
Bel istirahat berbunyi kring kring sehingga membuat aktivitas belajar dan mengajar akhirnya berhenti sejenak untuk merehatkan segala pikiran yang tadinya pelajaran semua akhirnya bisa refreshing juga.
Pak Nahwan pun mulai pamit kepada murid-muridnya yang ada di dalam kelasnya dan berkata. "Baiklah, anak-anak. Kita sampai di sini dulu, selamat Makan, Anak-anak."
Setelah mengucapkan itu Pak Nahwan pun langsung pergi dari kelas menuju kantor sementara Siswa-Siswi membalas perkataan Pak Guru itu.
"Selamat makan, juga Pak," kata Siswa-Siswi bersamaan mulai berjalan pelan ke arah luar menuju kantin, perpustakaan, maupun yang lainnya.
Termasuk Anneth dan sahabatnya yang masih ada di dalam kelas karena melihat teman sekelas mereka, sedang menunggu teman sekelas mereka pergi satu persatu dari kelas-nya.
"Ekhem," dehem Ucha tadi kepada mereka semua sehingga membuat Anneth dan yang lainnya langsung menengok ke samping, depan, ke arah Ucha.
"Hm ..., Ada apa Cha?" tanya Iden kepada Ucha yang sudah menyengir memperlihatkan gigi putihnya ke arah mereka sambil mengelus pelan perutnya yang sudah keroncongan.
"Laper. Pengen makan," sementara mereka semua hanya menepuk jidat mereka heran sama satu sahabatnya ini yang selalu doyan sama makanan apa tak ada yang lain gitu, selain makanan?
"Haduh-haduh, Cha. Gue kira apaan dah, tunggulah sebentar lagi. Tahan dikit kek," sahut Uwa dengan menepuk jidatnya yang mulus karena perlakuan Sahabatnya ini yang tak pernah berubah sedari dulu.
"Hehehe, nggak bisa nahan. Gimana dong?" resah Ucha kepada mereka semua sementara Anneth ia melihat semua isi kelas tidak ada lagi teman sekelasnya akhirnya mereka bisa keluar juga dari kelas tersebut.
"Yaudah, yok. Kita ke kantin!" teriak Anneth semangat dan diangguki oleh mereka masing-masing.
Setelah itu mereka pun langsung keluar dari kelas mereka saat mereka keluar banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan iri, dengki, kagum, dan tatapan yang lainnya di setiap lorong koridor.
Sehingga membuat Anneth dan yang lainnya masa bodo sama mereka, Anneth dan yang lainnya mereka sesekali bercerita di koridor tersebut.
"Eh, iya. Bagaimana ngedate, kalian berdua?" goda Joa kepada Anneth dan Deven yang sedari hanya diam menyimak apa yang mereka ucapkan sontak pertanyaan tersebut membuat kepala Deven maupun Anneth menoleh 90 derajat ke arah Joa.
"Ngedate?" tanya mereka berdua bingung dengan menaikkan alis mereka masing masing, dan menatap satu sama lain dengan tatapan bertanya.
"Iya, ngedate. Yang kemaren 'kan, kalian berdua jalan bareng," ceplos Iden tanpa dosa dengan melihat mereka yang masih bingung sehingga membuat temen-temennya terkekeh geli.
"Ouh, itu ya. Gue, mah, nggak ngedate kalik. Cuman jalan biasa doang, iya nggak Nethi?" tanya Deven membuat Anneth menoleh dan tersenyum manis kepadanya dengan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Masa sih? Nggak percaya kita tuh!" lontar Inton kepada Anneth dan Deven dengan wajah tidak percayanya kepada Anneth dan Deven.
"Yaudah, kalo nggak percaya. Kita mah masa bodo, iya nggak Dev?" tanya Anneth acuh tak acuh kepada Deven dan di angguki oleh-nya membuat temannya memberinggut kesal melihat sikap Anneth dan Deven yang hampir sama itu.
"Yadeh, serah lo pada dah. Pusing kita, tanya sama kalian," sinis Uwa kepada Anneth dan Deven yang masih dengan wajah datar mereka pun sontak melihat Uwa dengan wajah yang cantik cemberut dengan nada suara yang di sinis-in.
"Hahaha," tawa Anneth dan Deven sambil bertos ria bisa membuat semua teman-temannya termasuk Uwa kesel kepada mereka berdua.
"Kalian sih, tanya-nya kayak gitu. Kita nggak ngedate, cuman jalan biasa doang."
Jawab Anneth dan Deven bersamaan, mereka sudah sampai di kantin lebih tepatnya di kursi yang biasa mereka pakai.
Deven dan yang lainnya pun langsung duduk di tempat mereka dan mulai menyuruh satu atau dua teman mereka untuk memesan makanan buat mereka.
"Ton, Go," panggil Deven dengan melirik mereka ke arah stand tersebut dan di angguki oleh mereka berdua dengan senyuman manis yang biasa mereka lontarkan.
"Kalian, mau pesan apa?" tanya Inton dan Gogo bersamaan dengan menatap mereka semua yang sudah duduk manis di tempat mereka masing masing.
"Gue seblak aja deh, sama es teh," jawab Anneth lesu dengan mengambil handphone-nya di saku dan mulai terjun ke dunia-nya.
"Nggak mau Nasi nih? Tumben Neth?" tanya Deven bingung sama hal-nya kayak mereka yang sudah menatap Anneth dengan tatapan yang sulit di mengerti.
Anneth pun mulai melihat wajah mereka semua dan menjawab. "Nggak tau, mungkin bosen." jawab Anneth singkat setelah itu ia langsung fokus ke handphone-nya kembali.
Membuat Deven dan yang lainnya merasa aneh dengan sikap Anneth yang seperti itu tiba-tiba terlintas pikiran yang membuat Anneth seketika berubah.
"Tanggal berapa sekarang?" tanya Deven membuat mereka lagi-lagi bingung dengan sikap Deven tumben ia membicarakan yang tidak penting.
"14 July," jawab Uwa singkat sambil menunjukkan handphone-nya kepada Deven dan langsung di angguki oleh sang empu.
"Pantes, lo sedang dapet kan, Neth?" tanya Deven dan membuat Anneth menaruh kembali handphone-nya di meja dan di angguki lesu oleh Anneth.
Sehingga membuat mereka paham bahwa Anneth sedang datang bulan memang Anneth kalau datang bulan sikapnya yang biasanya banyak ngomong sekarang jarang dan sedikit singkat dan sinis.
"Iya, kesel gue. Nggak bisa ngapa-ngapain, takut bocor nanti," adu Anneth kesal dengan bibirnya yang mengerucut sebal sehingga membuat Deven gemash dan langsung di tarik pelan bibir Anneth oleh Deven.
Sehingga membuat Anneth langsung meronta menepuk-nepuk keras punggung tangan Deven yang menarik bibirnya sambil berteriak.
"Deven, ih. Lepasin!" teriak Anneth sambil menepuk pelan punggung tangan Deven sehingga membuat teman-temannya tertawa melihat reaksi antar sahabat kecil ini.
"Hahaha, udah Dev. Lepasin tuh," pintah Gogo kasian kepada Anneth yang sedari tadi memberontak minta lepaskan tetapi belum di lepaskan oleh sang empunya.
"Hahaha, iya deh," ucap Deven setelah itu ia melepaskan tangannya yang ada di bibir Anneth sehingga membuat Anneth mendengkus kasar kepada Deven.
"Nyebelin banget sih, gimana kalau bibir gue, jadi dower. Hah!" sergah Anneth dengan menyentuh bibirnya sendiri yang sedari tadi di pegang oleh tangan mulus Deven.
"Hahaha, nggak papa dung. Biar orang nggak suka sama lo, hahaha," tawa Deven ketika membuat Anneth kesal di buatnya wajahnya yang memerah menahan amarah apalagi dengan datangnya tamu tak di undang membuat Anneth 90 persen berubah derajat sikapnya.
"Ish, jadi orang jahat banget sih. Mana ada yang nggak suka sama gue, pasti suka semua. Dasar Deven kampret!" teriak Anneth kesal kepada Deven dengan memalingkan wajahnya kearah lain dan lagi-lagi membuat para sahabatnya tertawa di buatnya.
"Aduh Neth, lo lucu banget sih? Pantes aja Deven, kadang jail sama lo terus. hahaha," tawa Ucha diikuti oleh yang lainnya dan mampu membuat suasana hati Anneth makin gondok di buat mereka.
"Dasar kalian semua, sama aja. Kampret! Nyebelin! Ngeselin!" rajuk Anneth dengan menghentakkan kakinya kesal ia sedang menahan agar tidak nangis di hadapan mereka semua karena ia memang agak sedikit sensitive kala datang bulan.
Mata Anneth sudah berkaca-kaca sekali kedip air bening yang ada di retina mata Anneth akan terjun bagaikan air mengalir seperti sungai kecil bahu Anneth pun mulai bergetar dengan menatap mereka semua yang masih tertawa.
"Hiks hiks," isak Anneth ia sudah tidak tahan untuk menahan agar air yang ada di retina tidak meluncur tetapi sekarang lihatlah ia gagal.
Sehingga membuat Deven dan yang lainnya tertawa pun berhenti kala melihat Anneth terisak menangis dengan bahu yang bergetar ia menangis dalam diam.
Membuat hati Deven sakit melihatnya, Anneth mulai mendekati Anneth dan memeluknya dari samping ia bisa merasakan tubuh sahabatnya bergetar dan sedikit terdengar Isak tangis Anneth.
"Maafin, aku Neth," kata Deven dengan serius kala menggunakan aku kamu kepada Anneth dengan memeluk tubuh mungil Anneth sehingga membuat Anneth menangis sesekali memukul dada bidang sikpack Deven.
"Jahat! Jahat! Jahat banget sih!" Hiks hiks," raung Anneth mengeluarkan unek-uneknya kepada Deven dan membuat Deven memaklumi sikap Anneth yang kekanakan kala sudah datang bulan.
"Pukul atau teriak, keluarkan semua unek-unek mu!" pintah Deven dan membuat Anneth seketika berhenti hanya terdengar isak tangis Anneth aja.
Ia merasakan tangan Anneth mulai melingkar di pinggangnya dengan wajah yang mencari kenyamanan di dada bidangnya.
Sehingga membuat semua sepasang mata melihat semua adegan yang di perlihatkan oleh Anneth dan Deven secara terang terangan kepada mereka semua.
Membuat pasang mata yang melihatnya iri melihat kedekatan Deven dan Anneth yang nggak bisa mereka rasakan, di sapa aja Deven hanya melihat mereka dengan wajah datar bagaimana di peluk coba?
Bisa bisa mereka habis di tangan Deven hanya Anneth yang bisa dekat dengan Deven bahkan sepupu Deven pun jarang dengan bareng Deven ataupun bercerita karena sikap Deven yang tidak tersentuh membuat mereka yang ingin mendekati Deven jadi hurung di buatnya.
"Stt ..., Maafin Deven ya," kata Deven tulus kepada Anneth sambil mengelus pelan rambut panjang bergelombang Anneth dengan lembut.
jangan lupa like dan komennya
terima kasih yang udah mampir🙏
salam hangat dari Deven❤️