
Perhelatan sengit pun terjadi diatas ranjang yang dimainkan oleh sesosok pria rupawan berbadan atletis nan dingin serta menakutkan dimata sang lawan, yaitu seorang gadis lugu nan malang. Kenari mengerutkan matanya menahan rasa sakit yang menusuk bagian intimnya. jemarinya pun meremat seprai putih disisinya dengan amat kuat tanpa ingin melepaskannya.
Dada ini terasa sesak menahan rasa yang diberikan. Namun, kala rudal raksasa itu tenggelam juga, Kenari berusaha mengambil napas dalam-dalam untuk menetralkan perasaaannya. Pria asing yang membayarnya mahal ini semakin menghentakkan miliknya, membuat Kenari tak kuasa.
Kenari menggeliatkan tubuhnya merasakan geli disekujur tubuhnya saat lelaki ini menyecap area leher hingga turun ke dadanya. Bermain-main disekitar leher dengan bibirnya, membuat Kenari jatuh dalam buaian dan dibawa melayang olehnya. Geli, nikmat, dan ngilu dibawah sana, bercampur menjadi satu
Namun, lambat laun Kenari mulai bisa mengimbangi sentuhan lelaki asing berwajah tampan ini.
"Aaakh," desah Kenari
Kenari merasakan sebuah sentuhan digundukan dadanya. Sejenak ia meliriknya, pria itu memilin putung bukitnya dengan gemas hingga menyesapnya dengan penuh hasrat
Suara ******* semakin menggema dan terdengar syahdu ditelinga. Pelu bercucuran dan membasahi keduanya yang tengah asyik bercinta dibawah ruangan ber-AC ini. Ternyata, pendingin ruangan ini tidak memumpuni keduanya terbebas dari keringat. panasnya suasana semakin menambah semangat untuk keduanya.
Sesuatu yang mendesak keluar membuat keduanya mengerang kala semburan hangat mencelos ke dalam penyimpanan harta karun yang berharga
"Hhh ..." Lelaki itu mengembuskan napas dengan kasar seraya membaringkam tubuhnya disamping Kenari. Lelah sekali, namun ia turut puas merasakan keperawanan milik gadis ini
Sedangkan Kenari, ia terpelongo dalam diam menatap langit-langit kamar, jari jemarinya meremat kuat selimut menutupi tubuh hingga dadanya. Sungguh, ia tak percaya atas apa yang telah terjadi. Dirinya menjadi pelacur untuk pengobatan sang ibu? dan parahnya lagi, ini pilihannya sendiri tanpa hasutan siapapun
"Saya ingin pergi, bisa berikan yang sudah anda janjikan?" pinta Kenari tanpa menoleh sedikit pun
Pria bernama Diego itu pun menyunggingkan bibirnya ke atas seraya menatap aneh pada gadis ini
"Empat ratus juta lagi, ya?" tanya pria itu
"Ya." jawab Kenari, singkat
"Hahahaha ..." seketika Diego tergelak. Kenari menoleh menatapnya, keningnya berkerut ada apa dengan pria ini? pikirnya
"Ada syarat untuk mendapat sisanya," celetuk Diego
Kenari semakin bingung, sontak ia terduduk mendengar ucapannya.
"Tenang-tenang!" Diego menghentikan tawanya, ia mendudukkan tubuhnya dengan raut wajah yang kembali dimgin seperti semula
Kini, keduanya duduk berhadapan
"Kau, harus menjadi pelayanku kemanapun aku pergi. Kau bekerja denganku sampai tidak kubutuhkan lagi." jelasnya
Kenari membelalakkan matanya, mana mungkin itu terjadi. Meninggalkan ibunya?
"A-aku tidak bisa," Kenari menggelengkan kepalanya, ragu
"Oh, yasudah, ku rasa seratus juta cukup untukmu," ucap Diego dengan begitu entengnya dan teramat egois tanpa memiliki belas kasihan kepada gadis malang ini
"Ini sama saja kau menipuku, Tuan Diego! Kalau memang ada perjanjian baru, seharusnya anda beritahu sejak awal! Kau menjebakku!" Kenari emosi, semburan panas dari mulutnya malah membuat Diego senang
"Tadinya memang nggak ada, tapi selama bercinta denganmu, sepertinya aku butuh pelayan. Ya, bisa dibilang assisten," ujarnya
"Pelayan seperti apa?" tanya Kenari dengan nada yang masih tersulut emosi
"Seperti seorang istri. Memenuhi kebutuhanku, melakukan apapun yang aku perintahkan dalam tugasku," jelasnya
Kenari mendengarnya dengan seksama. apa pekerjaan lelaki ini sampai dirinya harus menuruti perintahnya. benaknya bertanya-tanya juga ragu. Sejenak ia memperhatikan diri lelaki ini, seperti seorang boss dalam lingkup gedung pemcakar langit. Benarkah itu? Apakah pekerjaannya melayani membuatkan kopi? Membawakan tas? Menyiapkan segala kebutuhannya?
"Oke, seratus juta cukup jika belum ada juga jawabanmu,"
Diego menyentak lamunan Kenari yang tengah berpikir panjang itu. Diego bangkit, ia meraih pakaiannya dan bergegas mengenakannya.
"Sa-saya setuju, baiklah. Tapi, asalkan saya bisa melihat ibu saya setiap hari di rumah sakit." pintanya dengan wajah memelas penuh kebingungan
"Its oke. Besok siang pukul 1 temui saya di kamar ini,"
***