri untuk mengambil ranselnya yang diletakan di kompartemen kabin, Berjalan dengan tenang dan teratur menuju gedung bandara. Ratih segera menuju tempat pengambilan bagasi, Sambil  Memperhatikan informasi maskapai dan nomor penerbangan di layar agar tidak salah tempat menunggu bagasi.


Dring... Dring... Dring.... Ada nama Rendi muncul di layar ponselnya.


      “Halo Rend,” ucap Ratih. sebelumnya Ratih sudah mengirim pesan singkat ke Rendi dan Ibunya untuk memberi kabar kalo dirinya sudah tiba  di Bandar Udara APT pranoto Samarinda.


      “Sudah dimana?” tanya Rendi.


      “Aku sudah di ruang bagasi untuk mengambil barangku,” jawab Ratih.


      “Oke, aku menuju kesana,” ucap Rendi. mematikan ponselnya dan melangkah untuk mendatangi Ratih di ruang Bagasi. Kebetulan Rendi bekerja di bandara udara APT Pranoto Samarinda.   Dari arah belakang ada Rendi yang sedang berjalan menuju arah Ratih.


      “Ratih!” panggil Rendi yang saat ini sudah berdiri di belakang Ratih.


Ratih yang saat ini sedang berdiri di depan Baggage Conveyor. Menggerakan badannya menengok kebelakang dengan ekspresi terkejut. karena Rendi sudah berdiri di belakangnya.


      “Sudah telfon Ibu?” tanya Rendi.


      “sudah,” jawab Ratih.


Setelah mengambil bagasi, Ratih menuju pintu kedatangan. Di susul Rendi dari belakang yang membantunya mendorong troli barang.


Ucap Ratih, “Sebentar, Ibu menelfonku.” Sambil berjalan menuju pintu kedatangan. Dan di balas anggukan oleh Rendi.


      “Halo Bu,” ucap Ratih singkat.


      “Halo dek, Ibu sudah di parkiran nungguin kamu.” ucap Ibu Ratih.


      “Baik Bu. Ratih menuju ke parkiran sama Rendi.” jawab Ratih.


Mereka berjalan penuh keheningan, dalam hati Ratih ingin sekali mengajak Rendi untuk berbicara. Tapi masih ada rasa malu-malu karena sebelumnya mereka jarang mengobrol lewat telfon dan hanya sesekali mengirim pesan. Selain itu merekapun baru bertemu lagi setelah pertemuan beberapa bulan lalu di parkiran mall.


      “Ratih!” panggil Ibu Ratih. Yang melihat anaknya sedang berjalan masuk ke dalam parkiran.


Ratih melajukan langkahnya setelah melihat Ibunya berdiri di depan mobilnya sambil melambaikan tangannya. Disusul Rendi dari belakang.


      “Ibu kangen banget sama kamu Dek.” ucap Ibu Ratih sambil memeluk Ratih dan menciumnya.


      “Ayah gak ikut Bu?” tanya Ratih.


      “Tadi Ayah ada tamu, jadi Ibu kesini sendiri.” jawab Ibu Ratih.


Rendi yang baru selesai menyusun barang-barang Ratih di bagasi mobil, ikut bergabung bersama Ratih dan ibu Ratih.


      “Bu, Rendi pamit untuk melanjutkan pekerjaan Rendi. Maaf Rendi tidak bisa ikut bersama Ibu dan Ratih. Insya allah jam pulang kantor saya kerumah.” Ucap Rendi sopan.


 


 


Ratih menikmati perjalanan suasana sore hari di kota Samarinda. Lebih dari dua tahun Ratih meninggalkan kota itu. Ratih meamandang takjub sudah banyak sekali perubahan di kota kelahirannya itu, Sambil berbincang dengan Ibunya. Sedikit menceritakan pengalaman apa saja yang di dapat selama tinggal di kota Makassar.


Ratih kembali mengingat keputusannya waktu itu untuk pindah ke kantor cabang yang letaknya di kota Makassar, bukanlah keputusan yang salah. Selama bekerja di kantor cabang sangat menyenangkan. semua karyawan yang berada di sana sangat baik, selalu mendukung dan bangga dengan pencapaian yang Ratih dapatkan.


 


Ayah Ratih yang sudah duduk di teras rumahnya menunggu anak sematawayangnya. Melihat  mobil istrinya memasuki pekarangan rumahnya. Beliau langsung berdiri menyambut putri kesayangannya, langsung memeluk Ratih melihat Ratih keluar dari mobil.


      “Maaf Ayah tidak bisa menjemputmu.” ucap ayah Ratih. Yang masih mameluk Ratih.


      “Iya Ayah, Ratih mengrti.” jawab Ratih sopan.


 


Kemudian mereka bertiga  masuk ke dalam rumah. Ratih menatap sekliling rumahnya ternyata tidak ada yang berbeda setelah dua tahun Ratih meninggalkan rumah tersebut. Bingkai foto Ratih yang tersusun Rapi di dinding Ruang tamu begitu indah, ada beberapa foto Ratih saat di makassar, ternyata orang tuanya mencuci beberapa foto yang dikirim Ratih lewat Via Whatshapp kemudian beliau memajangnya di ruang tamu. Betapa specialnya Ratih di mata orang tuanya.