Gia'S Notebook

Gia'S Notebook
Kembali ke rumah yang tak dirindukan



Di sepanjang perjalanan, tubuhku serasa lemas mengingat pertanyaan manusia tadi.


Orang-orang biasanya menganggap bangunan rumahnya adalah tempat ternyaman di kala hari sibuk yang mereka jalani.


Namun bagiku, bangunan rumah ini sangatlah buruk.


Percuma, kan? Rumah besar dan mewah tetapi didalamnya hanya ada kesengsaraan, pertengkaran, dan tuntutan.


Aku berharap, aku bisa berpindah dari rumah neraka itu dan berpindah ke bangunan rumah lain, yang dimana anggotanya hanyalah aku dan diriku.


Ketika aku sampai di depan pagar rumah, aku menekan bel. Tak lama Bibi membuka pintu pagar untukku.


" Eh.. Non cantik sudah pulang". Dia adalah salah satu pembantu di rumahku, namanya bi Isha. Bi Isha adalah seorang wanita paruh baya yang sudah cukup lama bekerja di rumahku, dia baik dan sangat ramah.


Diantara pembantu-pembantu yang lain, hanya dia yang paling dekat denganku. Dia selalu memberikan perhatian hangat.


" Bibi bisa saja, terimakasih ya bi". Aku tertawa kecil. Aku menyembunyikan semua masalahku dihadapan orang-orang, termasuk bibi dengan senyuman.


Sungguh ini sulit, tapi lama-kelamaan aku bisa membiasakan semuanya


" Iya non..".


"... Non, non Gia.." Ia kembali memanggilku.


" Ada apa bi?".


" Ini non anu, saya mau kasih tau kalo nyonya sedang berada di ruang keluarga. Sepertinya nyonya sangat marah karena non Gia kembali terlambat. Hati-hati ya non".


" Begitu ya bi, tenang saja aku sudah biasa dengan hal itu kok. Trimakasih ya..."


" Iya non, sama-sama".


Bi Isha seperti tahu akan keadaanku yang sedang tidak baik-baik saja. Walaupun aku selalu berusaha menutupi itu semua.


Aku masuk ke dalam rumah, dan benar saja. Aku melihat ibu yang sedang menonton tv dengan raut wajah kesal. Terlihat emosinya meluap-luap ketika melihatku.


" Dari mana saja kamu, setiap hari selalu pulang sore. Ibu kan sudah bilang jangan pulang terlalu larut!". Ibu menarik kedua kerah bajuku, dan meremasnya kuat.


" Tapi, ini masih jam 17.15 Bu." Aku memberanikan diri.


" Sama saja!. Sudah, sekarang kau belajar. Perbaiki nilaimu kemarin. Kau harus bisa mempertahankan peringkat 1 di kelas, dan mendapat nilai bagus. Kalau sampai turun lagi, ibu akan menghukum mu, bahkan mengusir mu?". Dan akhirnya cengkraman itu dilepas.


"Hm.." jawabku singkat.


Ya, ibu selalu menuntut aku untuk terus mempertahankan peringkat itu. Sungguh peringkat yang menyebalkan.


Jika aku bisa, aku akan memberikan peringkat itu kepada teman-teman ku dengan sukarela.


Mereka tak akan pernah tahu, bagaimana susahnya mempertahankan.


Mempertahankan manusia saja malas, apalagi nilai. Mendapat peringkat 1 terus-menerus, membuat banyak yang menganggap aku seakan pintar akan semua pelajaran. Di bidang akademik maupun non akademik.


Seolah-olah menjadi tulang punggung kelas, bahkan sekolah. Jika semisalnya gagal, akan ada rasa malu dan kecewa yang mendalam pada diri sendiri. Sebab itulah aku ingin mengakhiri semuanya, namun tak bisa. Hidup terus berjalan seperti angin.


Lalu, aku pergi meninggalkan ibu untuk membersihkan diri. Nasih baik kamar mandi ada di dalam kamar tidur, jadi aku tidak perlu keluar masuk.


Bagiku, batas pintu kamar adalah batas antara surga dan neraka.


Setelah membersihkan diri, aku pergi ke cermin," Malang sekali.." haha, selalu.


Aku merebahkan diriku di kasur dan mematikan lampu. Apakah aku akan tidur? Jawabannya tidak.


Seperti biasa aku membaca buku novel kesukaanku. Semoga saja nilai ku tidak turun lagi seperti 1 bulan lalu. Aku sempat diusir dari rumah karena hal itu. Padahal dari nilai 100 menjadi 95 saja. Namun, aku berhasil membiasakan semuanya.


Ketika aku sudah lulus dan ternyata nilaiku turun, kemudian aku diusir kembali dari rumah.


Aku berniat akan pergi untuk selamanya..