
*Bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang
Lili dan Ellen berjalan pulang bersama. Di perjalanan pulang kedua sahabat baik itu membicarakan banyak hal. Berbincang bersama Lili sangat menyenangkan baginya.
"Apa kau sudah melihat pengumuman?" tanya lili tiba tiba.
"Memangnya ada pengumuman?" jawab Ellen kebingungan karena belum melihat pengumuman yang dimaksud Lili.
"Belum melihatnya ternyata"
"Apa itu? cepat beritahu aku!" desak Ellen penasaran sambil menggoyangkan badan Lili.
"Ahh.. Sudahlah kalau tidak tahu" canda Lili.
"Beritahu aku! kalau tidak ku gelitiki lho! cepat beritahu!" paksa Ellen yang siap menggelitik temannya itu.
"oke oke ku beritahu" ucap Lili
"Tadi di mading pengumuman di pasang pemberitahuan bahwa setelah selesai ujian akan diadakan perkemahan. Aku benar benar sudah tidak sabar ingin pergi! kira kira apa yang harus ku persiapkan. Ah..! sepertinya aku harus beli banyak snack! jangan sampai kelaparan di sana benarkan?" jelas Lili.
"Ya! seharusnya kamu persiapkan ujiannya dulu baru memikirkan perkemahannya." sahut Ellen
"Hei juara umum! kamu sendiri juga tau kalau temanmu ini bodoh. Untuk apa berusaha terlalu keras jika sudah tau hasilnya seperti apa."
"Bukankah kamu terlalu pesimis. Jika kamu benar benar berusaha sedikit lebih keras setidaknya kamu akan merasa lebih lega karena sudah berusaha kan daripada menyesal karena tidak berbuat apa apa." ucap Ellen.
"Bukan lega ataupun menyesal, aku mungkin akan merasa kecewa. Jika seandainya aku sudah sangat sangat berusaha dan hasilnya tidak seperti yang ku harapkan rasanya akan seperti.. oh ternyata aku memang tidak ditakdirkan untuk itu.. seolah sedang ditampar dengan keras agar sadar.. ini bukan pesimis tapi realistis" sahut Lili.
"Daripada seperti itu lebih baik memang tidak usah berharap sejak awal. Lagi pula ibuku tidak peduli dengan nilai ku, dia hanya sibuk dengan pekerjaannya." lanjutnya.
Ellen pun hanya terdiam. Setiap Lili menyinggung tentang ibunya, Ellen tidak tau harus menanggapi bagaimana. Karena Ellen mengerti kalau keluarganya juga luka terbesarnya.
Kedua orang tua Lili sudah lama bercerai. Ayahnya sudah menikah lagi dan memiliki keluarga sendiri. Selama ini Lili hanya tinggal bersama ibunya. Jadi untuk bertahan hidup, ibunya bekerja sangat keras sehingga tidak punya banyak waktu untuk lili. Lili yang malang. Tapi syukurlah dia tumbuh menjadi anak yang ceria. Tapi Ellen tau dia yang seperti itu hanya ingin menyembunyikan lukanya dari orang sekitarnya.
*Kantor kepala desa
"Pak! anda tidak bisa masuk begitu saja! mohon keluar!" perintah bu lydia.
Pria misterius itu diam saja dan hanya menatap kepala desa Kin yang sedang melihat dokumen di mejanya. Kepala desa yang mendengar keributan itu lantas menoleh ke arah pria misterius itu. Saat mata kedua orang itu bertemu, Kepala desa Kin langsung mengenali pria itu.
"Tidak apa-apa, aku mengenalnya" ucap kepala desa Kin dan memberi isyarat dengan mengibaskan tangannya agar bu lydia meninggalkan ruangan. Bu lydia yang memahami situasi tersebut meninggalkan ruangan dan menutup pintu.
Setelah bu lydia pergi, pria itu langsung duduk di sofa tanpa diminta. Kepala desa Kin yang tampak segan dengan pria itu tak berani mengatakan apapun dan berdiri di dekat pria misterius itu duduk.
"Apa anda ingat dengan janji yang anda buat dulu?" Tanya pria misterius dengan nada mengintimidasi.
"Tentu saja! saya ingat dengan jelas"
"Maka mari menjaganya tetap sama seperti dulu" ucap pria misterius seolah sedang memperingatkan kepala desa Kin.
"Tentu saja sampai sekarang saya masih menjaga janji itu."
"Lalu jelaskan apa maksudnya dengan yang terjadi di rumah kosong tepi hutan kemarin. Rumah itu masih termasuk wilayah kami."
"Saya tidak mengerti maksud anda, saya benar-benar tidak tahu dengan yang terjadi kemarin. Tapi saya akan menyelidiki hal ini dan memastikannya tidak akan terulang kembali." ucap kepala desa Kin meyakinkan pria misterius itu.
"Apapun itu.. saya sudah memperingatkan anda! jika hal ini terulang kembali saya tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi." ucap pria misterius itu sambil menatap tajam mata kepala desa Kin.
Setelah pria misterius mengucapkan hal itu lantas ia pun pergi.
Kepala desa Kin lalu menelepon seseorang.
"Selidiki apa yang terjadi kemarin di rumah kosong tepi hutan dan laporkan padaku. Tapi jangan pernah datang apalagi masuk ke rumah itu! mengerti!" perintah kepala desa Kin.
"Tapi jika saya tidak datang ke sana bagaimana saya menyelidikinya?" kata seseorang ditelepon.
"Saya tidak mau tau! cepat selidiki!" ucap kepala desa Kin dan menutup panggilan.