
"Kenari pamit dulu, ya, Bu, mau cari pinjaman untuk operasi ibu," pamit Kenari, seraya menggenggam kedua tangan sang ibu yang kini tengah berbaring lemah menahan sakitnya
Ibunya Kenari pengidap diabetes dan osteoporosis. Nasib sial menimpanya kala itu saat ingin keluar dari kamar mandi. Ibu terpeleset hingga terpental ke lantai. Kenari terpaksa melarikannya ke rumah sakit kala ibu selalu meringis kesakitan pada pinggul pangkal tulangnya. Ibu tidak bisa berdiri dan selalu menangis menggerakkan tubuhnya.
Usai di rontgen, ternyata tulang pinggulnya patah. Dokter menyarankan agar ibu segera di operasi. Itu pun harus menunggu gula darahnya turun. Beberapa waktu menunggu, gula darah ibu stabil dan bisa melakukan penanganan selanjutnya.
Beberapa hari ini ibunya Kenari dirawat inap, diabetes basahnya mulai bereaksi hingga luka bekas operasi selalu mengeluarkan nanah. Terpaksa dokter menyarankan untuk di operasi ulang.
Kenari sempat menangis bersama adik satu-satunya. Kenari bingung, uang dari mana untuk mendapatkan pinjaman tebusan biaya pengobatan sang ibu.
Sontak saja, Kenari ingin mengambil jalan pintas untuk menjual tubuhnya ke pria hidung belang. mempromosikan tubuhnya ke beberapa situs, hingga dalam sekejap ia mendapatkan seseorang yang bisa membayarnya dengan harga tinggi.
Kini, di sinilah Kenari, berpijak tepat dipelataran hotel bintang lima, yang termegah di ibukota.
Hotel ini menganut desain interior yang minimalis dan didominasi dengan jendela yang terbuka, memperlihatkan pemandangan Kota Jakarta yang gemerlap.
Hotel ini sangat cocok untuk hangout bersama teman atau berkencan bersama pasangan. Hotel ini juga memiliki berbagai fasilitas dengan image yang lebih modern dan fresh. Mulai dari restoran yang menyajikan santapan mewah dari Jepang dan Peru, hingga lounge dan bar yang berlokasi di rooftop hotel.
"Silakan, Nona." seorang supir utusan pria yang akan ia layani, mempersilakan Kenari untuk masuk ke dalam gedung megah itu
Kenari mengangguk, ia melangkahkan kaki memasuki tempat ini, hingga sampailah dipelataran lobbi yang langsung menyuguhkan interior indah.
"Megah banget," gumamnya, menyisir area lobbi yang amat luas
"Kemari, Nona." lagi-lagi pria itu membuyarkan pusat perhatiannya. Kenari mengikuti langkah pria itu memasuki lift yang akan mengantarkannya entah ke lantai berapa.
Tibalah Kenari didepan kamar pria itu. Napasnya menderu sesak, ia mulai keringat dingin menghadapi detik-detik pergumulannya.
"Silakan masuk, Nona."
Kenari mengangguk. Ia melanjutkan langkah memasuki kamar ini hingga dirinya sempat terperanjat kala pintu kembali ditutup.
Menyisakan Kenari bersama sesosok pria bertubuh kekar tengah menghadap ke jendela, membelakanginya. Dari belakang, tubuh pria itu tampak dibaluti kimono. Rambut fluffy berantakan memberikan daya tarik tersendiri bagi Kenari.
"Sudah siap?" suara bariton itu menyentak Kenari yang sempat terbawa suasana
Pria itu membalikkan tubuhnya, seketika Kenari cepat-cepat menutup matanya kala dada bidang telanjang itu terekspos jelas memamerkan kotak-kotak diperutnya. ditambah lagi lelaki itu hanya mengenakan ****** *****, memperlihatkan gundukan rudal yang teramat besar.
"Bagaimana? sudah siap melayaniku? lima ratus juta sudah ada didepan matamu," ucap lelaki itu
Kenari bisa mendengar suaranya kian mendekat. jemarinya yang merapat, sedikit ia buka memberi celah untuk mengintip keadaan disekitarnya.
"Kalau kau masih menutup mata, kujamin uang itu tak akan kau dapat dan kau tidak bisa keluar dari ruangan ini sampai berhasil memuaskan hasratku!" ancam pria bernama Diego Mckenzie
Sontak saja Kenari menyingkirkan kedua tangan dari matanya. Kenari menatap dalam wajah itu dalam ketakutan, kegelisahan, ketegangan, jantung ini terdengar berdetak cepat akan situasi yang ia hadapi kini
"Kau diam berarti iya. Lagi pula aku tidak butuh jawaban dari mulutmu itu!"
**