God's Promise Is Sure

God's Promise Is Sure
BAB 2



Hari minggu yang cerah. Ratih keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat sarapan paginya. Sarapan hari ini yang di buat Ratih tidak begitu Ribet cukup satu telur ceplok dan sepasang roti tawar tak lupa secangkir cappuccino. Selesai membuat sarapan paginya, Ratih duduk di kursi depan TV dan meraih remot yang ada di atas meja untuk menyetel film kartun kesayangannya yang bisa membuatnya tertawa dengan puas sambil menikmatin sarapan paginya dan secangkir cappiucino yang sangat wajib di nikmatin di pagi hari.  


Biasanya Ratih menghabiskan waktu di kamar seharian untuk tidur saat hari libur tiba, tapi hari ini Ratih memutuskan untuk jalan-jalan kepantai dan akan mengajak Linda. Setidaknya ada yang mengiburnya jika sahabatnya itu pergi bersamanya, agar meringankan sedikit beban yang ada di kepalanya. Tetapi Linda tak juga menjawab telfon dari Ratih.


     “Apa mungkin Linda masih tidur yah jam segini?  tumben banget dia gak mengangkat telfonku.” gumam Ratih seorang diri.


Ratih sudah mencoba menelfon Linda berkali -kali, tapi tak juga mendapat jawaban, akhirnya Ratih memutuskan untuk mengirim pesan singkat. Sambil menunggu jawaban Linda. Ratih masih focus ke film kartun kesayangannya sampai tertawa terbahak-bahak. Ratih tiba-tiba diam karena mendegarkan.


Tok-tok-tok


suara ketukan pintu dari luar Membuat Ratih mengalihkan padangannya dari layar TV. Ratih terdiam sejenak membiarkan orang tersebut mengetuk tanpa henti pintu kontrakannya. Ratih menengok ke arah jam dinding. Jam menunjukan pukul 08:00 pagi. “Siapa yang bertamu sepagi ini? Apa mungkin Linda?” ucapnya seorang diri.


Ratih berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu kontrakannya, untuk memastikan siapa yang berada di balik pintu itu yang sedari tadi menggedor pintu kontrakannya dengan kencang.


Kreeekkkk.....


suara pintu terbuka pelan dan Ratih melongo melihat seorang pria yang saat ini berdiri di depannya. Tanpa mengatakan sepata kata pun Ratih langsung membanting pintu dan menguncinya dari dalam.


     “BUAT APA KAMU KESINI! APA BELUM PUAS KAMU MENYAKITIKU?” triak Ratih sangat kencang dari balik pintu.


Pria di balik pintu itu menunduk mendengar perkataan Ratih, tanpa membalas ucapan Ratih dan memilih mengikuti perintah Linda untuk meninggalkan kontrakan Ratih.


     “Ayo kita pergi dari sini, biarkan dia menenangkan dirinya, aku sudah mengatakannya jangan menemuinya sekarang.” sahut Linda. Pria itu menurut saja dan pergi meninggalkan kontrakan Ratih.


Pria itu adalah Rimba atasan Ratih dikantor pusat yang letaknya di kota samarinda. Pria tersebut pernah mampir di hati Ratih. Tetapi hubungan mereka tidak berjalan mulus, Masalahpun menghampiri hubungan mereka dan Ratih memilih untuk pindah ke kantor cabang yang letaknya berada di kota Makassar, karena alasan tertentu.


Kebetulan pada waktu itu kantor cabang sedang membutuhkan dua staf administrasi. Buat Ratih hidup di kota yang sama sekali belum pernah dia kunjungin bukanlah hal yang sulit, selain itu Ratih berangkat ke kota makassar berdua dengan Linda sahabat dekat Ratih. Ratih sangat antusias menyiapkan keberangkatannya ke kota Makassar untuk memulai kehidupan barunya dan melupakan kenang-kenangan saat bersama Rimba.


     “Pantes saja dia tidak mengangkat telfonku” gerutu Ratih. Yang masih terisak dan berdiri menuju kamarnya, saat mendengarkan suara langkahan kaki meninggalkan kontrakannya.


Sepanjang perjalanan Linda terus memikirkan Ratih dan merasa bersalah sudah mengabaikan telfon sahabatnya tadi pagi. Tidak ada maksud untuk mengabaikannya tetapi Linda sudah berjanji ke Rimba, akan mengantarnya untuk menemui Ratih pagi ini. Setelah menerima pesan singkat dari Rimba yang di kirim Rimba tadi malam.


Saat ini hanya Linda satu-satunya harapan Rimba untuk membantunya bertemu dengan Ratih, Selama kepergian Ratih ke Makassar membuat Rimba tidak tenang karena perasaan bersalahnya terhadap Ratih. Keputusan Rimba untuk berangkat ke Makassar kemarin sore dan baru sempat mengabari Linda pada malam hari karena keberangkatannya yang mendadak, dengan tujuan ingin menemui Ratih dan meluruskan kesalahpahaman mereka selama ini. Rimba fikir Ratih akan menerima kedatangannya kembali setelah lima bulan lamanya mereka tidak bertemu, tapi ternyata semua tidak sesuai dugaan Rimba. Ratih masih sangat hancur saat mengetahui kedatangan Rimba.


     “Maafkan aku karna tidak memberitahumu tentang kedatangan Rimba, kita perlu bicara! aku menunggumu di cafe dekat kantor jam enam sore, Aku berjanji akan datang sendirian menemuimu.” ajak Linda. Walaupun pesan Linda tidak mendapat jawaban dari Ratih. Tapi Linda sangat kenal sahabatnya, dia tidak akan tega membiarkan menunggunya di kafe terlalu lama.


Ratih masih terus terisak di atas tempat tidurnya, mengingat kembali orang yang beberapa menit lalu berdiri di hadapannya. Ratih menggerakan tanganya mencari ponselnya sepertinya ada yang mengirimkannya pesan lewat whatshaap. Setelah dia membuka ponselnya ada nama Linda disana yang mengajaknya untuk bertemu sore ini. Ratih melempar ponselnya kesembarang arah tanpa menjawab pesan dari Linda, karena masih sangat kesal terhadap Linda, yang tidak memberitahunya tentang kedatangan Rimba.


Ratih kembali terisak dan menutup kepalanya menggunakan bantal, hingga dia terlelap dalam tidurnya.


*******


Ratih berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya tanpa mempedulikan barang-barang yang sudah berserakah dilantai karena ulahnya. Ratih memutuskan untuk menemui Linda di cafe, tak ingin membuat sahabatnya itu menunggunya terlalu lama. Ratih sudah berdiri di depan cafe sesuai yang  beritahu Linda lewat pesan singkat, kelihatannya suasana cafe sore itu begitu ramai. Ratih menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Linda.


     “Ratih!” Ratih mengalihkan pandangannya menoleh kesumber suara dan melihat Linda yang sudah duduk di pojokan Cafe tersebut.


     “Kamu sudah menangis berapa jam sampai-sampai matamu sebengkak itu?” pertanyaan Linda tidak mendapat respon dari Ratih.


     “Katakan saja apa tujuanmu mengajaku bertemu, tidak usah mepertanyakan hal lain.” ucap Ratih tanpa meneloh sedikitpun ke arah Linda.


     “Baiklah aku akan mengatakannya, tujuanku menemuimu semata-mata hanya mau membujukmu untuk menemui Rimb‐.”


     “STOP!” potong Ratih begitu keras membuat sebagian pengunjung cafe menengok ke arah mereka.


     “Kalo tujuanmu menemuiku hanya untuk membujuku menemui siberengsek itu, lebih baik aku pergi.”  Ratih berdiri dan menyambar kunci motornya tapi tangannya di tahan oleh Linda.


     “Jangan pergi, dengarkan dulu penjelasanku setelah itu kamu boleh pergi.” ucap Linda memohon  sambil memegang pergelangan tangan Ratih.


Ratih pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali duduk di barengin dengan Linda. Ratih masih trus meneteskan air matanya sembari mendengarkan penjelasan Linda tanpa berucap sepata katapun.


     “Silahkan kamu pergi, fikirkan baik-baik ucapanku barusan. besok aku akan menunggumu di tempat ini lagi bersama Rimba.” ucap Linda.


Tanpa menjawab Ratih berdiri dan pergi meninggalkan Linda seorang diri. Ratih berlarih menuju parkiran cafe, tanpa mempedulikan pandangan yang tertuju ke arahnya. Ratih masih terus terisak, dan melajukan motornya menuju kontrakannya.


Ratih duduk termenung di depan jendala bundarnya sambil menengok ke arah langit dan memikirkan ucapan Linda di cafe tadi. Ratih mempertimbangkan ucapan Linda memang ada benarnya,  dirinya harus kuat untuk menemui Rimba dan berbicara empat mata menanyakan semua pertanyaannya yang selama ini sudah dia pendam. biar masalah ini tidak terus belarut.