
Kenari berjalan tergopoh-gopoh di koridor rumah sakit pada dinihari itu. Tatapannya kosong mengarah kedepan penuh tak semangat. Memikirkan tawaran Diego, pria yang telah ia puaskan dengan menjual keperawanannya. Ternyata, tidak hanya berjumpa sekali pada malam ini saja, dirinya terjerat bersama pria itu hingga waktu entah sampai kapan.
Menjadi pelayan? Yang benar saja? Bagaimana jika lelaki itu telah beristri ataupun memiliki kekasih. Pasalnya dia adalah pria tampan, kaya, gagah dan maskulin, di mana saja pasti banyak wanita disekelilingnya.
mengikuti pria itu kemana pun pergi, menjadi pelayannya yang mungkin menyiapkan segala kebutuhannya. Bila dipikir-pikir, tidak masalah, namun pikiran kotor ini melalangbuana ke sesuatu yang ia terka.
"Ck! Dia itu mesum! Bagaimana kalau aku diajak gituan lagi? Secara aku harus melayaninya,"
"Ah! Pikiran jorokku!" gumamnya
Kenari menepuk jidatnya, merasa berprasangka buruk. Bergegas ia melangkahkan kaki dngan cepat menuju ruang inap sang ibu
"Alhamdulillah, mereka udah pada tidur. Aku harus nyiapin alasan mengapa aku pulangnya lama," bisik Kenari pada angin tak kasat mata
Kenari bergegas masuk setelah membuka pintu dengan pelan. Ia melangkah mengendap-ngendap, segera ke kamar mandi sembari membawa baju ganti. syukur saja di hotel ia sempat membersihkan tubuhnya yang kotor seraya menangisi perbuatan hinanya.
Kenari menatap cermin, kedua matanya masih terlihat sembab. Bagaimana tidak, ia telah menjual diri bagaikan seorang pelacur. Menyesal, sudah jelas. memyesal memang datangnya belakangan, tapi ia sudah pusing bagaimana mendapat kerja halal dengan membayarnya sefantastis itu. Entahlah, berasal dari ide mana, Kenari nekat menjual tubuhnya.
**
"Kamu sudah bangun, Nak?" ibu bertanya kala menatap putrinya telah terjaga dari tidurnya
Kenari merenggangkan otot-ototnya yang kaku, tak berapa lama ia menguap. Sejenak ia mengedarkan pandangan menatap sekitar, ibu, adik, suasana diluar jendela yang begitu terang, kemudian jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi
"Hmmm, udah, Bu, Kenari bangunnya kesiangan, ya," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur
"Kamu pulang jam berapa? Ditungguin sampai larut belum juga balik," ibu cemas
"Hmm, cari pinjaman dong, Bu,"
"Hmmm, Nari minta bantuan teman, dan dia nyaranin minjam ke boss tempatnya bekerja. Lama kami menunggu di rumahnya, boss itu pulangnya jam sebelas malam." ujar Kenari
"Sebagai gantinya, Nari harus bekerja dengan boss itu, Bu, jadi Nari nggak selalu berada disisi ibu lagi," lirihnya dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca
Berat sekali rasanya meninggalkan ibu sendirian tanpa ada yang menemani. Diliriknya sang adik, Lara, gadis berusia lima belas tahun itu mesti bersekolah
"Jadi bagaimana dengan pekerjaanmu di kafe? Apa harus resign?" tanya ibu
Kenari mengangguk. Mau bagaimana lagi?
"Yasudah, segera ijin pada bossmu, resign dengan cara baik-baik. Semoga aja kamu betah sama bos yang sekarang,"
"Iya, Bu, nanti Nari kesana,"
"Lalu bagaimana dengan ibu? Hanya sendiri? Sedangkan Lara sekolah,"
"Wess! Nggak apa-apa, ibu bisa kok,"
**
Seperti yang sudah disepakati, Kenari kembali bertemu dengan Diego tepat pukul satu siang. Ia melangkah malas memasuki hotel megah ini, namun mengingat uang sisa miliknya yang harus ia dapati, Kenari mesti yakin jika ini pilihan yang benar.
Tanpa perlu ke resepsionist, Kenari melenggang masuk ke dalam lift menuju kamar yang mereka tempati beberapa jam lalu.
**