First Night The Virgin

First Night The Virgin
Bab 5



"Ibu, mulai besok pagi Nari akan bekerja, Bu," lirih Kenari memasang wajah sendu pada ibunya


Ibu memperhatikan anak gadisnya itu. Sebersit senyum mengembang dibibirnya. "Alhamdulillah, Nar, ibu senang mendengarnya. Jadi, kenapa wajahmu ditekuk gitu?" tanya ibu


Sejenak Kenari mengambil napas dalam-dalam ingin menjawabnya. "Nari jarang ada untuk ibu dan Lara, hhh!" rasanya berat sekali


"Sudah, nggak apa-apa, kok. Sepulang dari sini ibu akan lebih berhati-hati lagi jaga diri ibu. Kamu harus senang dong! jadi gimana dengan pekerjaanmu sebelumnya?"


"Nari udah resign. Mereka sedih banget Nari berhenti, Bu. Ah, kn, jadi rindu teman-teman, deh!" Kenari mendengus sebal mengingat lelaki asing itu yang telah membawanya terjun ke kehidupannya


"Mungkin rejekimu bukan di sana lagi, melainkan ada rejeki yang lebih baik lagi. Kapan-kapan kalau ada waktu, main ke tempat teman-teman," usul ibu


Kenari pun terdiam sejenak.


Rejeki yang ini jauh dari kata baik, ibu. Asal ibu tau, aku pakai uang haram untuk biayai pengobatan ibu. Maafkan, Nari, Bu. dan setelah ini, entah pekerjaan apa yang Nari lakukan. Tiba-tiba perasaan Nari nggak enak. batin Nari bermonolog


Melihat putrinya melamun, ibu bergegas menyadarkan anaknya tersebut.


"Hei! jangan melamun! Ini di rumah sakit, nggak baik!" peringat sang ibu


Tentu saja Kenari tersentak. Ia mengangguk dengan senyum cengirnya.


Andaikan ibu tahu perihal uang itu yang sebenarnya, ibu pasti tidak ingin menerimanya dan bahkan melarang Nari untuk bekerja dengan seseorang tersebut. Namun, apalah daya, ini memang sudah takdirnya menempuh perjalanan yang salah


**


Lima belas menit menunggu, ketukan pintu terdengar olehnya. Kenari bergegas bangkit dari kursi, melangkah malas menghampiri pintu ruangan sang ibu.


Sosok pria jangkung dengan kumis tipis mengenakan baju serba hitam, serta dua orang wanita dengan gaya jauh dari kesan feminime.


"Sudah siap, Nona?" pria yang bertugas sebagai sopir pribadi Diego itu bertanya tanpa basa basi


"Sudah, Pak," jawab Kenari dengan suara paraunya


"Baiklah. Sebelum itu, perkenalkan dua wanita ini yang akan ditugaskan tuan untuk menjaga ibu dan adikmu, Non. Mereka akan menjadi pengawal untuk keduanya," ujar pak sopir menunjuk kedua wanita cantik itu


Kenari mengangguk paham, ia menyalimi tangan kedua perempuan itu sambil menyunggingkan senyum.


Usai mengucapkan sepatah kata nasehat, dan berpelukan sejenak, kini Kenari tengah berada di perjalanan menuju kediaman Diego. Disepanjang jalan, Kenari hanya diam menatap luar jendela. Tiada senyum yang tersampir, kehangatan seolah lenyap dalam dirinya kala perpisahan sejenak telah dimulai sejak beberapa menit yang lalu


Sedih, ya, tentu saja sedih, meninggalkan ibunya yang masih dirawat di rumah sakit dalam keadaan yang masih belum pulih. Mengingat itu, sungguh hati ini tersayat. Sebagai seorang anak, Kenari tidak berada disisi ibunya yang sedang dilanda kesusahan.


Pekerjaan ini justru telah memisahkan mereka. Kenari hanya berharap urusannya bersama Diego segera selesai dalam waktu singkat


Asyik bergelayut dalam lamunan, tanpa terasa akhirnya Kenari telah tiba di kediaman megah milik Diego. Kenari sampai terpelongo, mata indahnya tak lepas dari objek tersebut


"Sudah sampai, Nona. silakan," ucap pak sopir, yang entah sejak kapan pintu mobil telah dibuka


**