Ellen

Ellen
prolog



Namanya adalah Grazia Ellen. Saat ini Ellen berusia 17 tahun. Ellen adalah gadis cantik dengan rambut hitam panjang, ia memiliki mata yang sangat indah dan bulat, Ellen tampak sangat polos dengan tatapan sayu matanya bukan hanya itu kulitnya pun putih bersih. Ellen tinggal bersama keluarganya disebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Desa tempat tinggal Ellen sangat indah dan terjaga kelestariannya. Tak jauh dari desa tersebut terdapat hutan yang lebat sehingga penduduk desa dilarang untuk memasuki hutan tersebut. Banyak orang yang masuk ke hutan itu untuk berburu, namun tak ada satupun orang yang kembali. Hutan itu terkenal dengan nama hutan larangan.


Ayah Ellen bernama Neandro Kin yang mana ia adalah seorang kepala desa sedangkan ibunya bernama Claretta Callie. Di desa, Neandro kin dipanggil dengan sebutan kepala desa Kin. Keluaga Ellen sangat terpandang di desanya karena jabatan ayahnya tersebut. Ellen memiliki satu kakak perempuan, namanya Belva Aline. Aline lebih tua dua tahun dari Ellen. Aline terlihat anggun dengan rambut pendeknya, matanya coklat dengan tatapan yang tajam.


Sejak kecil ibunya lebih menyangangi Aline. Ibunya selalu mendahulukan kepentingan Aline bahkan ketika Ellen sedang sakit pun ibunya tetap tak peduli padanya. Sedangkan ayahnya sangat sibuk dengan urusan desa sehingga jarang terlihat di rumah.


Ini adalah tahun terakhirnya sekolah. Ellen merupakan siswi yang pintar. Hampir di setiap mata pelajarannya mendapat nilai sempurna. meskipun begitu Ellen tetap tak mendapat pengakuan dari ibunya. Ellen lebih suka menghabiskan waktunya sendirian di bawah pohon di atas bukit yang ada di dekat desanya untuk menggambar.


Kala itu ketika Ellen sedang menggambar ia melihat jauh ke arah hutan larangan. Ellen melihat ada sebuah asap pembakaran dari dalam hutan itu, yang mana jika hutan itu tidak berpenghuni maka tidak mungkin terdapat asap. "Bagaimana mungkin terdapat asap bila tidak ada yang masuk kehutan itu?" gumam Ellen. "Apakah mereka orang-orang yang masuk ke hutan itu dua tahun lalu? tapi itu sudah lama sekali! kata orang tidak ada yang selamat dari mereka!". Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Ellen. Namun hari semakin gelap Ellen pun memutuskan untuk kembali.


"Darimana kau selarut ini baru pulang!?" tanya ibunya. "Hanya jalan-jalan saja" jawab Ellen. "Apa jalan-jalan untuk menggoda pria yang kau temui di jalan. Apa kau tidak peduli dengan reputasi keluarga. Keluarga kita adalah keluarga terpandang kenapa kau begitu memalukan!!" dengan nada keras ibunya memaki Ellen. "Bu, aku hanya jalan-jalan saja tidak lebih" dengan menahan tangis Ellen membantah tuduhan ibunya. "Tidak bisakah kau seperti kakakmu yang penurut! selalu saja membantah!". "Kakak adalah kakak, aku adalah aku bagaimana aku bisa menjadi kakak!" Ellen pun yang tak kuasa lagi menahan air matanya langsung lari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. "Hey!! ibu sedang berbicara denganmu!! benar-benar tidak sopan!" Ellen yang tak menghiraukan ucapan ibunya itu langsung masuk kamar dan terduduk di balik pintu kamarnya.


*Di kamar Ellen


"kenapa??" tanya Ellen dalam hatinya sambil menangis tersedu-sedu. "Kenapa di hati ibu hanya ada kakak?bukankah aku juga putrinya?"tangis Ellen. Setelah lama menangis, Ellen berusaha menenangkan dirinya sendiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.