Ellen

Ellen
Episode 1



*Di kamar mandi


Ellen melepas pakaiannya dan berjalan menuju shower dan menyalakannya. Dengan wajah yang tak terlihat tersenyum itu ia menengadahkan wajahnya di bawah air mengalir. Ia terus memikirkan ibunya yang tak pernah peduli padanya. Setiap kata kasar yang dilontarkan padanya terus terngiang di kepalanya.


"Haish.... sudahlah, jika aku terus memikirkannya mungkin aku bisa gila." Ucap Ellen dalam hatinya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut itu. Ellen segera menuntaskan mandinya.


Setelah selesai mandi, Ellen duduk di meja belajarnya. Ia harus menyelesaikan PR yang diberikan guru padanya. Ditengah-tengah mengerjakan PR, Ellen teringat tentang asap di hutan larangan yang ia lihat dari bukit. Seketika Ellen berhenti menulis. Ellen memainkan pulpennya dan kemudian menempelkannya di dagu.


"Asap apa itu?" terlihat dari wajahnya yang kebingungan.


"Apa mungkin ada seseorang yang tinggal di hutan itu? tapi bagaimana mungkin. Terakhir kali hutan itu dimasuki oleh pemburu, tapi tak satupun dari mereka yang kembali."


Semakin Ellen memikirkannya ia semakin bingung. Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di kepalanya.


"Para pemburu itu bahkan tak menunjukkan tanda bahwa mereka masih hidup. Jika mereka masih hidup seharusnya mereka sudah keluar sekarang. Ini bahkan sudah dua tahun sejak mereka memasuki hutan itu." Ellen memang seperti itu. Segala hal yang membuatnya janggal selalu dipikirkannya dengan serius.


Hari semakin larut. Sejak siang tadi Ellen belum memakan apapun. Perutnya terus berbunyi. Tapi dia merasa sangat canggung untuk mengambil makanan setelah yang terjadi sore tadi.


"Ini sudah sangat larut mungkin saja mereka sudah tidur" tenang Ellen. Setelah lama berfikir Ellen pun keluar kamarnya dan menuju dapur. Perlahan Ellen mendekati lemari es dan membukanya. Terlihat ada beberapa sayur dan bahan makanan lainnya. Tangan Ellen meraih sebuah roti dan buah. Di dapur yang minim cahaya tersebut, seketika Ellen merasa dingin. Ellen merasa ada sesuatu yang mendekatinya. Tapi Ellen tak menghiraukannya meskipun ia sedikit takut. Saat Ellen sedang mencuci buah yang diambilnya dari lemari es,


BUUMMM....!!!!


Seseorang menepuk pundaknya. Ellen terkejut dan menengok ke belakang.


"Bibi Joe kau menakutiku!!" Suara Ellen terdengar lega mengetahui bahwa itu adalah bibi Joe. Asisten rumah tangga di rumahnya.


"Non Ellen apa yang kau lakukan di sini malam-malam?" tanya bibi Joe yang penasaran.


"Aku hanya lapar dan mencari sesuatu untuk ku makan." Jawab Ellen singkat.


"Apa non Ellen mau bibi masakin sesuatu?" Tawar bibi Joe kepada Ellen.


"Tidak usah bi, aku cukup makan roti dan buah ini saja." sangkal Ellen.


"Apa non Ellen yakin?"


"Tentu saja bi..." Seketika suasana hening kembali. Saat Ellen sedang menikmati makanannya di meja makan, tiba-tiba.... "Bibi minta maaf ya non Ellen." Ellen terkejut dengan permintaan maaf bibi Joe tersebut.


"Minta maaf kenapa bi, emang bibi Joe salah apa? sampai meminta maaf segala."


"Seharusnya bibi mengantarkan makanan pada non Ellen sejak tadi. Tapi nyonya lie melarang. Bibi gak bisa melawan perintah ibunya non, jadi bibi minta maaf ya non." Terlihat penyesalan di wajah bibi Joe.


"Sudahlah bi, tidak apa-apa." Meskipun Ellen bilang begitu tapi hatinya benar-benar sakit.


"Memang ibu tadi bilang apa bi?" tanya Ellen yang penasaran.


"Nyonya bilang 'kalau Ellen tidak turun makan biarkan saja! Tak perlu mengantarkan makanan padanya!' begitu kata nyonya, non. Bibi minta maaf ya non." jelas Bibi Joe.


"Tidak masalah bi, aku paham." Ellen pun segera menyelesaikan makannya dan kembali ke kamar.