
"Nama Nona, Amber."
"A-APA?"
"Amber Emelly Nelson," ucap ulang seorang pelayan seraya membenahi selimut Nonanya.
Melihat wajah bingung majikannya, pelayan itu tersenyum hangat, "Tabib bilang bahwa Nona lupa ingatan akibat benturan yang keras saat Nona jatuh dari tangga istana."
"Perkenalkan nama saya Rozie, saya pelayan pribadi anda Nona, jika anda butuh sesuatu panggil saja saya!"
Wanita cantik itu termenung, merasa nama yang di sebutkan pelayannya terasa tidak asing. Tak lama, mata indahnya itu membulat sempurna.
"Pr-princess Athelia?!" Emy, gadis yang mati terjatuh di kamar mandi itu menganga tak percaya bahwa kini ia berada di dalam novel yang baru saja ia baca.
"A-apa Nona mengingat sesuatu?" tanya Rozie, pelayan pribadi Emelly.
Emy masih shock!
Bagaimana tidak? Ini seperti sebuah cerita di dalam novel-novel dimana sebuah jiwa yang bertransmigrasi ke dalam tubuh seseorang di dalam novel.
Emy memijat keningnya, kepalanya terasa sangat pusing.
"Namamu Rozie ya?"
Pelayan itu mengangguk.
"Baik Rozie, sekarang aku sedikit lelah," Emy menatap Rozie memberi isyarat agar pelayan itu pergi dari kamarnya.
Rozie yang peka langsung pamit undur diri.
Emy kini berjalan perlahan menuju cermin, matanya sedikit mebelalak kaget. Itu dirinya! Tidak ada yang berubah dari wajahnya sedikitpun.
"Apa ini? Apa Emelly juga memiliki wajah yang sama denganku? Apa sang penulis tengah membayangkan wajahku ketika menciptakan Emelly?"
Dahinya mengernyit memandang tak percaya wajah yang ada di dalam cermin. Bagaimana bisa?
Tubuh Emy luluh di lantai, sebenarnya bukan masalah baginya jika hidup di dunia lain, toh bukan kah di kehidupan lamanya ia tak memiliki siapapun. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah, MENGAPA IA HARUS BERADA DI DALAM TUBUH LADY BERPENYAKITAN YANG BODOH DAN BERAKHIR TRAGIS!
"Oh Tuhan, apa yang sebenarnya kau rencanakan!"
Brak!
"Elly!"
****
Kini disinilah Emy berada, di tengah-tengah ruang makan di mana hanya ada dirinya dan Marques Nelson, ayah kandung dari Emelly.
"Bagaimana ke adaanmu, Elly?" Marques menatap putrinya yang sedari tadi diam dengan tatapan datar.
Walau terkesan dingin, sebenarnya Marques adalah sosok yang sangat amat menyayangi putrinya, itu tertulis di dalam novel yang Emy baca.
Emy menatap Marques dalam, entah mengapa seperti ada sebuah rasa kerinduan di dalam hatinya, apakah ini perasaan Emelly asli?
"A-aku ..."
"Aku dengar kau kehilangan ingatan? Apakah Rozie sudah menjelaskan tentangku?" sela Marques.
"Kau mungkin melupakan apa yang telah kau lakukan, kau selalu saja membuat masalah, bukankah sudah ku bilang untuk menjauh dari putra mahkota! Aku tidak menyalahkannya atas apa yang terjadi padamu, tapi aku juga tak menyalahkan mu atas apa yang terjadi, karena aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," lanjutnya.
Emy menarik nafas panjang, ia sudah membaca bagian ini. Di mana insiden ini di sebabkan oleh kesalah pahaman antara putra mahkota dan Lady Amber.
Lady Amber di tuduh ingin mendorong putri Athelia-putri dari kerajaan yang sudah hancur-
Padahal sebaliknya!
Amber sebenarnya ingin menyelamatkan Athelia yang tanpa sengaja ingin terjatuh dari tangga. Namun putra mahkota menyalah pahami tindakannya, dan kejadian tidak menyenangkan pun terjadi.
"Maaf kan aku, ayah ..."
Marques menghembuskan nafas kasar, "Sudahlah, sekarang makanlah, kau terlihat sangat kurus!"
Marques memulai acara makan malam di sertai keheningan.
Dalam kehidupannya kali ini, Emy berencana untuk membuat nama baik Lady Amber kembali bagus, dan mengungkap seluruh kejahatan sang antagonis asli, Athena.
"Hihihi, lihatlah dia telah kembali ..."
"Jiwa suci itu telah kembali!"
Emy mematung, matanya melirik ke arah Marques yang sibuk menyantap makan malamnya.
"Ada apa?" Marques menatap datar Emy.
"Kau dengar itu?"
Marques mengernyit menatap putrinya, alisnya terangkat sebelah menatap manik mata Emy yang terlihat gusar, "Apa kau baik-baik saja, Elly?"
"A-ayah, aku mendengar suara!" ucap Emy dengan sedikit kecanggungan saat memanggil Marques Nelson 'ayah'
"Berapa bodohnya dia!"
"Hihihi, apa takdirnya akan sama seperti jiwa kotor sebelumnya??"
"Suaranya!" ucap Emy yang tanpa sadar nada bicaranya meninggi.
"Elly, tenanglah!"
"Tak ada siapapun yang berbicara, di sini hanya ada kau dan aku juga beberapa pelayan, lihatlah sekelilingmu!"
Emy terdiam, matanya bergerak menetralisir sekitar, benar adanya tak ada siapapun yang bersuara.
"Ma-maaf, sepertinya aku kelelahan," ucap Emy.
"Habiskan makananmu, setelahnya istirahatlah, kalau kau merasa semakin buruk, akan aku panggilkan tabib."
"Baik." Emy melanjutkan makan malamnya, rasanya makanan lezat tadi menjadi gambar.
****
Emy berjalan di lorong yang panjang di ikuti Rozie di belakangnya, matanya kosong memikirkan kejadian tadi.
"Apa kau baik-baik saja, Nona?" Rozie nampak khawatir melihat Nonanya.
Emy tak menjawab, ia hanya mengangguk sekilas.
Langkah kakinya terhenti, Emy melihat ke arah luar jendela, matanya membulat sempurna.
Sosok itu!
Lelaki berjubah hitam tengah menatapnya seraya tersenyum, Emy mematung, badannya terasa kaku tak bisa di gerakan.
Tatapan tajam lelaki itu di sertai senyuman yang terlihat 'aneh' membuat bulu kuduk Emy berdiri, apa kejadian ini ada hubungannya dengan lelaki itu?
"Nona ..."
"Nona Emelly!"
Emy tersadar, kakinya mendadak lemas, Rozie segera menahan tubuh Emy agar tak terjatuh menyentuh lantai. Nafas Nonanya itu begitu tersengal, keringat bercucuran dari dahi Emy, persis seperti melihat hantu.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Rozie.
Emy mengangguk, "Yah, aku hanya lelah."
"Bantu aku berjalan!"
Rozie membantu memapah Emy menuju kamarnya, sekilas pelayan itu melirik ke arah jendela di mana Nonanya menatap tadi, tak ada siapapun di sana.
Lalu apa yang membuat Nonanya sampai seperti itu?