Gia'S Notebook

Gia'S Notebook
Para manusia pengganggu



Selang beberapa menit, akhirnya aku sampai di sekolah.


" Nah, non Gia. Sudah sampai."


" Iya pak, terimakasih ya sudah mengantar saya."


" Ini sudah menjadi tugas saya, non."


" Kalau begitu saya masuk dulu ya pak, hati-hati di jalan.." Kala itu hatiku masih sangat bahagia, hanya karena sebuah mainan.


Waktu menunjukkan 06.45 sedangkan pelajaran mulai pada pukul 07.15, yang berarti aku masih memiliki cukup waktu untuk bermain sejenak.


Aku berlari dan tertawa kecil melihat mainan kincir angin ku berputar tertiup angin. Aku sangat-sangat ingin cepat sampai ke dalam kelas, lalu pergi ke taman belakang sekolah.


Sayangnya lagi dan lagi, ada saja yang menghilangkan kebahagiaan itu.


" Hei, polos! Akhirnya datang juga." Ucap perempuan sebaya ku yang bernama Luna. Tidak hanya itu, ia memiliki circle pengganggu dengan 2 temannya, Hazel dan Myla.


Awalnya aku takut, aku terpaku oleh ancaman manipulatif nya. Namun, sekarang tidak.


Aku adalah orang yang sangat membenci keributan, berisik, dan omong kosong. Semua ada pada mereka. Dasar.. tidak pernah jera.


Aku menatap tajam Luna, ketua circle pengganggu dan berusaha acuh. Namun, mereka menarik tas ku cukup kuat.


" Eh.. eh.. mau kemana? buru-buru banget." Ucap Luna. Aku memutar bola mataku, malas. Tanpa berucap satu patah kata apapun.


" Woi! Lo bisu ya?" Kata Hazel.


" Haha.. liat deh guys, dia ke sekolah bawa mainan." kata Myla.


" Utututu.. Anak kecil kan emang butuh mainan, biar ga nakal." Lanjut Hazel.


"HAHAHAHAHAHA!!"


" Sudah besar tapi masih memainkan kincir angin, sadar umur dong... Astaga, aku lelah tertawa." Kata Myla.


" Bentar deh guys, gimana ya kalo Bu Sulis tahu Gia bawa mainan?". Luna mulai memanipulasi ku.


" Itu mah ga usah ditanya, ya pasti di sita lah".


" Habis itu nangis deh.. HHAHAHAHA". Mereka terus mengejek.


" Hei, dengar baik-baik. Bu Sulis tidak menyita barang anak muridnya selagi tidak melewat batas, yang penting saya tidak membawa alat make up, yang sangat jelas di larang. Namun, kalian membawanya. Haha.. yang benar saja. Silahkan, kalian laporkan saya. Saya akan melakukan pelaporan balik..." Aku berhenti sebentar, menatap wajah para pecundang." Lain kali, gunakan otak mu sialan."


" Wahh.. clap.. clap". Luna bertepuk tangan dengan wajah gembira.


" Berani juga ya lo, ngomong kayak gitu ke gw". Kata Luna.


" Kira-kira anak kurang ajar ini kita apa kan ya guys?". Ucap Myla, mengelilit rambutnya dengan jemari.


Aku masih berada di posisi melihat tingkah konyol mereka.


*Scrapp


Kincir angin yang baru saja ku beli, diambil oleh mereka. Sudah pasti aku sangat marah.


" Gw ambil mainan lo, hahahaa". Luna yang memulai.


" Cepat kembali kan!". Tegas ku.


Bukannya di beri, Luna malah melempar nya ke tangan Hazel, lalu ke tangan Myla , secara bergantian dan terus menerus.


" Ambil aja kalo bisa". Ucap Hazel


" HAHAHAHHAAHAHAH".


Aku sangat kesulitan mengambil mainan itu, mereka mengangkatnya cukup tinggi. Tiba-tiba...


" ARZHEL!". Siapa dia? Teman sekelas ku. Arzhel mengambil mainan itu dengan sangat mudah, karena tubuhnya yang tinggi melebihi mereka bahkan aku.


" Luna.. Luna.. engga cape ya? mengganggu Gia terus". Ucap Arzhel.


" Ehh.. kamu Arzhel, aku engga ngapa-ngapain Gia kok. Ya kan guys!?". Luna melakukan kontak mata tajam.


" Iya kok Arzhel, tadi kita cuma bercanda aja". Sambung Myla.


" Hmm.." Singkat Arzhel.


Tanpa basa-basi, Arzhel langsung menarik tanganku dan membawa aku pergi dari gerombolan pecundang tadi.


...Bersambung.....