
"Stt ..., Maafin Deven ya," kata Deven tulus kepada Anneth sambil mengelus pelan rambut panjang bergelombang Anneth dengan lembut.
"Hiks hiks," isak Anneth masih dengan memeluk tubuh Deven dengan erat seakan tidak mau melepaskan tubuh cowo jangkung yang ada di hadapannya itu.
"Hm .... Go, Ton, samain aja," kata Uwa tak enak kepada Anneth yang menangis di pelukan Deven dengan tersedu-sedu.
"Okey," kata Gogo, Inton, singkat sambil berdiri setelah itu mereka berdua langsung Pergi dari hadapan Anneth dan yang lainnya dan mulai memesankan makanan untuk sahabatnya itu.
"Utututu, Nethi cayang, jangan nangis lagi yah. Deven, bakalan beliin yang Anneth, sukai deh. janji, kecuali Es Cream. 'kan Anneth baru datang," bujuk Deven dengan lembut sambil mengelus pelan rambut bergelombang milik Anneth dan di angguki oleh Anneth.
Anneth pun mulai melepaskan dengan senyuman yang sudah merekah di bibirnya dengan mata yang berbinar dan berkata. "Janji yah? Bakalan beliin, yang Anneth, sukai?" riang Anneth dengan wajah polosnya sehingga membuat sahabatnya lagi-lagi ketawa melihat Anneth yang kelewat polos itu.
"Iya beneran, tapi janji dulu. Jangan pernah beli Es Cream yah?" tanya Deven sekali lagi kepada Anneth dengan mengelus pipi mulus Anneth dengan lembut dan di angguki semangat oleh Anneth.
"Siap ..., Bossque!" jerit Anneth tertahan sambil mencium pipi Deven singkat cup dan membuat seisi kantin melototkan mata mereka tidak menyangka bahwa Anneth bakalan cium pipi Deven.
Sementara Deven ia mematung sebenarnya ini bukan pertama lagi tapi sudah berkali-kali, tetapi kenapa sekarang kayak ada gelenyar perasaan Aneh yang hinggap di hatinya membuat tubuh Deven panas dingin.
Deven pun memegangi pipinya yang tadi di cium oleh Anneth dan tanpa sadar bibirnya pun mulai terangkat seperti bulan sabit, sementara Anneth ia sudah malu karena mencium Deven tanpa tahu tempat.
"Omg ..., Hello!" teriak Ucha baper melihat sepasang sejoli yang sedang bermesraan ini sehingga membuat pipi Anneth memerah menahan malu.
"Mata gue!" teriak Uwa dan Joa bersamaan dengan menutup matanya kala Anneth mencium pipi mulus Deven yang putih.
"Anggap, aja nggak ada!" kata Iden terkejut tetapi masih bisa mengekspresikan wajahnya agar tetap datar melihat Anneth dan Deven.
Sementara Siswa-Siswi sudah heboh karena adegan Anneth tadi banyak banget yang membicarakan dirinya dan Deven.
"Itu pipi Deven di cium dong!"
"Wih, Anneth udah berani wkwkw!"
"Ih gemoy banget sih Neth!"
"Ah! Pasangan romantis!"
"Kenapa nggak pacaran aja sih!"
"Huh! Iya!"
"Ululuh, kayaknya tadi. ada yang di cium tuh," sindir Gogo dan Inton bersamaan dengan berjalan pelan menuju meja mereka sambil membawa mangkok seblak dan es teh buat mereka.
"Hahaha, iya kenapa? Mau?" goda Deven kepada Gogo dan Inton yang baru saja meletakkan nampan berisi mangkok seblak dan es teh manis.
Sementara Gogo dan Inton yang mendengarnya? Mereka sontak melototkan mata mereka masing masing dan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda mereka tidak mau dengan wajah yang menggelikan bagi Deven dan yang lainnya.
"No! No! Gue masih waras kalik!" sentak Gogo kepada Deven dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tak terima atas ucapan Deven dan di angguki oleh Inton yang di sebelahnya.
"Hahaha, ya soalnya kalian 'kan, selalu berdua kemana-mana. Bisa jadikan kalian homo, hahahaha," timpal Deven kepada Gogo dan Inton yang sudah menatap satu sama lain dan langsung mengerdik bahu ngeri dan menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Amit-amit, tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan iwh," ngeri mereka masing masing dengan mengetukkan tangan ke kepala setelah itu ke meja membuat Anneth tambah ngakak melihat mereka.
"Hahaha, kalian mau aja sih, di candain sama Deven. Hahaha," ngakak Anneth bersamaan dengan yang lainnya kala mendengar ucapan Anneth yang asal ceplos itu.
Sehingga membuat Gogo dan Inton meringis malu oleh perbuatan Deven yang asal ceplos itu membuat Gogo dan Inton kesal sendiri.
"Hahaha, dah lah. Yok kita makan dulu, nanti bel masuk lagi. 'kan berabe," ajak Anneth kepada mereka dan langsung di angguki Oleh mereka semua.
Sekitaran kurang lebih dari lima menit Anneth dan yang lainnya pun sudah memakan-makanan mereka dan pas banget saat mereka sudah makan.
Bel masuk pun berbunyi kring kring sehingga membuat semua Siswa-Siswi yang berprestasi langsung ngacir ke kelas sebelum Guru yang mengajar di kelas mereka datang.
Sementara yang nakal, suka bolos, mereka malahan pergi ke taman belakang, Gudang, atau tempat yang biasa untuk membolos dari pelajaran termasuk dengan Deven dan ketiga sahabatnya mereka ingin membolos.
Saat Deven dan yang lainnya ingin beranjak pergi dari hadapan Anneth dan ketiga sahabatnya tiba-tiba tangan mereka langsung di tarik keras oleh Anneth dan yang lainnya dan mengharuskan Deven duduk kembali di kursi mereka yang sebelumnya dengan wajah dingin mereka.
"Kalian, mau ngapain?" tuding Anneth dengan persatu-satu menunjuk wajah Deven dan ketiga sahabatnya dengan telunjuknya.
"Bolos," ucap mereka bersamaan dengan entengnya sementara Anneth dan yang lainnya sudah melotot tajam ke arah mereka.
"Bolos? Astaga Deven, Inton, Iden, dan Gogo. Kalian itu udah kelas sebelas, seharusnya mencontohkan adik kelas dengan baik. Bukan buruk!" hardik Anneth menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan Deven dan ketiga yang tak pernah berubah sedari dulu.
"Bosen, ini 'kan. Baru hari pertama kita masuk, pasti ujung-ujungnya malah nggak belajar. Lebih baik bolos aja iya nggak," kata Deven dengan tenang ia melihat wajah Anneth yang sudah merah menahan amarahnya karena kelakuan Deven.
Anneth dan ketiga sahabatnya mulai menjewer telinga milik Deven dan ketiga sahabatnya membuat mereka meringis kesakitan sambil bermohon untuk di lepaskan.
"Ad-duh-duh, sa-kit. An-neth," ringis Deven sambil mengambil tangan Anneth yang menjewer di telinganya tetapi Anneth malahan mengencangkan jewerannya.
"Ad-duh-duh, plis deh. Lepasin," berontak Deven dan ketiga sahabatnya sambil menepuk-nepuk punggung tangan Anneth sehingga membuat Anneth dan ketiga sahabatnya terkekeh.
"Tapi, harus janji dulu."
Kata Anneth dan ketiga sahabatnya dengan bersamaan kepada Deven dan sahabatnya dan di angguki oleh mereka.
"Jangan bolos," ucap Anneth kepada Deven dan ketiga sahabatnya dan di angguki oleh mereka semua.
Dan saat itu juga tangan Anneth dan ketiga sahabatnya pun melepaskan jeweran mereka yang ada di telinga Anneth.
Anneth dan ketiga sahabatnya terkikik kalah melihat telinga sahabat cowo mereka merah gara gara kelakuan mereka.
"Haduh, pasti merah banget nih," dramatis Inton dan Gogo sambil mengelus-elus telinga mereka yang memerah diikuti oleh Deven dan Iden.
jangan lupa Like dan komennya terima kasih semoga suka😍