
*kemarin
Sore setelah pulang sekolah Lili menuju rumah Ellen. Tepat di depan rumah Ellen, Lili bertemu penjaga rumah. Diapun bertanya pada penjaga rumah. "Ellen di rumah ga pak?"
"Ga ada tuh neng.. emang kenapa?" penjaga rumah balik bertanya pada Lili. "Itu mau ngajak dia main.. Ellen kemana ya kira-kira? bapak tahu gak?" "yah gak tau atuh neng.. neng Ellen juga ga bilang mau kemana."
"Ya udah deh kalo gitu.. Lili pergi dulu ya pak! makasih" kata Lili. "iya sama-sama neng" sahut penjaga rumah.
Lili pun pergi meninggalkan rumah Ellen dan menuju tempat yang sudah di janjikan bersama teman lainya. "haish Ellen pasti ada di bukit itu.. sudahlah kami pergi saja tanpa dia" gerutu Lili di jalan.
Sampailah Lili di tempat yang dijanjikan. Semua orang ternyata sudah sampai dan hanya menunggu Lili. "Kau datang sendiri?" tanya Andrew. "Bukannya mau ngajak Ellen?" sahut Sania. "Iya makin rame makin seru tahu!" celetuk yuna.
"semua diam!" seru Lili agar teman-temannya diam. "Aku tadi sudah ke rumahnya.. tapi dia tidak ada.. ya sudah aku langsung ke sini saja. Mau gimana lagi" jelas Lili.
"Oke oke.. karena kita semua sudah di sini kita pergi saja sekarang. Takutnya keburu malam." sahut Steve menengahi.
Menujulah mereka ke rumah kosong di tepi hutan larangan.
* Dirumah kosong
Ngiiikkkkk.... Suara pintu tua saat lili membukanya."Andrew kau masuklah lebih dulu!" pinta Lili yang terlalu takut untuk masuk lebih dulu.
"Kenapa aku? Steve kau saja!" tolak Andrew sambil mendorong ringan punggung Steve.
"Yaaa! kalian yang memaksaku ikut kemari tapi kalian sendiri malah ketakutan." rengek Steve yang merasa terpojok akan sikap temanya. Namun begitu tetap Steve yang masuk pertama ke rumah itu. Lili dan lainya mengikuti dari belakang. Mereka masuk perlahan-lahan dan mengamati benda sekitar.
"Rumah ini sangat besar, kenapa ditinggal begitu saja?" kata sania. "Benar, pasti membutuhkan banyak uang untuk membangun ini tapi lihat sekarang barang-barang ini terbuang begitu saja." sahut yuna sambil memegang sebuah guci utuh namun sangat berdebu.
Rasa takut mereka perlahan hilang karena terlalu fokus melihat barang-barang yang sebagian besar sudah pecah dan rusak di rumah itu. "Lihat semua barang ini! jika kita mengambilnya apa penunggu di rumah ini akan marah?" gurau Andrew sambil menunjukan sebuah liontin berkarat dan usang.
"Apa kau gila! gimana kalo penunggunya mengikuti mu pulang dan meminta barangnya dikembalikan!" sahut Lili sambil memukul kepala bagian belakang Andrew. "Andrew kembalikan kalung ku huuuu.... kenapa kau mengambilnya hiiiii...." lanjut Lili menakuti Andrew dengan sedikit mengubah nada suaranya seperti hantu.
Andrew yang ketakutan langsung melempar liontin itu ke lantai. "iihhhh... amit-amit ga mungkin"
"AAAAAKKKKKKHHHHHH!!!!!"
Suara barang pecah sontak membuat Lili dan temannya berteriak karena terkejut. "Aaaaaaa!!! mama hiks" teriak sania yang juga langsung memeluk yuna sambil menangis karena ketakutan.
"Mama aku mau pulang hiks! apa itu hiks! kita pulang saja ayok hiks" tangis sania dengan tetap memeluk Yuna. Yuna pun juga berusaha menenangkannya dengan menepuk ringan pundak Sania.
"Sorry gaes ga sengaja, gatau ni kaki ku kesandung apaan terus ga sengaja nyenggol vas hehehe." ucap Steve dengan santainya.
Lili dan Andrew yang gemas langsung mengeroyok Steve. Tentu saja mereka memukul dan memaki steve. "kau orang gila sialan!" maki Lili. "Sialan dasar gila!" maki Andrew dengan tetap memukul Steve. Steve hanya pasrah dan memberikan punggungnya dipukul karena memang kesalahannya."hehehe sorry ga sengaja juga" ucap Steve membela diri.
"haaaahhhhh....." Lili menghela nafas panjang." Yuna kau tak apa?" tanya Lili.
Disisi lain steve menuju kesebuah ruangan dan mencoba membuka pintunya. Namun sayangnya pintu itu terkunci. Steve tetap berusaha dengan terus memutar-mutar gagang pintu. Hal itupun menarik perhatian Lili.
"Ada apa Steve?" tanya Lili penasaran. "kok pintunya ga bisa dibuka ya? apa nyangkut sesuatu karena sudah lama ga dibuka?" jawabnya.
"Biar ku coba" Andrew mendekat dan mencoba membuka pintu itu.'krek.. krek.. suara gagang pintu. "Kayaknya dikunci deh" ucap Andrew.
"Ga mungkin! masa di rumah kosong yang udah tua kayak gini ada pintu yang dikunci." sahut Lili tak percaya sambil mencoba membuka pintu itu sendiri. Saat mencoba membuka pintu Lili menyadari jika gagang itu bersih dari debu.
"Kalian liat gak? gagang pintunya kok bersih padahal benda lainya sangat kotor!" ujarnya sambil menunjukan bekas tangannya yang digunakan untuk membuka pintu.
"Eh iya aku baru sadar!" ucap Steve. "Jadi merinding..! jangan-jangan tempat ini digunakan untuk kejahatan lagi." lanjutnya.
"huuuaaaa.. ayo pulang aku takut! gamau lagi ayo pulang!" tangis Sania.
"Udah ah pulang aja yok udah mau gelap juga" ucap Yuna yang juga merasa sedikit takut.
"Yaudah yuk pulang aja" ajak Lili.
Mereka pun memilih pulang dengan menyisakan rasa penasarannya. Tapi tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengawasi mereka sejak masuk ke rumah itu. Orang itu sembunyi di balik tembok lantai dua.