God's Promise Is Sure

God's Promise Is Sure
BAB 3



Orang yang mengalami putus cinta setelah menjalin hubungan romantis dengan pasangan. tentu bukan merupakan hal yang mudah untuk kembali seperti biasa saja.


Hari ini Ratih memilih bolos dari kantor karena kepalanya yang sangat pusing memikirkan semua masalahnya. Pagi yang cerah, Ratih memilih ke taman bunga untuk menghirup udara pagi yang segar sambil menikmatin bubur ketan kesukaannya, sembari memperhatikan beberapa Anak kecil yang berlarian di tengah taman, sungguh pemandangan yang sangat indah. Mengingat alasan Ratih ingin menikah muda agar bisa menikmati masa mudanya dengan anak-anaknya kelak entah dengan siapa dia akan menikah. walaupun sebenarnya Rendi sudah mengajaknya menikah tapi di hati Ratih masih ada keraguan, Selain itu meninggalkan Pekerjaannya adalah keputusan yang berat.


Matahari sudah mulai trik suasana tamanpun sudah mulai sepi. Ratih memutuskan untuk pulang ke kontrakannya dan akan bersiap-siap ke cafe. Sebenarnya jam pulang kantor masih lama, tapi Ratih memutuskan untuk datang lebih awal, sekalian mengerjakan sedikit pekerjaan kantornya yang sudah menunpuk. Biasanya suasana cafe di pagi hari lumayan sepi, membuat Ratih bisa lebih focus mengerjakan pekerjaannya.


sebelum ke cafe Ratih mengecek ulang berkas-berkas apa saja yang akan di bawahnya. Sebelumnya Ratih sudah mengirim pesan singkat ke Linda. memberitahunya kalo dia menyetujui ucapan Linda kemarin sore untuk bertemu dengan Rimba, sore ini di cafe dekat kantor mereka bekerja.


Ratih duduk di pojok cafe sambil mengeluarkan laptopnya dan beberapa berkas yang akan di kerjakan. sebenarnya Ratih masih enggan untuk bertemu dengan Rimba. tapi setelah dia fikir-fikir ucapan Linda kemarin sore sebenarnya ada benarnya juga. kalo Ratih trus menghindar dari Rimba yang ada jadi boomerang dalam dirinya sendiri.


“Aku menunggumu di cafe sore ini, jam pulang kantor.” terbit senyum tipis dari bibir Linda Menerima pesan singkat dari Ratih. Dengan sigap Linda menghubungi Rimba untuk memberitahu berita yang sangat penting ini.



“Halo Bapak Rimba yang terhormat, sepulang kantor aku akan ke apertemenmu jangan lupa mandi dan berdandan yang ganteng karena sore ini aku akan memberikanmu kejutan.” ucap linda panjang dan langsung menekan tombol merah untuk memutuskan panggilan.


Dengan penuh semangat Linda menyelesaikan semua pekerjaanya yang sudah menumpuk. Tanpa memikirkan Rimba yang telfonnya di matikan sepihak olehnya. Linda hanya tersenyum tipis mengingat ekspresi muka Rimba yang mungkin, saat ini sedang mengutuki dirinya.


Rimba yang saat ini berada di apertemennya mendengus kesal karena telponnya di matikan sepihak oleh Linda, sebelum dia berbicara. Rimba melempar handphonenya ke atas kasur dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya sambil mengutuki Linda dengan kesal. Dasar manusia aneh.


Jam pulang kantorpun tiba, Linda segera membereskan semua kekacauan yang ada di atas meja kerjanya. Linda terus berdendang begitu bahagia seperti orang yang baru saja mendapat bonus yang besar. Sampai-sampai tidak menyadari sapaan Bapak security yang berdiri di depan pintu kantornya. Membuat orang-orang meliriknya dengan aneh, Tanpa menyadari itu semua, Linda trus melanjutkan jalannya menuju parkiran motornya.


Saat ini Linda sudah berada di parkiran apertemen Rimba. Linda melihat Rimba berjalan menuju parkiran, dari arah yang gak cukup jauh. Linda sudah menebak bahwa Rimba masih kesal karena ulahnya tadi siang yang langsung memutuskan panggilan. Tanpa mempedulikan ekspresi muka Rimba, Linda menarik tangan Rimba untuk segera masuk kedalam mobilnya.


Sebenarnya Rimba, Linda, dan Ratih. mereka sudah bersahabat sejak lama, tapi karena Rimba adalah atasan mereka di PT. Putra Jaya Abadi. mereka harus bekerja secara profesional. Tetapi di saat jam pulang kerja mereka layaknya pertemanan pada umumnya.


Hubungan pertemanan mereka renggang karena mendengar kabar bahwa Rimba akan segera menikah. Sedangkan saat itu status Rimba dengan Ratih adalah sepasang kekasih. Linda sebenernya kesel dengan Rimba, Tetapi setelah Linda mendengarkan penjelasan Rimba, itulah alasan Linda membantu Rimba untuk bertemu dengan Ratih.


“Sebenarnya kita mau kemana?” ucap Rimba. Mendengus dengan kesal. lagi-lagi pertanyaannya tak mendapat jawaban dari Linda. Rimba melajukan mobilnya dengan kesal, mengabaikan teriakan Linda yang takut dengan kelajuan.



“Hahahahahaha.” Tertawa dengan sangat kencang. Perlahan-lahan menurunkan kecepatan mobilnya karena mendapat pukulan bertubi-tubi dari Linda.


Rimba sama sekali tidak mengatahui rencana Linda. Rimba melajukan mobilnya mengikuti petunjuk Linda yang arahnya menuju ke cafe dekat kantor Mereka. Rimba hanya diam karena percuma saja dirinya bertanya, Linda tidak akan menjawab pertanyaannya.


Saat ini mereka sudah berada di depan parkiran cafe. Dengan sigap Linda turun dari mobil dan melangkah ke samping pintu supir pengemudi dan mengetok dengan keras kaca mobil. Membuat Rimba yang masih duduk di dalam mobil mendengus kesal, membuka pintu dengan keras.


Rimba masih terdiam. tak bersuara beberapa menit, sampai Linda mengajaknya kembali untuk berbicara. Mereka berdiri di depan pintu cafe. Rimba hanya memperhatikan Linda yang menengok ke kiri dan ke kanan seperti mencari seseorang.


Ratih membereskan semua pekerjaannya sambil menikmati cappuccino dan cake kesukaannya untuk mengurangi rasa groginya. Ratih melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, sudah menunjukan jam pulang kantor. Untuk pertama kalinya Ratih akan bertatap muka dengan Rimba setelah kejadian beberapa bulan yang lalu dan sampai detik ini masih sangat berbekas di hati Ratih.


Membicarakan hal yang sudah berlalu bagi Ratih itu sudah tidak penting Lagi. Tapi biar bagaimanapun Ratih membutuhkan penjelasan tentang semua yang telah terjadi. Ratih tersadar dari lamunannya saat mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.


Ratih menoleh kesumber suara. Dan melihat Linda dan Rimba berjalan menuju ke arahnya. Ratih berusaha menghilangkan groginya dan berdiri menyambut Rimba dan Linda.


“Sudah dari tadi?” tanya Linda.



“Belum lama kok, silahkan duduk.” jawab Ratih singkat. sembari mempersilahkan Linda dan Rimba untuk duduk di kursi.



“Terimah kasih, aku akan duduk di kursi sebelah sana, menunggu kalian berdua selesai berbicara.” jawab Linda sambil menunjuk kursi yang akan dia tempati duduk.



“Jelasin apa yang lo mau jelasin.” tambah Linda berbisik di samping kuping Rimba, sebelum benar-benar meninggalkan mereka berdua dengan penuh keheningan.



“Terimah kasih karena sudah meluangkan waktumu untuk menemuiku.” ucap Rimba.



“Aku tidak punya banyak waktu, silahkan jelaskan apa yang kamu mau jelaskan! Aku akan mendengarkan Penjelasanmu.” tegas Ratih sambil menatap lurus ke arah depan tanpa menoleh ke arah Rimba.


“Dia terlihat sangat lusuh. Berulang kali dia meminta maaf, tanpa menjelaskan salahnya padaku. Setelah cukup lama dan dia agak tenang. Dia menjelaskan bahwa secara tiba-tiba Keluarganya bersikeras menyuruhnya untuk menikah dengan pilihan orang tuanya. Dan itu sudah keputusan finalnya. Dia sudah melakukan segala hal dan nyatanya tidak ada perubahan. Atas nama keluarga dia meminta maaf padaku.”


Ratih masih terdiam mendengarkan penjelasan Rimba. Jarak 2 kursi disana ada Linda yang menikmati jus mangga favoritenya. sesekali melirik ke arah Ratih dan Rimba.


“I-y-a, aku juga minta maaf karena selama ini aku tidak pernah mau mendengarkan penjelasanmu saat kamu berusaha menjelaskan padaku.” ucap Ratih dengan nada pelan.


Setelah terjadi keheningan Linda pun ikut bergabung dengan mereka berdua untuk mencairkan suasana yang mulai canggung.


“Jadi sekarang sudah tidak ada masalah lagi kan antara kalian berdua? Pertemuan ini bisa jadi pelajaran untuk kita lebih berfikiran dewasa, karena pada dasarnya masalah itu jika diselesaikan dengan emosi dan ke egoisan tidak akan ada ujungnya, tapi jika kita meredahkan egoh kita untuk saling berbicara dan menjelaskan satu sama lain semua akan baik-baik saja.” ucap Linda panjang lebar seperti lagi menasehati dua bocah.


********


Dua minggu telah berlalu Rimba langsung bertolak ke Samarinda menyelesaikan semua pekerjaannya yang sempat dia tinggalkan hanya untuk menemui Ratih di Makassar. Persahabatan merekapun sekarang terjalin dengan baik. sebelum Rimba bertolak ke Samarinda mereka bertiga sempat meluangkan waktu untuk makan siang bersama. Momen yang sempat hilang karena adanya kesalah pahaman di antara mereka bertiga.


Setelah pertemuan mereka beberapa waktu lalu membuat beban fikiran Ratih sedikit berkurang. Saat ini Ratih hanya fokus mentraining calon staff penggantinya. Ratih duduk di kursi meja kerjanya sambil menikmati secangkir cappuccino yang sudah tidak hangat lagi, karena terlalu fokus menyelesaikan semua pekerjaannya yang sempat tertunda.


Ratih menikmati hari-harinya di kantor yang sudah memberikan tempat untuk mencari nafkah selama tiga tahun lamanya. Sebentar lagi Ratih akan meninggalkan kantor ini dan semua kenang-kenangan yang ada di dalamnya. banyak pelajaran yang bisa di ambil selama bekerja di PT. Putra Jaya Abadi.