
Tidak banyak yang Emy ketahui tentang menara sihir, karena di dalam novel tempat itu hanya di ceritakan sedikit.
Setelah kejadian tadi, Emy langsung berlari keluar gua, ia bergidik ngeri membayangkan kejadian itu lagi. Rozie nampak khawatir melihat wajah pucat Emy, tapi ia tidak banyak tanya.
Kini Emy duduk di depan seorang penyihir, cukup tampan.
Rambut putih yang panjang, hidung mancung, tatapan mata yang tajam, bibir tebal, dan garis rahang yang sangat menawan, begitu perfect seperti seorang model.
"Lady Amber, sepertinya sudah lama sekali kita tidak bertemu, aku merasakan aura yang berbeda dari dirimu," penyihir itu memulai percakapan.
Emy menaikan sebelah alisnya, apakah penyihir ini tahu bahwa ia bukanlah Emelly yang asli?
"Aku dengar kau kehilangan ingatan, apa benar?"
Emy mengangguk, "Benar tuan penyihir, jika saya boleh tahu, nama anda siapa ya?"
"Hahaha, kau tidak perlu terlalu formal begitu Lady, aku adalah Velmer, salah satu dari 11 penyihir agung, dan aku penyihir putih!" jelasnya panjang lebar.
Emy mengangguk-anggukan kepalanya, ia baru ingat nama Velmer. Nama itu di jelaskan di dalam novel karena Velmer termasuk tokoh penting dari 5 penyihir agung yang akan menyelamatkan Athelia.
Di dalam novel di jelaskan bahwa 11 penyihir agung terbelah menjadi dua ras, penyihir putih, dan penyihir hitam.
Arunika, Alysad, Malveen, Theodor, Alvera, dan Velmer termaksud kedalam penyihir putih, sedangkan penyihir hitam Neon, Els, Zeon, dan Leo pemimpin dari ras sihir hitam, musuh terbesar ras putih, ia sering di sebut sebagai Iblis hitam.
Mereka semua adalah 11 penyihir agung, karena kekuatan merekalah yang terkuat.
"Jadi Lady, sepertinya aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi?" Velmer menarik lembut tangan Emy kemudian menggenggamnya.
"Apa maksudmu?"
Velmer menatap Emy serius, "Bagaimana bisa kau melakukannya?"
"Melakukan apa?!" Emy menarik kasar pergelangan tangannya, matanya memincing sinis menatap Velmer.
"Sebenarnya siapa kau?"
Deg!
Emy berdiri dari duduknya, Ia menatap Velmer dengan tatapan waspada.
"Apa maksud anda tuan penyihir? Aku adalah Amber Emelly Nelson, putri semata wayang Marquess Nelson!" Jelas Emy berapi-api.
"Te-tenanglah, Lady!" Velmer bangkit berusaha menenangkan Emy.
Namun Emy beringsut mundur, ia segera berlari keluar dari menara sihir.
Velmer memandang Emy dengan tatapan yang sulit di artikan?
"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu Elly, tapi aku merasa auramu kembali seperti dulu, seperti dirimu yang aku rindukan..."
****
Emy berjalan tergesa-gesa keluar, hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang.
"Ahk!" Tubuhnya terjatuh di atas rerumputan hijau, untung saja ia tidak terluka.
Emy segera bangun untuk meminta maaf, "Ma-maaf kan aku tu—"
"Kau?!" Matanya membulat sempurna saat ia tau orang yang di tabraknya adalah Ares!
Sang putra mahkota.
Ares berdiri dengan pandangan sinis, "Cih, kau sudah seperti benalu yang selalu mengikutiku, Lady Amber!"
Emy mengepalkan tangannya, namun emosinya segera mereda saat ia mengingat kejadian ini di dalam novel.
Kejadian ini sama persis!
"Sepertinya kepercayaan diri anda memang besar ya, pangeran!" Emy terkekeh, "seharusnya anda sudah tau bila hari ini aku akan datang kesini!"
Wajah Ares yang semula mengeras berubah, tatapan sinisnya berubah menjadi tatapan ejekan.
"Ah benar, kau kan wanita 'penyakitan', aku sampai lupa karena itu? Haha!"
Deg!
Dadanya terasa begitu sesak, Emy mengepal tangannya di balik gaun lebarnya.
"Yah, memang itu kenyataanya, mau bagaimana lagi?" Ia menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
"Ngomong -ngomong saya permisi, semoga hari anda menyenangkan pangeran!" ucap Emy tersenyum manis.
Tanpa melihat respon Ares, Emy melangkah pergi. Ia sakit hati atas perkataan pangeran tersebut, walau bagaimanapun ia memiliki perasaan, bagaimana jika Emelly asli mendengar ucapan itu?
"Laki-laki brengsek!" umpatnya dalam hati
*****
Emy terduduk di depan meja kerja ayahnya.
"Ada apa, Elly?" tanya Marques.
Emy menunduk, ia akan memulai sandiwaranya mulai sekarang. "Ayah, aku sudah mengingat semuanya..."
"Apa?" Lelaki paruh baya itu meletakan pulpennya.
Matanya menatap dalam wajah sang putri yang terlihat sendu, hatinya sedikit terenyuh. Menjadi seorang ayah sangat sulit untuk Marques, ia tidak tahu cara mengekspresikan diri untuk putrinya.
"Aku sudah mengingat semuanya," Emy mengusap sudut netranya yang berembun. "Ayah ... Maafkan aku!"
Emy bersujud di hadapan Marquess membuat lelaki paruh baya itu segera bangun memapah putrinya menuju sofa.
"Tenanglah Elly, katakan apa yang terjadi padamu?"
Emy memeluk erat Marquess, ia menangis. "A-aku ... hiks ... Selalu saja menyu—"
Marques meletakan jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar Emy tak melanjutkan kata-katanya.
"Kau adalah putriku, apapun yang kau lakukan adalah tanggung jawabku!" Marques mengusap lembut pucuk kepala Emy. "Katakan Elly, apa ada seseorang yang menyakitimu?"
Emy melepaskan pelukannya, ia mengangguk pelan.
Marques menatap wajah cantik putrinya, mata dan hidung Emy kini memerah membuat hati Marques terenyuh.
"Siapa yang menyakitimu?"
"Dia, putri angkat Duke Livin ...
Rossellin!"
"Benarkah? Apa yang kau ingin aku lakukan? Katakan saja Elly!" Marques menggenggam erat tangan Emy. "Aku akan menghancurkan siapapun yang menyakitimu, karena aku sudah berjanji pada ibumu untuk menjagamu!"
"Dan juga karena kau putriku!"
Deg!
Emy menatap kedua netra Marquess, hatinya terasaa gelisah, apa yang terjadi?
"Aku adalah putri seorang Marques Nelson, aku memiliki cara sendiri untuk membalaskan dendam ku ayah!" Emy tersenyum tipis. "Aku hanya ingin ayah berada di pihakku apapun yang terjadi!"
"Karena aku akan menghancurkan tokoh antagonis yang sebenarnya, dan membalaskan dendam putrimu yang asli!"