
"Kita semua memiliki jalan tersendiri untuk mengarungi hidup ini. Ke manapun kita pergi, kita akan tetap mengingat satu sama lain."
Ratih sudah berdiri di depan PT. Putra Jaya Abadi. Ratih menghembuskan nafas pelan dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor yang sebentar lagi akan ditinggalkan. Hari ini adalah hari terakhir Ratih Bekerja.
Ratih akan berpamitan ke teman-teman kantornya. Rasanya sangat berat meninggalkan mereka yang selama ini sangat baik dengannya. tapi ini sudah jadi pilihan Ratih untuk memulai langkah baru di hidupnya.
Seminggu yang lalu Ratih sudah membicarakan keputusannya ini kepada Pak Dirga. Hari ini Ratih akan mengajukan surat permohonan risegn yang sudah disiapkan tadi malam. Ratih melangkahkan kakinya menuju ruang direktur untuk berpamitan terlebih dahulu ke direktur PT. Putra Jaya Abadi. Sebelum berpamintan ke karyawan yang lainnya.
Ratih menghirup udara banyak-banyak sebelum mengetuk pintu ruangan Bapak Dirgantara. Tiba-tiba pintu beliau terbuka dari dalam. ternyata Pak Dirga baru selesai bertemu dengan seseorang. Orang yang barusan keluar dari ruangan Pak Dirga tersenyum sopan ke arah Ratih dan di balas tak kalah sopan oleh Ratih.
“Mari mba.” ucap laki-laki yang bertubuh kekar itu singkat dan berlalu pergi meninggalkan Ratih. Ratih tersenyum sopan ke arah Pak Dirga saat pandangan mereka bertemu.
“Silahkan masuk Ratih,” ucap Pak Dirga lebih dulu. sambil menunjukan kursi dan mempersilahkan Ratih untuk duduk. Pak Dirga sendiri dikenal sebagai pemimpin yang sangat baik terhadap karyawannya.
“Terima kasih, Pak.” Jawab Ratih, “Mohon maaf menganggu aktivitas Bapak.” Sambil duduk di kursi yang di persilahkan oleh Pak Dirga
“Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk risegn dari kantor ini?” tanya Pak Dirga.
“Saya telah cukup lama mempertimbangkan pilihan saya di sini dan saya sudah memutuskan inilah waktunya untuk melanjutkan karier. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan di sini, namun saya harus mengajukan pemberitahuan pengunduran diri.” ucap Ratih sopan sambil menyodorkan amplop coklat tersebut ke depan Pak Dirga.
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu.” jawab Pak Dirga. mengambil amplop coklat yang telah di sodorkan Ratih kedepannya dan membuka amplop tersebut sambil membacanya dengan seksama.
“Baik, Ratih. Saya sudah menerima dan membaca surat risegn kamu. semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali. semoga allah memperlancar segala urusan kamu di luar sana.” ucap Pak Dirga. Dan di balas senyuman oleh Ratih.
Ratih mengucapkan rasa terima kasihnya telah diberi tempat untuk mencari nafkah selama tiga tahun lamanya.
“Aamiin, Ratih berterimah kasih kepada bapak dan seluruh karyawan yang ada di purusahaan ini, selama Ratih bekerja di sini semuanya memperlakukan Ratih dengan baik. membimbing Ratih, sampai Ratih berada di pososi saat ini.” Tutur Ratih. dengan nada sopan.
Ratih melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Pak Dirga setelah iya berpamitan, dan akan mendatangi rekan-rekan kerjanya yang selama ini sudah membantunya selama dia bekerja di perusahaan PT. Putra Jaya Abadi. Suasana harupun terjadi saat Ratih berpamitan mereka semua berdiri memberi semangat ke Ratih. Silih berganti dari mereka memeluk Ratih dan meberinya sedikit wejangan. Linda sudah tak kuasa menahan air Matanya yang sudah mengalir sedari tadi saat Ratih melangkah ke arahnya.
“Kamu sehat-sehat yah disana, jangan lupa trus berkabar walaupun kita jauh, komunikasi harus tetap ada.” Ucap Linda dengan nada yang serak sambil memeluk Ratih dengan erat.
“Gak boleh cengeng, kamu jaga kesehatan yah di kota orang. pasti aku akan Sering menghubungimu lewat Via whatsapp.” jawab Ratih dengan nada sedih, sambil membalas pelukan Linda.
Setelah berpamitan keseluruh karyawan. Ratih melangkah ke arah mejanya mengambil tasnya. Dan sedikit memberi wejangan ke anak baru yang akan menggantikan posisinya. Ratih kemudian berpamitan kembali ke rekan-rekan kerjanya sebelum dia meninggalkan ruangan tersubut.
“Semangat semuanya, semoga dilain waktu kita bisa bertemu kembali.” ucap Ratih.
********
Jam pulang kantor telah usai. Linda merapikan meja kerjanya dan berpamitan keteman-teman kerjanya.
“guys, aku dulun yah,” ucap Linda.
Sebelum ke kontrakan Ratih. Linda mampir sebentar di kontrakkannya untuk membersihkan badannya yang sudah gerah karena seharian bekerja, dan mengambil baju ganti untuk besok masuk kerja. Karena Linda sudah berjanji akan menginap dikontrakkan Ratih malam ini. Dan membatu Ratih mem-packing semua barang-barangnya yang akan di bawah pulang ke Samarinda kampung halaman Ratih.
Ratih yang lagi sibuk di dapur memasak untuk makan malam mereka berdua. Sebelumnya Ratih sudah mengirim pesan singkat ke Linda untuk memberitahunya kalo Ratih akan memasak makan malam mereka. Sebelum sahabatnya itu datang membawa beberapa macam menu makanan.
Selesai menata masakannya di atas meja makan. Ratih bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Memakai baju dan juga menyisir rambutnya, Ratih mempoles sedikit make up di wajah mungilnya.
Ratih duduk di ruang TV. menikmati berita sore sambil memilih Barang-barang apa saja yang akan di masukan ke dalam koper. Sebagian baju-baju Ratih yang masih layak pakai, Rencananya akan di sumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan.
Tok-tok-tok
“Sebentar,” gumam Ratih. Dan berdiri dari duduknya. Melangkah menuju pintu dan membukanya sebelum pintu kontrakannya roboh karena terus di ketok oleh Linda. padahal Ratih sudah berteriak dari dalam tapi bukan Linda kalo dia tidak membuat Ratih kesel.
“Ngapain aja sih?” Grutu Linda, “Lama banget bukanya.” Sambil melempar tasnya ke atas sopa yang berada di depan TV dan merebahkan badannya di atas tumpukan baju Ratih yang sudah di lipatnya dengan rapi.
“Kamu aja yang gak sabar.” Ucap Ratih ketus, “awas jangan baring disitu!” sambil mendorong Linda yang sedang asyik berbaring di atas tumpukan bajunya.
Linda berdiri dari tempatnya melangkah menuju dapur. Karena tadi Ratih sudah mengabarinya akan memasak makan malam untuk mereka berdua. Buat Linda suatu ke ajaiban jika Ratih si pemalas itu masak sendiri, walaupun Linda tau kehebatan Ratih untuk memasak patut di acungkan jempol. Tapi selama ini Ratih lebih memilih untuk membeli makanan di luar di banding harus sibuk memasak di dapur.
“Wih sahabat gue kesambat apa nih? kelihatannya enak banget.” Ucap Linda.
“Dimakan saja, gak usah banyak bicara.” Jawab Ratih. Dan berdiri ke meja makan menikmati makan malam mereka sebelum melanjutkan mem-packing barang-barangnya.
Selesai jam makan malam mereka duduk berdua di depan TV menikmati cemilan yang di beli Linda. Sambil menyusun barang-barangnya dengan rapi ke dalam koper. Linda menyusun barang-barang yang masih layak pakai untuk di sumbangkan, Kadang saling melempar baju karena ulah Linda yang tiada henti membuat Ratih kesal.
“Uh, akhirnya selesai juga,” ucap Ratih. sambil melirik ke arah Jarum jam yang sudah menunjukan pukul 22:15. Linda berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, disusul oleh Ratih dari belakang.
Mereka meluruskan sedikit badannya yang sudah sangat lelah sambil menatap ke plafon kamar dan mengingat semua kenangan yang telah mereka lalui bersama di dua kota yang berbeda. Yaitu, kota Samarinda dan kota Makassar. bukan perjalanan yang singkat buat mereka berdua, sebenarnya Linda sangat sedih akan ditinggal sahabatnya tapi disisi lain Linda ikut bahagia mendengar kabar bahwa Ratih akan dilamar oleh laki-laki yang bertanggung jawab dan insya akan membimbing Ratih menuju jalan Allah SWT.
“Teman gue bentar lagi jadi milik orang seutuhnya, Awas yah lo lupain gue setelah lo nikah.” ucap Linda yang sedang berbaring di samping Ratih.
“Gak akan gue ngelupain orang yang tiap hari buat gue kesel.” ucap Ratih dan di balas kekehan oleh Linda.
Yah bener sekali, Linda adalah orang yang setiap hari membuat Ratih kesel dengan ulahnya sendiri, entah kenapa membuat Ratih kesel sudah menjadi hobi Linda. Kemudian mereka tertawa bersama mengingat moment-moment lucu yang telah mereka lalui. Sebenarnya Ratih sangat menyayangi Linda walaupun Linda sering mebuatnya kesel.
Ratih sendiri sudah menganggap Linda sebagai kakaknya, karena selama ini Ratih tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak, kemudian Linda datang di kehidapan Ratih. yang begitu memperhatikan Ratih menyayangi Ratih selayaknya adik kandungnya sendiri. Bagaikan seorang kakak yang gak pernah meninggalkan adiknya dalam ke adaan apapun, seorang kakak yang selalu berdiri paling depan saat adiknya membutuhkan bantuan. Sampai akhirnya mereka terlelap dalam tidurnya masing-masing.