EMy Or ELLy

EMy Or ELLy
[3]



"Apa kabarmu Lady Amber?"


Emy menatap datar ke sosok yang ada di hadapannya, sang putra mahkota. Pagi-pagi sekali Rozie datang menemuinya memberitahu bahwa Putra mahkota datang untuk menemuinya, Emy tidak terlalu terkejut karena ia tau kejadian ini akan tiba.


Hari ini adalah hari dimana putra mahkota datang menemuinya atas perintah kaisar, pangeran itu di perintahkan untuk meminta maaf atas tindakan nya yang dengan sengaja mendorong Emelly.


"Salam kepada putra mahkota ke kaisaran," Emy memberi hormat ala bangsawan. Terlihat anggun walau sedikit kaku.


Hening.


Beberapa pelayan menuangkan teh ke cangkir Emy dan Ares, setelahnya mereka pergi meninggalkan keduanya di taman kaca kediaman Marques.


"Silahkan nikmati teh anda putra mahkota," ucap Emy seraya tersenyum tipis.


"Tak usah bersandiwara seperti itu Lady, kau terlihat menjijikan!" Ares menatap Emy dengan tatapan sinis.


"Jadi apa yang membuat anda datang kemari Putra Mahkota Ares?" Emy meminum tehnya dengan tenang.


Ares mengepalkan tangannya menatap Emy tajam. Sedangkan yang di tatap terlihat begitu santai.


Sebenarnya Emy merasa ilfeel melihat tingkah Ares secara langsung, jika sebelumnya ia menyukai Ares, tapi sekarang berbeda.


Entah mengapa Emy merasa sikap Ares terlalu menjijikan untuk seorang putra mahkota, lelaki itu terlalu seenaknya sendiri dan kekanak-kanakan.


"Aku datang hanya karena perintah ayah, jangan berharap aku meminta maaf untuk kejadian sebelumnya, di mataku kau hanya ****** pengganggu!"


Emy menghembuskan nafas pelan, "Anda tenang saja Pangeran, aku tidak pernah berharap lebih pada anda!"


"Kau—"


"Sepertinya anda harus menjaga sikap anda pangeran?"


"Apa maksudmu!"


Emy tersenyum kecil, matanya melirik kearah seorang gadis yang berlari kecil ke arahnya.


"ELLY!"


"Karena wanitamu ada disini," ucap Emy pelan.


Ares segera melirik ke arah sumber suara. Sedangkan Emy berdiri untuk menghampiri wanita itu, Athelia.


Siapa yang tidak mengetahui tentang persahabatan antara Emelly dan Athelia? Bahkan seluruh rakyat di kekaisaran Arathel tau, Itu di ceritakan di dalam novel, di mana Emelly di anggap seperti bawang merah dan Athelia bawang putih, keduanya sangat berbanding terbalik.


"Elly apa kau baik-baik saja?" Mata bulat gadis itu menatap khawatir pada Emy.


"Aku dengar kau kehilangan ingatanmu? Apa itu benar? Apa sekarang kau melupakanku?" tanyanya beruntun dengan manik mata berkaca-kaca.


Emy tersenyum lebar, "Ak—"


"Lia? Apa yang kau lakukan disini?" Sela Ares.


Lelaki itu menarik lembut tangan kekasihnya, menjauhkannya dari jangkauan Emy.


"A-ares? Kau ada disini untuk menjenguk Elly, ya?" tanya Athelia, tatapan wanita itu begitu polos.


"Ya, ayah menyuruhku kesini. Sekarang apa yang kau lakukan di sini? Apa kau berencana menjenguk orang yang telah mencelakaimu Lia? Hatimu sungguh sangat baik!"


"Khm!" Emy mengalihkan perhatian keduanya. "Selamat datang Nona Athelia."


Emy mempersilahkan Athelia duduk, ia meminta pelayan datang untuk menuangkan secangkir teh.


"Silahkan nikmati teh kediaman Nelson," Emy meletakan cangkir yang baru saja di tuangkan teh oleh seorang pelayan kehadapan Athelia. "Teh disini memiliki wangi yang khas, anda tidak akan menemuinya di kediaman manapun!"


"E-elly, jadi kau benar-benar lupa ingatan ya ..." Athelia mengusap sudut netranya yang berembun.


"Anda benar, saya kehilangan sebagian ingatan saya, tapi anda jangan khawatir," Emy meletakan cangkir teh yang baru saja ia minum. "Saya masih mengingat kejadian-kejadian bersama anda, Nona Athelia."


Wajah Athelia berubah cerah, wanita itu menatap antusias ke arah Emy, "Benarkah?"


Emy hanya mengangguk, netranya berbalik menatap Ares yang diam memperhatikan, "Termasuk kejadian-kejadian ketika saya di fitnah oleh orang terdekat anda!"


Deg!


Mata Ares memincing sinis menatap Emy, "Kau menyindirku Lady Amber?!"


"Saya tidak menyebutkan nama anda, pangeran!"


"Tap—"


"Aku tidak mengerti?" Athelia menatap keduanya bingung. "Siapa yang berani memfitnah Elly?!"


Emy tersenyum lebar, Athelia memang benar tidak mengetahui apa-apa. Walaupun selalu bersangkutan dengan kejadian, tapi ia tak pernah mengetahui yang sebenarnya.


Seperti kejadian dimana Emelly di dorong pangeran hingga terjatuh dari tangga, yang Athelia tahu bahwa Emelly terjatuh secara tidak sengaja. Padahal kejadian itu di sebabkan oleh kekasihnya, Ares.


"Tidak ada, saya hanya asal bicara."


Emy tersenyum hambar, sejak tadi ia tahu bahwa alur novel tak berubah sedikitpun. Di mulai dari kedatangan pangeran, lalu di susul oleh kedatangan Athelia.


Padahal ia sudah mengubah topik pembicaraan yang harusnya terjadi.


****


Emy menatap Rozie yang tengah menyisir rambutnya dari pantulan cermin. Setelah keheningan tadi, Ares membawa Athelia pulang, walau Athelia menolak lelaki itu tetap memaksa.


Wajah cantik di cermin itu, begitu mirip dengan wajahnya di kehidupan sebelumnya.


Hidung yang mancung, bibir tipis, bulu mata lentik, wajah tirus, hanya berbeda warna rambut saja, jika di kehidupan sebelumnya warna rambutnya hitam, di kehidupan kali ini warna rambutnya silver, sangat cantik.


"Rozie," panggil Emy.


"Ada apa, Nona?"


Emy menghembuskan nafasnya, "Apa kau mengenal anak angkat dari Duke Livin?"


Rozie terdiam sebentar, "Apa maksud anda Lady Rossellin?"


Emy mengangguk.


"Ya, saya mengenalnya Nona, yang saya dengar Lady Rossellin dulunya adalah seorang budak," jelas Rozie.


"Ah, begitu rupanya ..." Emy tersenyum tipis. "Rozie, bisakah kau menolongku mengundang Lady Rossellin untuk minum teh lusa nanti?"


Rozie mengernyit menatap Nonanya, "Nona yakin ingin mengundangnya untuk minum teh?"


"Ah saya lupa jika nona kehilangan ingatan, sebelumnya izinkan saya menjelaskan tentang lady Rossellin agar nona bisa mempertimbangkannya!"


Emy menggeleng, "tidak perlu, undang saja dia!"


Rozie mengangguk dengan ragu.


Emy tahu bahwa Rozie khawatir padanya, Rossellin adalah musuh dari Emelly, wanita licik yang membuat Emelly di pandang jahat oleh orang-orang.


Ya dia! Rosselin Athena Livin, putri angkat Duke Livin.


"Sebentar lagi aku akan bertemu denganmu, Athena!"