
Kala itu jam 4 sore, sepulang sekolah aku mampir ke taman seperti biasanya.
Rencananya aku ingin menggambar di buku harian, setelah terinspirasi dari sebuah aplikasi di handphoneku.
Aku duduk di rerumputan hijau segar dengan pohon besar yang berada di samping ku, dan di depanku ada sebuah air sungai yang menenangkan...
Ketika aku sedang asyik menggambar, tak lama ada sosok manusia yang menghampiriku. Layaknya balasan yang sudah ku tunggu-tunggu sekian lama telah sampai.
Tuhan mengirim sosok manusia yang bisa mengubah hidupku.
Awalnya aku tak percaya. Sangat mustahil. Namun Tuhan membuktikan semuanya.
" Hai, permisi, apa boleh saya duduk di sini?".
"Em.. ya". Saat itu aku hanya mengangguk saja. Entahlah, padahal itu adalah pertemuan pertama namun seperti tak ada rasa ragu di dalam diriku.
" Terimakasih banyak..". Laki-laki itu duduk di sampingku dengan wajah semangat.
"... Saya sering melihatmu berada disini sendirian. Apa kamu tidak memiliki teman?".
" Bisa dibilang begitu.."
" Oh.. ya saya hampir lupa mengenalkan diri. Nama saya Alkan".
Terus terang aku sedikit takut, tapi bodohnya aku tetap melakukan sebuah jabatan tangan.
" Senang bertemu denganmu, kak". Karena melihat perawakannya yang tinggi dengan wajah matang dan dewasa, aku memanggilnya kak Alkan.
" Siapa namamu?".
" Maaf, aku tidak bisa mengatakan hal itu".
" Tenang saja, aku hanya ingin bisa lebih dekat dengan mu".
" Gi-a, kak".
" Nama yang cantik".
Setelah melempar senyum hangat kepadaku, ia beralih pandangan pada buku harian yg ku genggam.
" Apa kamu yang menggambar itu?".
" Ya". Jawabku.
" Boleh aku melihatnya lebih jelas?".
" Em.. ya bo-leh". Aku memberikan buku itu kepadanya.
" Gia, apa maksud dari lukisanmu ini?'.
Cukup lama aku berpikir, dan akhirnya aku hanya menjawab yang ada di pikiran.
" Gambar ini mengartikan seorang wanita dewasa yang mandiri, yang selalu menyimpan masalahnya sendiri sepanjang waktu. Bekerja hingga larut malam untuk mendapat uang, dan merawat dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Wanita yang menjadikan karir nomor 1 di kehidupannya, berusaha menyayangi diri sendiri, dan menjadi wanita sukses untuk mencapai kebebasan.."
" Wah.. maknanya dalam sekali".
"... Seandainya aku bisa". Aku termenung. Kalimat itu keluar dari mulutku begitu saja.
" Kamu bicara apa?". Suaranya membuatku sadar.
Kak Alkan memberikan buku itu kembali kepadaku sambil berkata. " Lukisanmu indah sekali, sungguh beruntung akhirnya saya bisa melihatnya. Sejak awal saya sangat penasaran apa yang kamu lukis. Maaf, saya sering memperhatikan mu".
" Tidak apa, kak".
" Padahal apa yang bagus dari lukisan ini?". Ucapku dalam hati tak percaya.
" Juga saya perhatikan, mengapa kamu sering berlama-lama berada disini hanya untuk menatap langit?".
" Banyak abstrak indah yang terlukis di awan". Jawabku singkat.
" Kamu benar.... Lihatlah!! awan itu berbentuk hati." Ia menunjuk tangannya ke atas.
"" Wahh, cantik sekali!." Aku tersenyum tipis.
Kak Alkan memandangku dengan matanya yang indah. Tanpa sengaja, kita beradu pandang. Namun, aku tidak bisa terlalu lama menatapnya, aku menjadi salah tingkah.
" Tapi apakah kamu tahu, apa yang lebih cantik daripada awan itu".
" Apa kak?".
" Senyummu, Gia. Cantik dan manis".
" Umm.. terimakasih." Aku tersipu oleh pujian darinya. Nada bicara kak Andra sangatlah tulus, aku merasakan itu.
" Kembali kasih, Gia" Jawabnya.
" Apa kamu juga menyukai senja?." Mendengar pertanyaan itu, lagi-lagi menbuatku termenung. Tanpa sadar, air mata menetes di pipi.
" Gia, Gia..." Ia memegang pundakku dan memanggil dengan suara lembut.
" Ada apa denganmu?.. kau menangis?".
" Mm.." dengan cepat aku menghapus air mata di wajahku.
" Tidak, tidak. Tadi ada debu yang masuk di mataku, maaf.."
" Tidak apa Gia. Apakah ucapanku tadi mengingatkanmu akan seseorang?".
Aku mencoba menatap matanya. Tatapan indah, tulus, hangat, dan khawatir berada pada wajahnya.
Perasaanku semakin tak karuan. Aku melihat jam di tangan kak Alkan.
" Sekarang sudah jam berapa ya, kak?".
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Jam 5.30". Jawabnya.
" Maaf ya kak.. Aku harus kembali ke rumah. Terimakasih sudah menemaniku disini".
Aku bergegas memasuki barang yang ku keluarkan, termasuk buku harian.
Setelah beberapa langkah, kak Alkan kembali memanggilku.
" Gia!! Sampai jumpa lagi!." Ucapnya sembari melambaikan tangan ke arahku.
Aku membalas lambaian tangannya, lalu pergi menjauh.