Final Destiny

Final Destiny
Episode 4 - Kepercayaan



Di gelapnya hutan di Unknown Land terlihat dua orang gadis sedang berlari menuju gelapnya hutan. Mereka berdua Liana Synestesia dan Roselyn Synestesia merupakan sepasang Kakak Beradik. Sudah sekitar 1 jam mereka berlari dengan mengenakan pakaian tebal yang mereka temukan didalam rumah dengan saran dari Ren.


Liana gadis berambut putih tersebut berhenti berlari membuat adiknya Roselyn juga ikut berhenti.


" Ada apa kak? " Tanya Roselyn


" Kita harus kembali dan membantu dirinya aku tidak tega orang yang menolong kita terluka karena kita " Balas Liana


" Aku juga ingin seperti itu kak, tapi bagaimana caranya ikut membantu dirinya? Kapasitas sihir kita juga masih terlalu kecil kak "


" Kalau kita menggabungkan sihir kita itu akan menghemat mana kita Roselyn "


" Apa sebaiknya kita pergi ke ayah dulu lalu meminta bantuannya? "


" Itu terlalu lama Roselyn, aku khawatir dengannya dan juga dia penyelamat kita apalagi... " Ucap cemas Liana


' Entah apa yang membuatnya selalu tersenyum dan terkadang sedih itu... ' Batin Liana Sedih


" Sudah diputuskan kita akan kembali Roselyn! " Ucap Liana


" Baiklah kakak, aku akan terus mengikuti kakak " Balas Roselyn


Sebelum mereka kembali, mereka melihat sebuah sinar cahaya dari dalamnya hutan. setelah beberapa saat keluarlah sosok pria berumur sekitar 40 tahun dengan wajah yang sudah lumayan tua.


" " Ayah!! " " Ucap Serempak Liana dan Roselyn


" Liana, Roselyn! " Ucap pria tersebut.


Mereka bertiga berpelukan digelapnya hutan yang diterangi dengan Elemen Cahaya.


Srek srek srek


" Yang Mulia! " Ucap sekelompok prajurit sedang menuju kearah pria tersebut


Sesampainya mereka langsung memberikan hormat lalu bangun kembali


" Jack, Ayo kita segera kembali aku takut dengan kondisi anak anakku " Ucap Pria tersebut


" Baiklah Yang Mulia, Saya akan laksanakan " Balas Jack yang dimana dia merupakan Komandan Kesatria Kekaisaran Sylania


" Ayah! Jangan Dulu kembali! " Ucap Liana Cemas yang diangguki Roselyn


" Kenapa memangnya anakku? " Ucap pria tersebut yang merupakan Sang Kaisar Kekaisaran bernama Siegfried Algard Synestesia VII.


" Ada seorang anak seumuran kami, dia telah membantu kami melarikan diri dari penculiknya ayah! " Ucap Roselyn


Mendengar hal ini Sang kaisar atau ayahnya beserta komandan dan prajuritnya terkejut. Bagaimana mungkin ada seorang anak berumur 5 tahun berada ditempat Unknown Land ditambah lagi dia membantu Putri Liana dan Roselyn melarikan diri dari para penculiknya.


" Baiklah ayah akan membantunya, sekarang kalian berdua kembali dulu dengan komandan Jack " Balas Siegfried


" " Tidak !! " "


" Kami Juga ingin ikut membantunya ayah " Balas Keduanya


Haahh...


Helaan napas keluar dari mulut sang kaisar.


" Baiklah, tapi kalian harus berada disekitar komandan Jack ya? " Jawab Siegfried


" Ya ayah " Balas Liana di angguki Roselyn


" Kita lanjutkan! Temukan dan bantu penyelamat putri ku! " Perintah Sang Kaisar


" Baik Yang Mulia " Balas Serempak Komandan dan para prajurit


Mereka pun pergi menuju tempat Ren berada ...


Sesampainya disana mereka dikejutkan dengan 2 penculik yang sudah tak bernyawa, terpenggal dengan sebuah pedang tua yang berlumuran darah oleh seorang anak berumur 5 tahun yang memiliki wajah dingin dengan mata yang menyala


...****************...


Terlihat 2 orang dewasa sedang memojokan seorang anak kecil berumur 5 tahun yang sedang memegang sebuah pedang tua. Kedua orang dewasa tersebut juga memegang sebuah senjata berupa belati dan pedang.


" Apa kau sudah siap bocah si*lan? "


tak ada jawaban dari anak kecil tersebut dirinya hanya menatap datar kedua pria tersebut. Kesal karena diabaikan anak berumur 5 tahun tersebut, Seorang pria yang memiliki senjata belati dan juga memiliki luka dikakinya segera melayangkan serangan vertikal ke bocah tersebut.


Bukannya takut anak kecil itu hanya menghindari serangan tersebut dengan memiringkan tubuhnya kesamping, saat belatinya meleset bocah itu pun segera mengayunkan pedangnya ke arah tangan pria tersebut yang membuat tangan sang pria terpotong, lalu mengeluarkan banyak darah.


Arghh!


Teriakan kencang mulai terdengar kembali dari sang pria besar tersebut.


Saat pria tersebut terduduk memegangi tangannya yang terputus dirinya juga dikejutkan dengan kedua kakinya yang terpotong rapih dengan sebilah pedang.


Bocah itu bernama Ren. Dirinya hanya dengan santai memotong kedua kaki pria tersebut yang bernama Brian.


Arghhh!!


Lagi Lagi Suara teriakan yang terdengar memilukan membuat temannya Brian merinding, Dirinya juga terkejut dengan aksi sang bocah berambut coklat tersebut.


' Bagaimana mungkin bocah berumur 5 tahun dapat dengan mudah mengayunkan pedang dan memotong tangan manusia dengan mudah? Dan apa apaan reflek itu?!! Itu bukan pergerakan untuk anak 5 tahun!! ' Batin Takut Ront, pria yang sedang memegang sebuah pedang


Ketika dirinya sedang terdiam dirinya dikejutkan dengan serangan pedang yang berada tepat di depannya menuju ke arah wajahnya, dirinya pun mencoba menghindari serangan tersebut dan hanya menimbulkan luka kecil dari pedang bocah itu.


" Apa kalian sudah selesai berpikir? "


" Apa kalian mau merasakan rasa sakit yang sering dirasakan oleh korban kalian? "


" Dengan senang hati aku akan lakukan " Ucap Ren Dingin dengan mengayunkan pedang yang berlumuran tanah itu ke udara


" Kau! Siapa Kau! Bagaimana mungkin bocah seperti kau dapat dengan mudah mengalahkan pria dewasa?!! " Teriak panik Ront sambil membawa temannya menuju keluar pintu ruang bawah tanah


" Aku? Entahlah.. Mungkin Malaikat Pencabut Nyawa Kalian " Ucap Dingin Ren sambil berjalan menuju arah kedua orang pria dewasa tersebut


Mendengar hal ini kedua pria dewasa tersebut melarikan diri dari Ren menuju halaman depan rumahnya, Namun secara tiba tiba kaki Ront terpotong rapi, yang membuat dirinya tak bisa berjalan.


Kedua pria dewasa tersebut merasakan teror dan ketakutan melihat Ren mirip dengan iblis, bahkan mereka berdua tidak sadar kalau mereka mengompol di celana.


" Kumohon Ampuni Kami! Kami Akan Berubah! Kami Berjanji! "


" Aku juga biarkan kami bebas " Ucap ketakutan kedua pria tersebut sambil meneteskan air mata dan air hidung mereka


Mendengar Hal ini tidak membuat langkah kaki Ren Berhenti justru Ren mempercepat langkahnya menuju kedua orang dewasa tersebut.


" Memohon Ampunan? Berjanji akan berubah? Heeeh... "


" Aku sudah muak mendengarnya " Ren tanpa basa basi segera memotong tangan kedua pria tersebut dan membiarkan mereka kesakitan.


Ren memandang dingin kedua pria itu, Tanpa berlama lama dirinya segera memenggal kedua kepala pria tersebut dan kedua pria tersebut seketika mati.


Setelah membunuh kedua pria tersebut, dirinya langsung menghadapkan kepalanya ke arah langit malam itu.


Huuuuuh....


' Tenang... Jangan biarkan kemarahan mengendalikan ' Batin Ren mencoba menenangkan dirinya.


' Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti kehidupanku yang ke - 6 '


' Tenang... '


Ketika dirinya sedang menenangkan diri, dirinya mendengar suara langkah kaki sedang menuju ke arahnya


' Siapa...? ' Ren sudah sangat kelelahan


" Apa? Ini... " Ren pun segera melihat segerombolan pria dan prajurit melihat ke arahnya. Karena sudah tidak kuat dirinya segera pingsan dan terjatuh ditumpukan salju.


TBC