
Keesokan paginya aku kembali bergegas berangkat ke sekolah. Setiap hari aku selalu melewati sarapan, aku sangat malas duduk dengan para manusia keji.
Ibu tidak pernah memasak, atau memberi aku bekal. Tidak seperti adikku yang mendapat seluruh kasih sayang.
Bi Ina lah yang selalu memberiku bekal, entah itu hanya sepotong sandwich, buah, nasi dan lauk pauk. Aku sangat menyukainya. Karena ia tahu aku tak ingin sarapan.
Seperti hari ini di kala hari sibuknya, Bi Ina masih menyempatkan waktu untuk membuat bekal untukku.
Akhir-akhir ini ia tak pernah lagi menyuruhku untuk sarapan, mungkin dia sudah bosan.
Aku menuruni tangga dan melihat mereka, yaitu adikku dan ibuku yang tengah tertawa ria. Bahagia sekali hidupmu, dik.
Omong-omong aku belum mengenalkan adik perempuanku.
Dia bernama Shylla Abbie Shahab. Saat ini usianya beranjak 13 tahun, yang tak lain kelas 1 SMP. Aku sudah terbiasa dengan perbedaan sikap yang ibu berikan. Layaknya anak tiri dan kandung. Seperti itulah.
Sosok perempuan yang manja sikapnya, dan selalu memberontak jika keinginan nya tidak terpenuhi. Shylla bisa berteriak layaknya orang gila. Semua barang di atas meja, ia jatuhkan karena emosi yang meluap-luap. Persis seperti ibu. Sungguh menjengkelkan dan berisik.
Hatinya pun penuh dengan kebencian, mengapa demikian? Pertama, yaitu bisikan iblis ibu. Kedua bukan tanpa sebab, prestasi yang ku punya. Ia tak sepintar aku. Tunggu.. Maksudnya tak sekuat aku.
Layaknya anak permaisuri, bila ia melakukan kesalahan bahkan nilainya turun drastis sekalipun. Ibu hanya berkata, " Tidak apa sayang, kau sudah melakukan yang terbaik."
Iri? Tidak, sama sekali tidak. Dengan mental yang kuat tahan banting sejak lahir, mendengar perkataan ibu semacam itu, rasanya aku ingin muntah. Aku tak berbohong.
Shylla membenciku sejak para tetangga rumah dan teman-temannya, mulai membandingkan ia denganku. Aku mendengarnya sendiri.
Seperti, "Kenapa tidak seperti kakakmu?",
" Mengapa kamu berbeda dengannya?".
Sejujurnya Shylla nasibnya tak jauh beda denganku, namun ia selalu diberi energi kasih. Sedangkan aku? Ayah sudah tiada.. Rumahku hilang bahkan seisi dalamnya, semuanya.
Huh.. Baiklah, kembali ke dalam cerita.
Aku menghiraukan mereka dan terus berjalan ke pintu keluar, namun Bibi memanggilku.
" Selamat pagi non cantik, ini saya buatkan bekal untuk non Gia, jangan lupa dimakan ya non.."
" Astaga bi.. tidak perlu repot-repot. Gia akan makan bekal bibi, trimakasih banyak ya".
" Iya non, sama-sama". Wanita yang sangat baik dan tulus hatinya.
Aku berangkat dengan supir pribadi, seperti biasanya. Padahal aku ingin berjalan, supaya ada terasa sedikit kebebasan. Namun ibu selalu melarang hal itu.
Kemarin saja aku dapat kesempatan pulang sendiri, karena pak supir sedang sakit dan ibu tidak bisa menjemput ku karena ia akan pulang terlambat. Katanya ada urusan dengan klien. Suatu keberuntungan untukku.
" Pagi non Gia.." Ucap pak supir yang bernama pak Tio.
" Pagi juga pak Tio, gimana keadaannya sekarang pak? apakah sudah siuman?".
" Baiklah kalau begitu, ayo pak kita berangkat".
" Baik".
Di tengah perjalanan, aku melihat keluar dengan tatapan kosong. Aku memikirkan betapa enaknya dunia luar, dan dapat bebas sesuai apa yang aku inginkan. Tidak selalu belajar, belajar, dan belajar. Batinku lelah.
Lalu tak lama aku melihat seorang ibu yang menjual sebuah mainan kincir angin dari plastik, lucu sekali.
Tanpa lama aku meminta pak Tio untuk berhenti sebentar.
" Pak.. Pak Tio berhenti dulu di depan ya".
" Ada apa non? Non mau kemana?".
" Janji, hanya sebentar".
Aku menghampiri ibu itu yang tak jauh jaraknya. Terlihat begitu banyak bentuk dan warna yang bermacam-macam.
" Permisi bu, saya mau beli mainan nya".
" Syukurlah.. ada yang beli, iya neng boleh silahkan di pilih dulu". Ibu itu tersenyum dan matanya berbinar.
" Mmm??.." Setelah melihat-lihat, pandanganku seketika terpaku pada salah satunya, membuat ku merasa deja vu.
" Saya mau beli yang ini bu, harganya berapa ya?"
" 15.000 aja neng".
" Ini bu uangnya". Aku memberikan selembar uang 20.000, aku rela menyisihkan sebagian tabunganku hanya untuk menuruti inner child dalam diriku.
Inner child sungguh membuatku seperti anak kecil. Namun, apapun keadaannya aku harus mengobati itu sendiri.
" Kembaliannya ambil saja". Ucapku. Melihat sang ibu kesusahan mencari uang receh dalam tasnya. Jualannya juga terlihat masih banyak.
Hatiku tergerak melihat ibu itu. Rasanya aku ingin membeli semua dagangannya. Aku sangat-sangat ingin membantu banyak orang yang kurang mampu.
" Benarkah? Terimakasih banyak ya neng".
" Iya bu, sama-sama.. Kalau begitu saya permisi".
Aku meninggalkannya dan kembali ke dalam mobil. pak Tio melihat mainan yang ku bawa. Dan tersenyum.
" Sudah non?".
" Um.. Sudah". Entahlah aku sedikit bingung dengan sikap pak Tio, ia tidak membicarakan mainan yang ku beli. Padahal cukup aneh, manusia seusia ku membeli mainan anak kecil. Benar, kan?