Friendship

Friendship
23



Arra masih sesunggukan dalam pelukan Shendy. Rasanya tak menyangka hari yang berawal dengan cerah kini harus berakhir dengan kesedihan dan pertengkaran. Arra tak habis pikir kenapa Reno mengatakan semua hal itu di depan semua orang, dan kenapa harus di depan Dynar juga? Bagaimana kalau Dynar dan teman-temannya yang lain tak mau lagi berteman dengan dirinya? Fiks, mulai sekarang kebencian Arra terhadap Reno bertambah satu tingkat!


“Udah Ra. Gak bakal ada apa-apa kok. Semua bakal baik-baik aja Ra, udah yah.” Shendy berkata menenangkan.


Arra melepaskan pelukkannya, menatap Shendy dengan mata yang sembab akibat menangis lebih dari 30 menit lamanya.


“Shendy bakal selalu ada buat... Arra-kan? Shendy gak bakal ninggalin Arra-kan?” Arra bertanya khawatir. Mata yang sembab dan nada yang terpotong-potong akibat sesenggukan membuat Arra semakin lucu di mata Shendy, membuat cowok itu terkikik geli.


“Ihh... Kok Shendy ketawa sih?” Arra memberenggut kesal. Bagaimana tidak, disaat Arra seperti ini, justru sahabatnya itu malah tertawa tanpa rasa bersalah? Heh membuat Arra kesal saja!


Memangnya Arra badut apa?


“Iyah iyah maaf. Abis Arra lucu sih kalo abis nangis. Matanya sembab kaya panda. Jadi kaya gini nih.” Arra memukul bahu Shendy pelan, kesal karena cowok itu sempat-sempatnya meledeknya dengan mengatakan kalau mata cewek itu seperti panda dengan menarik kantung mata cowok itu kebawah dan menjulurkan lidah secara bersamaan.


“Ah Shendy ngeselin ah...” Arra memajukan bibir bawahnya. Membuatnya semakin menggemaskan di mata Shendy yang dengan cepat menarik tubuh cewek itu kedalam pelukan hangatnya yang dibalas dengan senyum yang muncul dari bibir ranum milik Arra.


“Nahh gini dong senyum. Jangan nangis mulu... jelek.” Arra memukul pelan paha Shendy yang justru dibalas kekehan dari cowok itu.


“Ra, dengerin Shendy!” Shendy menggenggam kedua tangan Arra membuat sang empunya tangan menyerongkan badanya dan menatap Shendy lekat.


“Arra dengerin” Arra tersenyum meledek.


“Ishh Ra... serius.” Shendy meyakinkan. Arra mengangguk.


“Oke. Shendy, Arra serius.” Arra kembali menampilkan senyum meledeknya.


“Ahh Arra mah gak pernah serius!” Shendy melepaskan tangan Arra kasar.


“Yehh gitu aja ngambek. Iyah iya Arra serius nih!” Arra menusuk-nusuk pipi Shendy dengan jari telunjuknya, sedikit meledek sebenarnya.


“Serius Ra.” Shendy bertanya, Arra kali ini mengangguk dengan serius.


“Iyah Apa?” Shendy menghembuskan nafasnya sejenak.


“Arra harus tau, seberat apapun masalah yang Arra hadapi, sesulit apapun jalan yang Arra lalui. Shendy akan selalu ada untuk Arra. Kapanpun dan dimana pun itu. Shendy janji gak bakal ninggalin Arra.” Shendy mengenggam kedua tangan Arra erat. Mata Arra kembali berkaca-kaca dan dalam satu ketipan, air mata Arra turun lagi bersamaan dengan cewek itu yang menghamburkan pelukan untuk Shendy , yang dibalas erat oleh Shendy.


“Arra sayang Shendy. Shendy jangan pernah ninggalin Arra, Arra gak mau di tinggal Shendy, Shendy harus terus sama-sama Arra, sampe kapan pun. Titik!” Shendy mengangguk dalam pelukannya.


“Shendy juga sayang Arra bahkan lebih dari sayang Arra ke Shendy. Shendy janji gak bakal ninggalin Arra, dan Arra juga harus janji gak bakal ninggalin Shendy.” Arra mengangguk. Tersenyum dalam pelukan Shendy yang hangat juga menenangkan itu.


“Arra janji.”


-*-


Bel tanda pulang sekolah, berbunyi nyaring sampai ketaman belakang. Arra yang sedang menikmati semilir angin dengan memejamkan mata di atas paha Shendy yang dijadikan bantalan menggeliat, membuka matanya yang tepat berpapasan dengan mata tajam milik seorang Shendy Sambara yang entah kenapa kalau bermenatap Arra akan berubah lembut.


Paham akan kode yang di berikan oleh Arra tanpa basa-basi Shendy yang semula sudah berdiri, sedikit membungkukkan badan tepat di depan Arra, menyerahkan punggungnya untuk Arra naiki sebelum berjalan dengan Arra yang berada dalam gendongannya dengan aman, dengan tatapan dari semua siswa maupun siswi yang mereka abaikan, seperti biasanya.


“Ra kita ke loker dulu yah?” Shendy bertanya. Arra yang berada dalam gendongnya mengangguk dengan ngantuk yang masih sedikit bersarang dalam mata.


Memang yah, tempat yang paling nyaman bagi Arra adalah Shendy. Punggung Shendy, dada Shendy, paha Shendy, bahu Shendy bahkan semuanya bisa membuat Arra nyaman. Saking nyamannya Arra sampai bisa langsung tertidur jika dengan Shendy.


Ahh Shendy memang tempat ternyaman di duniaaaaa!!!


Shendy berhenti tepat di depan lokernya. Mengguncang tubuhnya sedikit agar Arra terbangun. Bahkan tanpa melihat Shendy tau kalau Arra selama perjalannan dari taman belakang sampai depan loker tertidur di gendonganya. Mereka memang sahabat.


“Ra.” Arra hanya bergumam sebagai jawaban.


“Turun dulu bentar.” Arra menggeleng. Tanda enggan untuk diturunkan dari punggung ternyaman yang dia tau adalah punggungnya Shendy .


“Bentar doang Ra, Shendy susah buat buka lokernya.” Arra akhirnya mengangguk.


Dengan berat hati Arra turun dari punggung Shendy. Karena masih mengantuk. Tubuh Arra sempat oleng, untung ada Shendy yang dengan sigap menarik pinggang ramping Arra dan menahan agar tubuh yang nyawanya mungkin masih berterbangan itu agar tidak jatuh.


Shendy membuka lokernya dengan satu tangan. Dan mengernyit saat mendapati sesuatu ada dalam lokernya.


Coklat?


Mata Arra yang semula masih sedikit mengantuk, kini terbuka dengan lebar. Aura bahagia langsung terpancar di wajah Arra. Tanpa babibu, dengan kecepatan kilat Arra langsung menyambar sebatang coklat dalam loker Shendy tanpa meminta izin pada Sang Pemilik Loker yang hanya tersenyum melihat kelakuan Sang Sahabat.


Senyum Arra perlahan memudar saat melihat sebuah note kecil yang tertempel pada bungkus coklat, dengan kasar Arra menyerahkan kembali coklat yang tadi dia ambil kepada Sang Pemilik.


Shendy yang menatap perubahan ekspresi dari Sang Sahabat, menatap heran note kecil yang tertempel di bungkus coklat. Dengan perlahan Shendy membuka dan membaca tulisan tangan yang tertera di atas kertas note itu.


From Reikka


To Shendy.


Shendy tersenyum saat melihat isi dari note kecil itu. Ternyata ini yang membuat Sang Sahabat mengembalikan coklat kepadanya dengan kasar tadi? Shendy menatap Arra yang menekuk bibirnya terlihat kesal namun menggemaskan bagi Shendy. Dengan perlahan Shendy membuka bungkusan Coklat itu dan mematahkannya dalam bagian kecil. Kemudian menyuapkan pada Sang Sahabat. Arra sempat menolak, namun bukan Shendy namanya jika tidak bisa membujuk Arra untuk memakan potongan coklat yang di sodorkan.


Dengan raut kesal Arra mengambil satu batang coklat yang sudah di buka Shendy tadi. Kemudian mulai memakannya. Arra dengan kemurah hatiannya hendak menyuapi Shendy, namun belum juga coklat itu Arra patahkan Shendy sudah menolaknya, dan mengantakan kalau semua coklat itu untuk Arra. Ahh bagaimana Arra tidak sayang dengan Shendy kalau begini sifat Shendy padanya?


Dengan polos dan tanpa dosa Arra menghabiskan semua coklat yang Shendy berikan, dan dengan wajah lucunya Arra menunjukan kepada Shendy bibirnya yang dipenuhi Coklat membuat Shendy gemas sendiri dan mengelap bibir Arra yang di penuhi coklat dengan bibir Shendy. Bahkan cowok itu melakukanya tanpa rasa jijik. Membuat seseorang yang memeperhatikan mereka dari tadi menahan kesal yang tak terbandingkan. Rencananya memberikan coklat kepada Shendy bukan agar cowok itu bisa merasakan coklat yang dia beri lewat bibir Arra. Tapi dia memberi coklat agar Shendy peka terhadap perasannya dan membalas perasaanya bukan seperti yang dia lihat sekarang.


Kurang ajar!


-*-