
Dipagi Hari ~
"Hoamm"
"Ugh"
"Nyenyak sekali tidur ku ini."
"Apa kau sudah bangun Tuan Karan?"
"Sial...aku lupa kalau aku tidur di rumah bocah ini." Tersadar dari tidurnya dan Karan berbicara dalam hati.
"Huh? Tuan Karan?"
"Iya iya aku sudah bangun, lebih baik kau jangan ganggu aku."
"Hehe, aku hanya khawatir kepadamu." Niro berbicara dengan ketawa kecil.
"Sigh, apa apaan bocah ini!? Dia kira aku anaknya apa! Segala mengkhawatirkan aku pula." Karan berbicara dalam hati.
Karena tubuh Karan yang sekarang adalah tubuh kucing dan sudah bukan tubuh manusia lagi dia masih belum bisa mengontrol tubuhnya sendiri.
"Hei bocah."
"Huh, Hei aku juga punya nama kau tahu, N - I - R - O... namaku Niro apa kau mengerti."
"Sial, Dasar kau bocah bau kencur yang sangat merepotkan ini!!" Karan berbicara dalam hatinya.
"Hei, apakah kau sedang mengejek ku dalam hati mu." Niro memasang mimik muka seperti melihat sesuatu hal yang bodoh.
"B - Bagaimana kau tau!?"
"Itu terlihat dari raut wajahmu."
"Walaupun kau itu telah berubah menjadi kucing tapi aku masih bisa melihat muka mu yang meledek ku dari raut wajahmu ." Niro masih tetap memasang mimik muka seperti melihat sesuatu hal yang bodoh.
"Ugh, dasar bocah biad*b." Karan meledek Niro dalam hatinya.
"Huh? apakah kau meledekku lagi?" Niro masih saja tetap memasang mimik muka seperti sebelumnya.
"Ugh bocah ini..." Karan merasa tidak kuat setelah melihat muka Niro
"Bocah,mau berapa lama lagi kau memasang mimik muka tersebut,itu membuat ku merasakan kalau kau sedang melihat seseorang yang sangat bodoh dalam kehidupan mu itu."
"Hei, jangan bilang kau memperlakukan ku seperti orang bodoh?"
"Ya, itu kau yang ku perhatikan, apakah kau baru sadar akan kebodohan mu itu?" Niro masih tetap memasang mimik mukanya itu.
"Dasar,bocah brengs*k ini!?"
"Uhh, sabar lah Karan kau masih dalam keadaan tubuh yang belum sehat, setelah kekuatan ku kembali akan ku pukul kepalanya sampai berlutut dan memohon ampun kepadaku, hehehehe...." Karan mencoba menenangkan dirinya sendiri sambil membicarakan takdir kedepannya nanti.
"Ehem, sudahlah Niro apakah kau mau menghanguskan makananmu itu dan membuat rumah mu ini kebakaran?"
"Ehh? oh iya aku lupa, untung kau menyadarkan ku hehehe." Mimik muka Niro berubah drastis menjadi seperti orang polos nan bodoh.
"Lihatlah sekarang siapa yang bodoh, haihh" Karan berbicara dalam hatinya.
"Ohh iya Tuan Karan tadi kau mau bertanya apa?"
"Hem? apa maksud mu? ohh yang tadi? tolong bantu aku pindahkan tubuh kucing ku ini ini ke depan Televisi mu itu."
"Huh, apakah masih ada bagian yang sakit dan kau tidak bisa berjalan Tuan Karan?"
"Hei!? apa kau bodoh? aku ini juga dulunya manusia, aku hanya masih belum bisa beradaptasi dengan tubuh kucing ini."
"Hehehe." Niro tertawa kecil.
"Cih cepat bantu aku, jangan tertawa kau bocah."
"Hehehe." Niro masih tertawa kecil.
"Kau ini sebenarnya kenapa ha!?"
"Hehehe, tidak apa apa Tuan Karan aku hanya bercanda."
"Cihh bercanda mu itu seperti orang gila."
"Bocah brengs*k Ini!!" Dalam hati Karan, ia sangat kesal terhadap Niro.
"Hehehe." Niro tetap tertawa kecil.
"Kubilang Cepat, Hei!!!" Karan berteriak keras dengan keras sampai sampai kucing di luar rumah kaget.
"Eekkk!? Janganlah marah Tuan Karan, aku ini kan cuma bercanda." Niro menjawab dengan ragu ragu.
"Cih, hei cepat lah, apa kau mau ku pukul kepala mu yang bodoh itu?"
"Maaf Tuan Karan." Niro menjawab sambil menunduk.
"Huh, lebih baik jangan seperti itu lagi, kalau tidak akan kupukul kepala mu yang bodoh itu." Karan mencoba memperingati Niro yang bersalah itu.
"Baik baik, sini cepat kubantu Tuan Karan ke depat Televisi."
Niro Pun Menggendong Karan dan memeluknya, segera ia bawa ke depan televisi.
Brukk ~
"Ugh, Hoi apa kau bisa pelan sedikit?"
"Apa maksud mu? berat badan mu itu melebihi berat pada kucing biasanya, kau sendiri yang terlalu gemuk Tuan Karan."
"Cih ini hanyalah tubuh kucing biasa."
"Haihhh, tapi badan kucing mu itu terlalu banyak lemak, lihat ini... hanya ku sentuh sedikit saja perut mu saja sudah bergoyang goyang."
"Cih, apa kau sedang memberi tau aku? aku pun sudah tau akan masalah tubuhku ini."
"Heh, sebaiknya kau tau diri Tuan Karan karena ini adalah rumahku. Rumahku peraturanku apa kau mengerti Tuan Karan?"
"Hmm?"
"Hei Tuan Karan?"
"Huh? dia tertidur? apakah aku harus membangunkannya? ahh sudahlah aku biarkan saja dia tidur."
Setelah peristiwa tadi Karan merasa lelah dan dia pun tertidur akibat ocehan yang panjang dari Niro.
***************************
Siang Hari ~
Karan terbangun dari tidurnya, entah mengapa rumahnya itu sepi dan tidak ada siapa pun.
"Hoamm."
"Hmm?"
"Terlalu sunyi rumah ini, kemana perginya bocah sial itu? haihh biarkan lah aku juga akhirnya punya waktu untuk tenang."
"Tapi..."
"Tapi ini tempat ini terlalu hening! bocah apa kau mempermainkan ku bocah!? cihh dasar bocah ini tiba tiba menghilang tanpa memberitahu kepadaku terlebih dahulu."
"Hmm, aku heran kenapa hanya ada bocah itu sendiri di rumahnya, apakah bocah itu tidak memiliki orang tua?" Karan memikirkan semua kemungkinan yang ada diotaknya itu.
"Ahh untuk apa terlalu mempedulikannya, biarkan nanti aku tanya saja ke dia saat sudah ada dirumah."
"Grukkkk...!" Suara perut yang kelaparan.
"Ugh, apakah tidak ada makanan di sekitar sini?"
Karan berjalan ke ruang makan dan mengotak atik lemari makanan.
"Cihh bocah sialan, kalau bisa saat kau pergi dari rumah lebih baik siapkan makanan untukku."
"Kalau begini terus lebih baik aku lanjut tidur lagi."
"Yahh, aku tidur sambil menunggu dia ada dirumah, omong omong kenapa aku sering mengantuk akhir akhir ini....?"
"....."
Karan mulai tertidur kembali dari bangun tidurnya.