
Ratih hanya bermimpi untuk menikah muda dan tidak pernah bermimpi akan gagal dalam pernikahan. Buat Ratih menikah itu kesiapan bukan ajang perlombaan.
Di pagi hari yang cerah. Ratih duduk di kursi kerjanya sambil menikmati secangkir cappuccino hangat yang sudah ada di atas meja kerjanya. Ratih terlihat menggerakkan mouse komputernya untuk memulai pekerjaannya yang sudah sejak tadi menunggunya. tiba-tiba ponsel Ratih berdering ada panggilan dari seseorang. Ratih menghentikan sejenak aktifitasnya dan merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Dring...Dring...Dring.... Ratih terkejut melihat ada nama Rendi di layar ponselnya. Ratih masih menatap layar poselnya membiarkannya terus berbunyi sampai telfon dari Rendi terputus.
"Ada apa Rendi tiba-tiba menghubungiku?" gumam Ratih seorang diri.
Ratih tersadar dari lamunannya ketika ponselnya kembali berdering. Telefon masuk dari orang yang sama. Ratih mengambil kembali ponselnya yang sudah di letakan di atas meja kerjanya dan menekan tombol berwarna hijau.
"Halo, ada apa Ren?" tanya Ratih. di awal percakapan mereka.
"Halo Ratih, aku menelfonmu karena ada yang mau aku bicarakan!" ucap Rendi.
"Oh iya, silahkan Ren. mau ngomongin apa emang?" tanya Ratih santai sambil mengkerutkan dahinya.
"Aku akan melamarmu!” Tegas Rendi, “Apakah kamu sudah siap untuk menikah?" tanya Rendi pada inti pembicaraannya.
Ratih terdiam sesaat mendengar kalimat Rendi, yang tiba-tiba menanyakan soal pernikahan. Setelah pertemuan mereka di parkiran mall beberapa bulan yang lalu. setelah itu mereka hanya komunikasi lewat whatshapp sekedar menanyakan kabar, dan mereka tidak pernah bertemu lagi.
Selama ini Rendi tidak pernah mengungkapkan perasaannya ke Ratih. Membuat Ratih sedikit bingung dengan pertanyaan Rendi. Ratih mencoba untuk berfikiran positif, mungkin saja Rendi sedang mengerjainya.
"A-d-a a-p-a Ren tiba-tiba menanyakan soal pernikahan?" Ucap Ratih, “Kamu lagi bercanda yah?” sambil menunggu jawaban dari Rendi. Dari seberang sana seperti terdiam sejenak menarik nafas sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Dalam waktu dekat ini aku akan menemui kedua orang tuamu!” Tegas Rendi, “Bisa kah kamu risegn dari pekerjaanmu dan pulang ke samarinda dalam waktu dekat ini?” tanya Rendi.
“kok, mendadak?” tanya Ratih dengan ekspresi kaget.
“aku sudah memikirkan matang-matang, dalam waktu dekat ini aku akan melamarmu.” Ucap Rendi.
Membuat Ratih kembali terdiam mendengar kalimat Rendi yang tiba-tiba menyuruhnya risegn, dan menyuruhnya pulang ke samarinda. Ratih mematikan sambungan telfonnya. merapikan semua pekerjaannya yang sudah berserakah di atas meja kerjanya.
Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 17:00, itu tandanya jam kantor sudah berakhir. Sepulang dari kantor Ratih memutuskan untuk mampir ke cafe dekat kantornya. kelihatannya cafe sore itu lumayan ramai. Ratih pun memilih untuk duduk di pojokan dan memesan secangkir cappuccino favoritnya tidak terlalu manis. Seketika Ratih Mengingat kembali pembicaraannya dengan Rendi tadi pagi yang menyuruhnya untuk risegn.
Ratih pun meminum kopi yang sejak tadi sudah ada dihadapannya, sampai-sampai tidak menyadari kalau pelayan sudah mengantarkan kopinya sejak tadi karna terlalu fokus memikirkan ucapan Rendi. Ratih bergegas untuk pergi dari cafe itu karena suasana cafe tambah Ramai. di perjalanan Ratih menuju parkiran tiba-tiba ponselnya berdering. Ratih mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat layar ponselnya ada nama Ibunya.
“Assalamualaikum Bu. Kebetulan sekali Ibu menelfonku, ada yang mau Ratih sampaikan ke Ibu.” Ucap Ratih dengan nada pelan.
"Waalaikumsalam Dek. Ibu menelfonmu karena ada hal yang Ibu mau sampaikan. Tadi nak Rendi menelfon Ibu. Kata nak Rendi mau kerumah bertemu Ayah dan Ibu dengan tujuan meminta restu dan akan segera melamarmu." ucap Ibu Ratih pada inti pembicaraannya dan mengabaikan ucapan Ratih.
Ratih kembali terdiam mendengarkan kalimat panjang Ibunya, sepertinya Rendi benar-benar serius dengan ucapannya. Ibunya sendiri sudah mengetahui terlebih dahulu, sebelum Ratih menceritakan persoalan ini kepada Ibunya. Sampai Ratih tak menyadari, ada Ibunya yang di sebrang sana dari tadi memanggil namanya.
“Iya Bu, Ratih dengar” Jawab Ratih. Dan ijin ke Ibunya untuk mematikan sambungan Telfon.
“Tadi sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan ke lbu?” tanya Ibu Ratih kembali.
"Iya Bu, maaf Ratih lagi di jalan, nanti Ratih telfon balik setelah Ratih sampai di kontrakan." jawab Ratih dan langsung mematikan sambungan telfonnya.
Mengurungkan niatnya untuk membahas soal Randi. Ratih merasa percuma membahasnya karena Ibunya sudah mengetahuinya terlebih dahulu. sempat berdebat dengan Ibunya sebelum Ratih mengakhiri perbincangan untuk memutuskan panggilan. Ratih memijat kepalanya yang mulai pusing karna memikirkan ucapan Rendi dan Ibunya, yang dengan tiba-tiba menyetujui ucapan Rendi, dan menyuruhnya untuk pulang.
Saat ini Ratih sudah berada di dalam kamarnya yang berantakan. Buat Ratih hari ini rasanya sangat melelahkan dari pada hari sebelumnya. Ratih pun bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti baju kantornya. Ratih merebahkan badannya di kasur yang sudah tidak empuk lagi. pandangannya lurus ke plapon kamarnya sambil memikirkan keputusan yang akan di ambil.
Alarm pagi Ratih berbunyi menunjukan pukul 05:00. tadi malam dirinya ketiduran sehingga Lupa menghubungi Ibunya kembali. Ratih bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Pagi ini kepala Ratih Rasanya masih pusing mungkin efek memikirkan kata-kata Rendi dan Ibunya yang menyuruhnya untuk pulang dalam waktu dekat ini. Ratih bergegas kedapur mencari bahan makanan yang bisa diolah hari ini untuk bekal ke kantor. 15 menit berlalu akhirnya bekal yang Ratih buat sudah siap. Ratih segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah bauh asem.
Ratih duduk di depan cermin kebesarannya sambil menghias wajahnya yang mungil dan menatap badannya yang makin hari makin gendut. Ratih berdiri menuju tempat tidurnya untuk mengambil baju kerjanya di atas kasur yang sudah di siapkan sebelum dia mandi. Pandangan Ratih terfocus ke arah meja samping Kasurnya karena Melihat lampu ponselnya kelap kelip, sepertinya ada telfon masuk, ditatap layar ponselnya ada nama Rendi. Ratih mengangkatnya dengan nada malas.
"Iya Ren, hari ini aku akan mengajukan perhomohonan risegn!" jawab Ratih malas, tanpa memikirkan kalimat yang barusan dia ucapkan. dari seberang sana Rendi seperti menghembuskan nafas lega.
Alarm Ratih berbunyi menunjukan pukul 07:00, Ratih mengambil bekal yang akan di bawah ke kantor dan menuju parkiran kontrakannya. Ratih mengutuki mulutnya sendiri, kenapa dia mengatakan kalo hari ini dirinya akan mengajukan surat risegn. sedangkan Ratih sendiri masih bingung dengan keputusannya. Ratih melajukan motornya menuju kantor sambil menikmati suasana pagi kota makassar.
Ratih yang sudah berada di parkiran kantornya. Dan berjalan menuju lobi kantor. Dari arah belakang ada sicerewet Linda sahabatnya yang berjalan menuju arah Ratih dan langsung menepuk bahu Ratih.
"Hey, masih pagi muka sudah jelek banget, semalam dari mana aku telfon-telfon tapi gak di angkat?” tanya Linda panjang lebar.
Ratih membiarkan Linda trus mengoceh panjang kali lebar. Memang benar tadi pagi pas Ratih bangun dan mengecek ponselnya ada enam panggilan tak terjawab dari Linda.
“Maaf Lind, Sepertinya aku tidur mati sampai hp berdering saja aku tidak mendengarnya." Jawab Ratih. Tanpa menoleh ke arah Linda dan terus berjalan menuju pintu kantor tempat mereka bekerja.
"Selamat pagi Pak." sapanya dengan sopan ke Bapak security yang berdiri di depan pintu kantor.
"Pagi, mba Ratih" jawab Bapak security tak kalah sopan.
Ratih melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam kantor di mulai 15 menit lagi. Ratih mengabaikan ocehan Linda, dan berjalan menuju kantin, untuk memesan cappuccino, dan di atarkan keruangan kerjanya. Linda yang berjalan beriringan dengan Ratih masih terus berbicara tanpa henti.
secangkir cappuccino hangat, sebelum memulai pekerjaannya sudah menjadi rutunitas Ratih di pagi hari. Ratih duduk terdiam di meja kerjanya pandangan lurus ke arah jendela. Ratih masih trus memikirkan omongannya tadi pagi ke Rendi sebelum berangkat ke kantor. sangat berat untuk Ratih meninggalkan pekerjaan yang dia tekuni saat ini, tapi dia harus mengambil keputusan secepatnya kalo tidak, Ratih akan trus di teror oleh Rendi dan Ibunya menanyakan hal yang sama, Ratih mengacak Rambutnya prustasi.