Gia'S Notebook

Gia'S Notebook
Luapan hati kecil Gia



Aku percaya, di langit, banyak doa yang berlalu lalang meminta kekuatan. Salah satunya, doaku.


Di langit pula, ada sosok yang sangat indah, yaitu ayahku. Meski langit sudah tampak temaram, namun renjana ku untuknya tak pernah hilang.


Langit meneteskan air untuk membuatku bahagia, hujan namanya. Hujan adalah temanku, dia mampu menyembunyikan lara manusia. Aku selalu gila di abun-abun...


Kepercayaan ku kepada seseorang telah hilang. Kepercayaanku sekarang hanyalah kepada langit. Walau tak abadi, tapi nirwana hanya ada padanya.


Hidup dibawah langit, mati keatas langit. Tak ada manusia yang spesial di dunia.


Lalu, haruskah ku mencari diriku yang dulu? Jika diriku yang sekarang sudah jauh lebih bahagia.


Sungguh lelah ku mencari, jika ujungnya tetaplah sama.


Aku trauma akan suatu hubungan, baru. Rumah ku kokoh, namun dalamnya hancur. Tidak ada yang mampu bertahan. Perlahan semuanya pergi tanpa berpamitan. Mereka hanyalah tamu yang tak bisa ku paksa tinggal.


Jika hanya singgah, namun tidak menetap, untuk apa?


Jika kebahagiaan itu hanya lah sementara, untuk apa?


Lebih baik aku berada pada kesedihan yang lama.


Jika ujungnya hanya membuat tak enak hati. Lebih baik sendiri, bukan?


Sekarang aku mengerti, bahwa penemuan tersulit adalah penemuan diri sendiri.


Namun, dengan kesepian, aku bisa lebih memperhatikan diriku sendiri. Tapi lagi-lagi yang ku temukan hanyalah kegagalan. Tidak ada yang bisa dibanggakan, seperti kata ibu.


Aku masih mengingat kalimat yang ayah ucapkan semasa ia masih hidup. Begini katanya, " Gia, anakku. Kamu sudah melalui banyak hal berat, dan orang lain belum tentu bisa melakukannya sebaik kamu. Berjalanlah perlahan. Ayah bangga denganmu, nak."


Hanya ayah yang bangga denganku, walaupun sebenarnya aku tidak tahu dimana letak yang ia banggakan.


Ambisiku yang tak kunjung selesai. Keinginan yang bermunculan tiada henti. Tak ada satupun yang terwujud. Haruskah ku menulis di sebuah kertas dan menerbangkannya di udara?


Lalu, apakah rindu selalu berwarna gelap, bahkan kasat mata? Apakah ada seseorang yang mati karena tak kuasa menahan rindu?


Aku tahu, melalui dosa yang dinikmati, seorang manusia bisa belajar dewasa.


Lalu, bagaimana dengan hidupku yang datar? Dimana letak kedewasaanku? Apakah aku melakukan kesalahan? Bukankah selama ini aku yang sengsara?


Aku merasa selalu lebih tahu bagaimana seharusnya orang lain menjalani hidup. Namun bodohnya, aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku menjalani hidup. Bahkan, orang lain tak mau mendengarkan.


Mengapa manusia sering bertindak sesuka hati, tanpa memikirkan orang lain?


Ketika suka mereka pergi. Ketika duka mereka kembali. Apakah aku seorang psikolog? Yang tugasnya harus mendengarkan dan menjadi penenang.


Sedangkan diriku, harus pergi ke siapa? Haruskah ku pergi ke psikolog sungguhan?


Pendengar juga mempunyai masalah. Pendengar juga memiliki batas kesabaran. Jika orang itu tidak mau menuruti solusi yang kita punya, dengan tujuan membuatnya lebih baik. Apa yang harus diperbuat?


Maaf, jika aku belum sepenuhnya mengerti perasaan kalian, mengerti keadaan kalian sekarang. Karena aku sendiri belum mengerti siapa diriku.


Sebanyak apapun, dan seluas apapun aku menasehati kalian, tidak akan ada yang di lakukan.


Pendengar yang baik butuh pendengar yang baik juga, kan?


Katanya ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Tapi, dimana balasannya?


Sulit mencari orang yang ada sama dimakan, tak ada sama dicari. Karena yang mencari, hanyalah diriku.


Setiap hari seakan selalu ada masalah dibalik masalah yang telah diselesaikan.


Sesuatu yang harusnya bisa dinikmati, tetapi karena nasib sedang tidak baik, tidak dapat dinikmati.


Tak ada gunanya berjuang dengan orang lain, karna ujungnya hanyalah kompetisi. Lebih baik berjuang dengan diri sendiri. Ku pastikan perdamaian akan datang.


Berjuang akan apa? Berjuang akan seluruh raga yang tersisa...