
*keesokan paginya
Ketika ellen turun dari kamarnya terlihat keluarganya yang sedang menikmati sarapan.
"Ellen kemarilah" pinta sang ayah. Ellen pun duduk dan sarapan bersama. Semua orang terlihat enggan untuk berbicara. Hanya ada keheningan yang menemani sarapan keluarga itu. Tiba-tiba sang ayah bertanya pada Ellen.
"Ellen, bukankah minggu depan kau ujian..apa kau sudah menyiapkannya dengan baik" "tentu saja," jawab Ellen. "lalu setelah lulus nanti apa rencana mu?" tanya sang ayah.
"ayah.. apa boleh aku pindah ke kota untuk melanjutkan pendidikan ku?" tanya Ellen dengan sedikit ragu.
Belum juga sang ayah menjawab, tiba-tiba ibu berkata "untuk apa melanjutkan pendidikan ke tempat yang begitu jauh!? lulus nanti langsung persiapkan pernikahan saja.. anak laki-laki keluarga lewi dari desa sebelah sempat menanyakan mu, keluarga lewi adalah keluarga terpandang.. jika kau bisa menikah dengannya mungkin bisa membantu karir ayah mu."
Ellen tampak terkejut dengan pernyataan ibunya itu. Namun sang ayah hanya terdiam membisu seolah menyetujui. Tapi entahlah apa yang dipikirkan oleh pria tua itu. Posisinya sebagai kepala desa memang sedikit goyah sejak peristiwa dua tahun lalu itu.
"benar kata ibu.. kau menikahlah saja, cukup aku saja yang jadi sarjana. kau bantulah ayah,." sahut Aline.
"Tidak boleh!!" bentak sang ayah sambil memukul meja dengan tangan kanannya. Semua orang terkejut dan terdiam sambil menoleh ke arah sang ayah.
"Saya tidak perlu bantuan putriku untuk mempertahankan posisiku atau apapun itu apalagi dengan mengorbankan hidup putriku!!" kata sang ayah.
"Ellen.. jangan kau pikirkan apa kata ibumu! setelah lulus nanti, kau sendiri yang memutuskan akan bagaimana. Jika kau memang ingin melanjutkan pendidikan mu keluar kota maka pergilah!"
"ayah.. mungkin ibu memang ada benarnya, sedikit berkorban untukmu apa salahnya?" kata Ellen dengan enggan namun tulus.
Sang ayah tiba-tiba berdiri dan berkata "tidak bisa.." sambil mengelus rambut Ellen ayah berkata "kau memang putriku yang baik tapi ayah belum selemah itu hingga harus bergantung pada putrinya." setelah mengatakan itu, sang ayah pun pergi meninggalkan ruang makan tersebut.
"cih.. kau benar-benar pandai mencari perhatian ayah" celetuk Aline dengan nada sedikit marah namun juga cemburu. "aku sudah selesai.. ibu aku berangkat" Aline pun juga pergi meninggalkan meja makan dan menuju ke kampus. "bu.. Ellen juga pamit" Ellen pun menuju ke sekolah.
*di sekolah
Sampai di ruang kelas Ellen duduk di meja belakang dekat jendela tempat favoritnya. Entah itu hanya menatap keluar jendela atau membaca sebuah buku, Ellen hanya ingin menghindar dari kebisingan di kelasnya. Berbeda dengan kakaknya yang cenderung ceria dan mudah bergaul dengan teman-temannya, Ellen cenderung pendiam dan menarik diri dari lingkungan sosial. Bagi teman-teman sekelasnya Ellen merupakan orang yang dingin. Tapi tidak dengan orang yang satu ini, namanya Lili. Dia adalah sahabat Ellen dan satu-satunya orang yang bisa sedekat itu denganya.
Tiba-tiba ada seseorang yang merangkul bahunya, sontak mengejutkan Ellen. "yaaaa...!! kau kemarin dimana?" tanya Lili dengan santainya.
"kenapa memangnya?" jawab Ellen dengan balik bertanya pada gadis berambut pendek dengan mata sipit yang manis itu sambil menyingkirkan tangannya dari bahunya.
"Aku kemarin datang ke rumah mencari mu tapi ibumu bilang kamu ga ada di rumah. sayang sekali padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kamu taukan rumah kosong di pinggiran hutan itu. Aku bersama teman lainya datang ke sana. wahhh..!! di sana benar-benar menakutkan. Sania bahkan menangis merengek minta pulang. Kau harusnya ikut kemarin."
Ellen hanya diam dan menatap sahabatnya dengan pandangan lembut dan sedikit tersenyum. Lili sangat berisik tapi Ellen menyukai sahabatnya yang seperti itu. Kehadiran Lili dalam hidupnya membuat hidupnya sedikit berwarna.
"oh ya, apa kau kemarin datang lagi ke bukit itu? bukannya sudah kubilang jangan ke sana!? tidak bisakah kau mendengar nasihat sahabatmu ini? kau sendiri juga tahu di sana sangat sepi dan banyak hewan buas! bagaimana jika tiba-tiba kau bertemu macan atau singa! waaahh.. aku merinding hanya dengan membayangkannya." Lili terus bicara hingga tak ada kesempatan bagi Ellen untuk menjawab.
"Bagaimana jika kau dimakan serigala!!" Sontak Lili langsung memeluk sahabatnya dan bersikap seolah sedang menangis.
"huuuaaaa... aku belum siap kehilangan mu.. huuu.." Ellen yang gemas dengan tingkah sahabatnya itu seketika mendekap mulut Lili. "ahhh.. diamlah!?" sambil mendorong ringan tubuh sahabatnya yang sedang memeluknya.
"kau sendiri datang ke rumah kosong itu apa tidak takut, bagaimana jika tempat itu sarang penjahat!" balas Ellen yang ingin menakuti sahabatnya juga.
"heyy.. tidak mungkin!" sangkal Lili.
"Tapi rumah itu sangat aneh. Bukankah rumah itu sudah kosong sejak lama? tapi ada beberapa barang yang bahkan tidak berdebu! seperti ada orang yang sering menyentuhnya, ada beberapa ruangan yang dikunci juga dan gagang pintu yang terkunci itu juga tidak berdebu. sepertinya ada orang yang sering bolak balik ke ruangan itu." jelas Lili.
"Apa ku bilang! mungkin tempat itu benar-benar sarang penjahat. Tempat itu mungkin lebih berbahaya daripada bukit. Lebih baik kau jangan ke sana lagi." balas Ellen dengan nada sedikit mengejek namun terselip sedikit kekhawatiran pada sahabatnya.
"heyy... apa kau mengejek ku!?" kata Lili sambil mengelitiki Ellen. "Ahh.. geli.. hentikan!?!" jawab Ellen sambil tertawa tanpa sadar karena geli.
"Ayo semuanya diam dan kembali ke tempat duduk masing-masing!!" teriak seorang pria paruh baya yang tiba-tiba masuk ruang kelas. Seketika ruang kelas yang awalnya berisik dan kacau menjadi tenang dan tertib. "Baiklah.. siapkan buku kalian dan mari kita mulai kelasnya!"