Edfeet

Edfeet
Episode 4



Perlahan lahan Karan membuka matanya.


"hm...?"


"Siapa yang menyalakan lampu rumah ini."


Cletak.


Terdengar seperti suara seseorang menyalakan kompor.


"huh?"


"Kau sudah bangun Tuan Karan? syukurlah, aku mengkhawatir kan mu karena tidak bangun bangun dari tadi." Niro nampak sedang memasak makanan.


"Cihh, aku sudah bangun tadi siang, tapi aku tertidur lagi karena kau tidak ada dirumah."


"Oh? haha, maaf kan aku, tadi aku berangkat sekolah, karena kau tidur, aku tidak tega membangunkan tidur nyenyak mu itu Tuan Karan."


"Hmph." Karan sambil memalingkan wajahnya.


Karena hal ini, Niro menjadi tidak tega akan perlakuan dirinya kepada Karan.


"Oiya, Tuan Karan, apa kau lapar?" Niro menawarkan ajakan makanan.


"Aku tidak mau makan, aku juga tidak kelaparan." Ucap Karan Sambil Menyombongkan dirinya sendiri.


"Benarkah kalau kau tidak lapar Tuan Karan?"


"Sudah kubilang tadi kalau aku tidak lapar."


Grukkk!!


Suara keluar dari perut Karan, Suasana nya menjadi sunyi. Karan pun tidak bisa menghindari kejadian ini.


"Hehe, apa kau tadi berbicara yang sebenarnya Tuan karan?"


"Ha? Aku tidak lapar!!"


Grukkk!!!


"....."


"Haihhh, baiklah aku akan makan." Karan menundukkan kepalanya sambil menerima keadaannya itu.


"Nah sekarang kemana makanan ku?"


"Sebentar biar kuambilkan Tuan Karan."


Niro Berjalan menuju tempat ia menaruh stok makanan kucing, Karan binggung apa yang Niro lakukan. Niro membawa 1 Set makanan untuk kucing, dan ia menuangkan makanan tersebut di tempat untuk kucing makan dan memberikannya itu kepada Karan.


"Hei apa maksud mu ini? aku ini manusia kau tau?" Karan masih tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Niro.


"Tuan Karan, biar kukatakan sekali lagi, memang benar kau itu manusia, tapi sekarang kau itu berada di tubuh kucing, sudah sepatutnya aku memberikan mu makanan kucing."


"Hei, bukannya sama saja kalau itu makanan."


"Baiklah, kalau begitu, makan lah makanan kucing itu." Niro mengarakhkan jarinya ke arah makanan kucing.


"Apa bedanya aku makan makanan seperti biasa?"


"Jika kuberikan makanan manusia, tubuh kucing mu ini tidak dapat mencerna nya dan akan hanya mendatangkan penyakit kau tau?"


"Ta-tapi kan.."


"Tidak ada tapi tapi an Tuan Karan." Niro menjawab dengan senyumnya yang polos itu.


"Ugh." Karan menatap makanan kucing itu dan merasa jijik.


"Kenapa kau ragu Tuan Karan?"


"I-ini kau sebut makanan?"


Karan menatap makanan kucing tersebut, lalu ia melihat kembali Niro, ingin meminta pertolongan namun mata Niro mencerminkan suatu harapan.


Karan melihat kembali makanan tersebut, lalu berusaha mengumpulkan tekadnya itu.


"Hanya kali ini Karan, Hanya kali ini." Karan berbicara sediri namun dalam hatinya.


Perlahan lahan Karan menyodorkan lidahnya tersebut. Namun lama kelamaan ujung lidahnya itu meyentuh makanan tersebut.


Rasa yang belum pernah Karan rasakan, rasa yang sangat enak baginya. Memang benar kita tidak bisa menilai sebelum mencoba nya.


Dia pun melahap makanannya itu, bahkan makanan yang ada disekitarnya juga.


"Apakah enak rasanya Tuan Karan?"


"Lumayan." Ucap Karan sambil membersihkan sisa makanan nya itu.


"Ugh, aku yang mempunyai harga diri yang tinggi, seketika hancur karena memakan makanan kucing ini." Gumannya.


"Oh iya, Tuan Karan apakah kau mau berjalan jalan keluar?"


"Hmm? Apakah itu perlu?" Tanya Karan.


"Hanya sebagai pengenalan lingkungan sekitar saja, takutnya kau nanti tersesat." Ucap Niro.


"Baiklah aku ikut, bisa merepotkan juga bila aku tersesat."


Di Jalanan ~


Karan dan Niro berjalan jalan di sekitar, banyak orang yang melihat mereka, ternyata yang membuat mereka tertarik itu adalah Karan. Walaupun dia mausia, tetapi di mata orang dia adalah kucing gemuk yang lucu.


"Wahh, gemuk sekali ya kucing itu."


"Iya, tapi lebih tepatnya Gembul!"


"Hahaha, iya juga, dan apakah dia pemilik kucing itu?"


"Sepertinya iya, tapi yang aku inginkan itu mencubit pipi kucing nya itu yang Gembul!!"


Satu per satu komentar keluar setiap ada yang melihat mereka.


Mereka berdua mengabaikan komentar komentar tersebut, dan Niro berhenti di suatu tempat.


"Ehh? kenapa kita berhenti disini, kau bilang ingin mengajak jalan jalan." Tanya Karan.


"Yahh, kita sudah sudah selesai jalan jalannya, dan kita akan mampir kesini terlebih dahulu." Ucap Niro.


"!?"


"A-apa apaan ini, kau ingin aku masuk ke klinik hewan?"


"Begitulah." Ucap Niro.


Karan masih tidak percaya apa yang akan dia alami setelah ini selesai.


"Baiklah ayo kita masuk Tuan Karan." Niro membawa masuk Karan kedalam Klinik Hewan.


-


-


-


-


-


[Lanjutannya Ada Di Episode Selanjutnya]