
Shendy masih menyalin semua catatan milik Arra. Ditinggal Shendy Arra jadi rajin menulis. Biasanya Arra hanya akan mencatat poin inti dari materi yang guru mereka sampaikan, tapi lihat sekarang, cewek itu bahkan mencatat semuanya mulai dari guru yang mengucapkan salam sampai akhir, bahkan Arra menulis saat Sang Guru yang menjelaskan materi keluar dari kelas.
Sedetail itu?
“Ar-“ Ucapan Shendy menguap di udara saat melihat Arra yang berada didepannya sudah tertidur dengan lelap. Memangnya selama apa Shendy menulis?
“Hmm dasar Arra.”
Shendy beranjak, mendekati Arra. Menyelipkan satu tanganya ke bawah lutut Arra dan satu tangan yang lain diletakan di belakang tengkuk sahabatnya itu. Dengan perlahan Shendy mengangkat tubuh ringan Arra, membawanya masuk kekamar, menidurkan tubuh kecil Arra dengan perlahan di atas ranjang, dan menyelimutinya.
Cantik...
Itu memang benar, Arra terlahir dalam keluarga dengan keuangan yang mencukupi, bahkan lebih, jadi wajar bila Arra tumbuh menjadi gadis cantik yang pandai merawat diri. Shendy jadi ingat saat dia dan Arra melakukan perawatan wajah menggunakan masker yang Arra punya. Arra bahkan sangat terampil mengoleskan racikan maskernya kewajah Shendy saat itu. Bahkan selama ini Arra-lah yang selalu mengingatkan Shendy untuk memakai ini dan itu. Arra bilang agar wajah Shendy tidak berjerawat. Dan jadilah sekarang Shendy rajin menjaga dan merawat wajahnya. Menguntungkan sekaligus menyebalkan.
Yah untung, karena wajah Shendy jadi tidak berjerawat dan kata orang ganteng, tapi menyebalkan karena dimana Shendy berada akan ada cewek yang memekik heboh saat Shendy menatap mereka, padahal Shendy hanya sekedar melihat bukan bermaksud menatap atau menggoda. Tapi sudahlah!
Shendy hendak kembali ke balkon, sebelum tangan mungil mencekal pergelangan tangannya. Shendy menoleh, dan mendapati Arra yang menggenggam tanganya dengan mata yang setengah terbuka.
“Kok bangun Ra?”
“Jangan pulang.” Arra berujar dengan mata ngantuknya.
“Enggak kok, Shendy mau lanjut nyalin dulu.”Shendy menjelaskan
“Udah, Arra tidur dulu yah.” Shendy perlahan melepaskan tangan Arra. Mengelus puncak kepala Arra pelan sebelum kembali ke balkon.
Shendy mendudukan dirinya di kursi yang semula dia duduki. Menatap Arra sebentar dan tersenyum. Seakan meyakinkan Arra bahwa dia tidak akan pergi. Arra balas tersenyum dari kasurnya kemudian membalikan badan dan bersiap kembali tidur. Shendy mengulas senyumnya semakin lebar, Arra akan bertambah cantik apa bila bersikap manja kepada dirinya. Makanya Shendy suka setiap kali Arra bermanja padanya, dia akan menikmatinya walaupun dia sendiri yang dibuat susah. Kadang-kadang....
-*-
“Ahkkk gila yah, satu minggu gak masuk aja, nulisnya udah sebanyak ini, apa lagi kalo sebulan? Bisa patah, jari gwe buat nulis doang. Arra emang the bast dehh, gwe salut sama dia.”
Gumam Shendy sambil meregangkan badannya yang terasa pegal. Menatap Arra yang sekarang dalam posisi menghadap kearahnya. Seulas Senyum kembali terbit di bibir Shendy. Shendy membereskan semua bukunya tak lupa juga membereskan buku Arra yang dia pinjam.
Shendy melangkahkan kakinya menuju ranjang. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, sebelum Shendy mendengar seseorang mengetuk pintu kamar Arra. Dengan perlahan Shendy membukakan pintu. Takut mengusik Arra yang sudah nyenyak dalam tidurnya.
“Om Sunjaya?”
“Arra udah tidur Shen?” Shendy mengangguk.
“Udah dari tadi Om.”
“Om mau bicara sama kamu... sebentar. Bisa?” Sunjaya bertanya, Shendy mengangguk.
Kemudian keduanya beranjak meninggalkan kamar Arra, dengan Sunjaya yang berada di depan dan Shendy yang mengekori dibelakang. Keduanya sampai di ruang keluarga, Sunjaya menyuruh Shendy duduk , dan dengan segera di laksanakan oleh Shendy.
“Kenapa yah Om?” Shendy mulai bertanya, bukan apa-apa dia hanya sudah mengantuk.
“Om cuma mau nanya gimana keadaan Nenek Ainun di Bandung? Sehat?” Sunjaya sedikit berbasa-basi.
“Alhamdulillah Om sehat. Nenek juga titip salam buat Om sama Tante katanya kapan main kesana?” Shendy berujar dengan tenang.
“Syukur lah. Nanti kapan-kapan Om main kesana. Shendy, Om sebenarnya mau bicara serius sama Kamu.”
“Tentang apa Om?” Shendy ikut serius
“Shendy kamu taukan, gak ada orang lain yang lebih Om percaya buat jaga Arra selain Shendy.” Sunjaya menjeda sejenak. Shendy mengangguk membenarkan.
“Shendy juga tau kan, Arra gak bisa kalo gak ada Shendy di sisi Arra?”
“Shendy juga gitu Om.” Sunjaya tersenyum.
“Kalau seandainya Om kasih Shendy tanggung jawab buat jaga Arra selamanya Shendy gimana?” Shendy tersenyum sedikit bingung sebenarnya.
“Shendy bakal jaga Arra kok Om.”
“Umm... bukan sebagai Sahabat.” Shendy mengernyit tak paham.
“Maksudnya Om?”
“Shendy mau gak kalau setelah Shendy lulus SMA, Shendy sama Arra nikah?” Shendy sedikit terkejut.
Hening sejenak...
Shendy menimang, bagaimana caranya untuk berbicara pada Papah dari Sang Sahabat. Karena jujur jika di tanya mau tidak menikahi Arra? Ya jelas Shendy akan menyetujuinya, walaupun dia juga belum yakin terhadap perasaaannya sendiri. Tapi ini berbeda lagi, masih banyak impiannya yang belum dia capai. Dan Shendy juga yakin kalau Arra juga memiliki hal yang sama. Lagi, bagaimana kalau Arra tidak setuju akan hal itu namun dia sudah menyetujuinya dan berakhir dengan Arra yang membencinya seumur hidup walau tinggal bersama? Ahh itu terlalu berat untuk Shendy. Dia tidak bisa dimusuhi Arra.
“Om Maaf, bukan maksud Shendy buat nolak atau gimana. Cuma Shendy belum yakin buat hal itu Om, lagian Arra sama Shendy-kan masih muda. Shendy juga masih mau ngejar cita-cita Shendy. Dan Shendy yakin Arra juga sama kaya Shendy.” Shendy menjeda ucapannya.
“Jadi Shendy pikir buat sekarang sampai lulus SMA nanti biarin Shendy jaga Arra dalam konteks Sahabat dulu Om.” Shendy menatap Sunjaya dengan takut-takut. Yang di balas dengan senyum lebar dari Sunjaya.
“Kamu emang yang terbaik Shend, Om jadi makin Salut sama kamu. Om yakin kamu bakal bisa jaga Arra. Om juga setuju sama pemikiran kamu.” Sunjaya menepuk pundak Shendy bangga. Shendy balas tersenyum.
-*-
Arra perlahan membuka matanya, dia melirik kearah samping namun tak mendapati seseorang yang dia ingin lihat. Mencoba menepis pikiran buruk, Arra menengok ke arah balkon, tempat dimana cowok yang tadi menyalin catatanya berada di sana. Kosong, bahkan tirai yang menutupi balkon pun sudah di tutup. Kemana cowok yang harusnya ada di kamarnya? Arra mencoba tenang, perlahan turun dari ranjang mencoba peruntungan. Mungkin cowok itu sedang berada dikamar mandi, itu bisa jadi kan? Lagi, harapan Arra pupus, cowok itu tidak berada di sana. Cowok itu tidak berada didalam kamarnya. Cowok itu Shendy. Kemana Shendy?
Arra mulai gusar, dia berjalan keluar, tanpa memperdulikan lantai rumahnya yang terasa dingin dan menusuk kulit kakinya yang tak beralas kaki. Arra bingung, kemana cowok yang seharusnya ada di sisinya? Bukankah cowok itu berjanji untuk tidak meninggalkannya? Tidak pergi dari rumahnya? Lantas kemana cowok itu? Arra benar-benar dibuat gila! Kemana cowok itu, kemana cowok yang dia anggap sebagai sahabatnya itu? Kemana Shendy?
Di lain tempat, namun di satu lokasi yang sama, dua orang pria tengah duduk dengan santai sambil saling bertukar cerita tentang seorang yang sama-sama mereka sayangi.
“Kamu tau Shend? Pas kamu gak ada Arra udah kaya orang gila, rambutnya kusut. Kantung matanya item bangettt, lucu. Percis kaya panda ahhahha!” Ucap pria yang lebih memiliki umur. Sunjaya Papah dari cewek yang sedang mereka bicarakan itu, tertawa lepas. Mengingat betapa kacaunya sang putri saat Shendy tak berada di samping anaknya.
Shendy yang menjadi lawan bicara hanya tersenyum. Berbeda dengan perasaannya yang mulai tidak enak, dia takut Arra terbangun dan melihat Shendy tidak ada di samping cewek itu dan mencarinya kemana-mana. Bagaimana kalau Arra-nya itu sampai berfikir kalau Shendy pulang, dan berfikir kalau dirinya tidak menepati janji?
Dari arah belakang Shendy mendengar suara langkah kaki yang tergesa, begitupun dengan Sunjaya yang semula masih sibuk dengan tawanya. Mereka berdiri, saling tatap, sambil memasang badan bersiaga jika ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
Dari arah belakang tempat mereka berdiri derap suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas, Shendy berbalik dan mendapati seorang cewek dengan penampilan yang berantakkan datang menghampirinya dan tanpa sungkan memeluknya erat, bahkan didepan Sang Papah yang tabiatnya ada di sisi mereka.
“Arra.”
Shendy balas memeluk cewek yang menimbulkan kekhawatiran di hatinya tadi. Benar, apa yang dipikirkannya, Arra terbangun dari tidurnya dan khawatir saat dirinya tidak ada disamping cewek itu.
“Shendy kenapa ninggalin Arra?” tanya Arra dalam pelukan Shendy. Bahkan Arra tak sanggup menahan air matanya saat melihat cowok yang dia khawatirkan pergi, ternyata masih berada di dalam rumahnya.
“Maaf-in Shendy yah, tadi Om Sunjaya mau ngobrol sama Shendy, jadi Shendy pergi sebentar.” Shendy berucap dengan lembut, sambil mengusap punggung Arra yang berada dalam rangkuhannya.
Arra melepaskan pelukannya dan mengangguk. Shendy tersenyum, mengusap air mata yang membekas di pipi sahabatnya itu dengan sayang. Arra berhenti menatap Shendy dan beralih menatap Sang Papah.
“Papah kenapa sih, ajak Shendy ngobrol gak bilang dulu sama Arra?” Arra menatap Sunjaya dengan kesal.
“Ouh jadi sekarang kalo Papah mau ngomong atau ngobrol sama Shendy harus bilang sama Arra, dan harus ada Arra gitu?”Arra mengangguk mantap.
“Iya. Karena sekarang Shendy gak boleh jauh dari Arra. Gak boleh walau sebentar aja titik!” Arra memeluk tangan kanan Shendy erat.
“Iyah deh. Tuan putri.” Sunjaya mengalah.
Menyuruh sepasang sahabat itu untuk tidur karena waktu yang sudah larut malam.
Keduanya berlalu menyiksakan Sunjaya yang tersenyum. Ternyata pikirannya memang benar. Bahwa Shendy memang membawa pengaruh yang besar terhadap Sang Putri. Terkadang rasa takut muncul di pikiran dan hati kecil Sunjaya. Takut bila kelak dia harus meninggalkan Sang Putri Sematawayang jauh sekali dan Sang Putri merasa takut dan sedih saat Shendy juga sibuk dengan dunia kerjanya.
Aku harus lebih semangat kerja!
-
Malam berlalu, berganti pagi yang menjelang. Suasana cerah menyelimuti pagi hari ini, bukan hanya langit yang cerah tapi juga hati Arra yang sedang dalam suasana yang amat cerah bahkan melebihi cerahnya hari ini.
Shendy menurunkan Arra dari gendongannya, Arra berujar terima kasih seperti biasanya, mereka mendapat tatapan yang aneh namun tak pernah mereka hiraukan seperti biasanya. Sama seperti saat ini, Arra yang datang bersama Shendy membuat kelas yang semula riuh entah kanapa mendadak sunyi. Semua orang memfokuskan Attensi mereka pada kedua orang berbeda jenis itu dengan tatapan yang aneh.
Hening... bahkan tak ada yang bergerak barang sejengkal pun.
Hingga semuanya berubah hanya dalam sedetik kelas kembali riuh dengan tepuk tangan dan sorak senang dari teman sekelas Arra dan Shendy membuat keduanya yang merasakan keanehan itu hanya mengernyit heran dengan saling tatap.
“Yeayyyyy akhirnya Shendy sama Arra balik akur lagi!” Laddy berteriak heboh. Semua orang kembali bertepuk tangan.
Emang apa yang hebat dari hal itu?
“Selamat yah Arra Shendy.” Nathalia menyalami keduanya.
“Iya, selamat yahh Arra. Gwe ikut bahagia deh.” Dynar melakukan hal serupa seperti yang dilakukan oleh Nathalia.
Arra dan Shendy kembali saling bertukar tatap, mereka seakan pengantin baru yang baru saja melewati ijab kabul dan sekarang teman-teman sekelas mereka menyalami mereka sambil mengucapkan selamat.
Fixs Arra sama Shendy percis pengantin baru!
“Ahh udah- udah gwe sama Shendy berasa pengantin baru!” Arra berseru keras. Sontak membuat semua orang yang ada dalam kelas itu tertawa kencang, kecuali satu orang. You all know who it is. Right?
“Gais. Bener yah, kalian itu receh!” Arra kembali teriak. Semua temannya kembali tertawa bahkan lebih kencang, sampai mengundang perhatian dari kelas sebelah dan beberapa orang yang tengah melewati kelas mereka.
Arra kesal, dari pada dia berbicara lagi yang akan menimbulkan gelak tawa dari semua teman-temannya lebih baik Arra duduk. Berjalan dengan menarik salah satu tangan Shendy agar ikut bersamanya.
“Ciee pengantin baru udah tarik-tarikan!” Teriak Cipto mengompori, membuat seisi kelas kembali tertawa terpingkal-pingkal bahkan ada yang sampai berguling dilantai.
“Gas terus Shendy jangan kasih kendor!” Regal ikut membuat heboh dengan menimpali ucapan Cipto.
Arra dan Shendy hanya diam tanpa berniat membalas. Membuat semua teman- temannya semakin gencar untuk meledek keduanya yang baru berdamai itu.
“Kelas Eudannnnn!!!” Arra teriak, membuat tawa kambali pecah dalam ruang kelas 12 Ipa 3 di pagi yang cerah ini.
-*-