
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar. sosok tinggi bergaya angkuh itu masih betah ditempatnya tak kunjung bangkit menemui seseorang yang mengetuk kamarnya. dengan santainya salah satu kaki masih bertumpu dilutut sebelah, sedang kedua tangannya ia taruh dikepala sofa
"Masuk!" sahut Diego dengan suara lantangnya
Pintu kamar berdecit tanda seseorang membukanya. Diego terkesima kala pandangannya memperhatikan sosok gadis berwajah cantik oriental itu. Diego menyunggingkan senyum miring, ternyata perempuan ini benar-benar sungguh akan menemuinya
"Tepat pada waktu yang dijanjikan! bagus, saya suka," Diego bertepuk tangan menyambut kedatangan Kenari
Ia beranjak bangkit, sedangkan Kenari turut mendekatinya
"Saya sudah disini. Apa ada sesuatu yang ingin anda bicarakan? sampai-sampai menyudahi pertemuan kemarin ditengah--
"Ssstt! berisik!"
"Sekarang kamu tanda tangani saja ini," Diego menyerahkan selembar kertas diatas map kepada Kenari
Kenari mengerutkan dahinya, surat apa itu? Apakah perjanjian? Oh tidak, memgapa sampai serumit ini, batinnya
"Ini, surat apa?" tanyanya
"Langsung tanda tangani saja!" titah pria tersebut
Kenari semakin bingung dan heran, lagi pula membaca surat ini adalah hak ia, bukan? Tapi pria menyebalkan ini begitu memaksanya untuk segera membubuhkan tanda tangan diselembaran kertas tersebut
"Tidak! saya mesti membaca isinya dulu, baru menyepakati nya." tegas Kenari. Ia tidak ingin salah ambil langkah
"Terserah!" ucap Diego, pasrah. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa seraya memperhatikan wajah cantik Kenari yang begitu tidak membosankan
Kenari membacanya dengan seksama. Dahinya sedikit berkerut, entah apa yang tengah menarik perhatiannya
"Bekerja denganmu selama lima tahun? mengikutimu kemana pun pergi baik keluar kota maupun negeri?" Kenari terperangah membacanya
"Ya, tentu saja!"
"Tapi, bagaimana dengan ibu dan adikku?" Kenari mulai panik. Pasti ia begitu jarang berjumpa dengan mereka
"Urusan biaya rumah sakit? semua totalnya melebihi seratus juta, Tuan. sedangkan uang sisanya masih-
"Tidak perlu kau pikirkan! sudah saya lunaskan asalkan mau memenuhi perjanjian itu!"
"Tidak ada penolakan, Kenari,"
Kenari terperanjat. benarkah itu?
"Anda yakin? Saya mesti ke rumah sakit dulu untuk memeriksanya. Anda bisa saja menipu saya untuk kedua kalinya!" kali ini Kenari sungguh berhati-hati pada pria ini. Sorotan mata tajam menghunus menatap Diego yang tengah menghembus napas dengan kasar
Diego mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya, yaitu ponsel, ingin membuktikan kepada Kenari jika ia tidak main-main. Kenari melihatnya dengan seksama, benar saja jika biaya pengobatan sang ibu telah lunas karnanya
Dirasa sudah cukup jelas, Diego kembali menarik ponselnya dari hadapan gadis ini
"Gimana? Terbukti, bukan? Sekarang buruan tanda tangani," desaknya
Terpaksa Kenari membubuhi tanda tangannya diselembar kertas ini dengan tinta biru, sebagai tanda jika ia benar-benar menyetujuinya
"Siip. mulai besok pagi akan ada sopir yang mendatangimu ke rumah sakit itu, kau siap-siap aja, tidak perlu bawa pakaian," ucapnya sebelum bergegas pergi
"Besok?? Secepat itu?" Kenari terpelongo
"Ya." Diego mengangkat sebelah alisnya menatap gadis cantik ini. "Mengapa tidak? Lebih cepat lebih baik," ucapnya seenak jidat
Kemudian Diego melangkah pergi menenteng tas segi empat miliknya. Namun, sebelum menjauh melewati Kenari, tak lupa ia membubuhkan sedikit kecupan di leher gadis itu
"Terima kasih sudah mau bekerja sama denganku, Sayang, muach!" lirihnya dengan suara sensual, kemudian mengecup leher itu
Sontak saja Kenari terpelongo, bisa-bisanya lelaki ini mencuri kesempatan atas dirinya
"Heh!"
**