
Dimalam Hari ~
"Halo Para kucing."
"Haha, apa kalian menunggu ku?"
"Maafkan lah aku karena terlambat dari biasanya, sekolah mengadakan pelajaran lebih untuk murid murid pada hari ini."
"Nahh sekarang kalian cepat makan makanannya ini."
Dia menodorkan makanan kucing ke lantai dan membaginya.
"Oke baiklah, sekarang mari kita perkenalan, kenapa kalian datang hari ini kompak bertiga? apakah kalian 1 keluarga atau cuma hanya sebagai teman?" Dia berjongkok dan sambil menunggu jawaban kucing.
"Meoow"
"Meoow"
"H-hei, ada apa dengan kalian, kenapa kalian bersikap aneh hari ini?"
"Apakah ada sesuatu yang salah? apakah mainan yang kuberikan tidak berguna?" Dia berbicara dengan nada agak panik.
Salah satu kucing berjalan keluar dan seperti mengajak dia ke suatu tempat.
"Huh?"
"Apa kau ingin mengantarkan ku ke sesuatu tempat?"
"Meoow"
"Haha, baiklah baiklah, aku akan mengikuti kalian dari belakang." Dia mengikuti para kucing ke suatu tempat dan lumayan dekat dari rumahnya.
"Huh?"
"Ehh..."
Terlihat kucing yang bersimbah darah dan banyaknya bekas luka.
"Kenapa kucing ini banyak luka, jadi kalian mengantarku ke sini cuma mau agar aku mengobati kucing ini?"
"Meoow"
Mereka serentak menggangguk.
"Huh, baiklah."
"Ayo cepat pulang dan siap siap mengobati kucing ini." Dia berbicara sambil membawa kucing yang terluka tersebut.
Didalam rumah ~
Dia langsung mengobati luka luka yang ada di tubuh kucing tersebut.
(Perlahan membuka mata)
"Huh?"
"Apa aku kehilangan kesadaran?"
"Dimana aku sekarang ini?"
"Huh, apa ini?"
"Ini? ini tubuh kucing."
Karan Berusaha memahami keadaan sekitar.
"Ohh iya aku ingat pas waktu itu..."
"Aku mencoba masuk ke tubuh kucing dan menghilangkan jejak untuk sementara."
"Tak kusangka aku masuk kedalam tubuh kucing ini."
"Tunggu, itu artinya... percobaan ku berhasil?"
"Hehehe... aku bisa berhasil dalam sekali percobaan." Karan menyanjung tinggi dirinya.
"Nahh baiklah sekarang aku akan melihat lihat siapa yang telah membantu ku."
"Huph"
"Brukkk.."
"Sial, kenapa tubuh kucing ini begitu susah untuk dikendalikan."
"Ughh"
"Aku harus terbiasa dengan tubuh ini dan segera mengumpulkan kekuatan ku.
Di Dapur ~
"Ehh? sepertinya aku mendengar suara dari lantai atas, apa jangan jangan kucing tersebut bangun ya?"
Dia bergegas berjalan ke lantai atas.
"Wahh, ternyata kau sudah bangun."
"Hmm, hei kucing apa kau masih merasa sakit?"
"Sakit di bagian mana saja?"
"Apa kau merasa lapar?" Dia melontarkan banyak pertanyaan.
"Ugh, apakah bocah ini tidak bisa diam."
Karan berbicara dalam hatinya.
"Hei kenapa kau diam saja?"
"Dasar Bocah ini menjengkelkan sekaliđź’˘"
Karan semakin merasa kesal.
"Hei apaka-"
"Diam kau bocah sialan!"
Karan mulai menyela pembicaraan.
"Huh?"
"E-ehh!? Kenapa kau bisa bicara."
"Bukankan hewan tidak dapat bicara seperti manusia." Dia ketakutan karena hewan dapat berbicara seperti manusia.
"Cihh, hei bocah."
Dia masih ketakutan dan badannya gemetaran.
"Hei!! Jawab kalau kau masih mau hidup."
"I-iya, kenapa?" Menjawab sambil gemetaran.
"Siapa nama mu?"
"Huh?" Dia terkejut dengan apa yang Karan tanyakan.
"Kubilang siapa nama mu! apa kau mendengarkannya ?!"
Karan sedikit menggertak.
"E-ehh, nama... Nama ku Niro." Menjawab dengan gemetaran.
"Haihh, nama lengkapmu yang kutanya bukan nama panggilan mu."
"Hah? kau tadi kan bilang apa nama ku jadi ya kusebut nama itu saja." Niro berusaha mengelak.
"Hei!! Sudah kubilang apa nama lengkapmu!"
Karan semakin marah saat berbicara dengan Niro.
"I-iya maafkan aku." Niro merasa bersalah akan Karan yang semakin marah.
"Kau ini mau ku lubangi perutmu apa,hah!?"
Karan sedikit mengancam.
"N-namaku Niro Kizoka." Niro menjawabnya sambil gemetaran.
"Cihh, hanya menanyakan nama saja sudah bisa buat aku emosian begini."
"Maaf." Niro Menjawab sambil menunduk.
"Huh, tidak usah minta maaf." Karan mengabaikan Niro.
Karan melihat Niro seperti ingin bertanya namun ragu ragu dan takut dengan Karan.
"Apa yang kau mau tanyakan?"
"I-itu....Siapa sebenarnya dirimu itu?"
"Aku? Hahaha... Aku adalah Karan." Kara menjawab sambil mengeluarkan kharismanya yang menyilaukan.
"Lalu kenapa kau berubah menjadi kucing?"
"Yahh itu, karena aku terjebak dalam rencana busuk musuh ku dan akhirnya aku terpaksa masuk ketubuh kucing dan mencoba mengembalikan kekuatan ku." Karan mencoba menjelaskan.
"O-ohhh..." Niro berusaha menerima apa yang dibicarakan Karan.
"Yahh sekarang itu tidak penting."
"Ini sudah sangat malam dan aku susah mengantuk aku tidur duluan, jika ada yang mau ditanyakan lebih baik besok saja setelah aku bangun." Jawab Karan sambil menuju ke sofa.
"Baik."
"Ugh, apa apaan badan ini sangat susah sekali untuk naik ke sofa yg pendek ini." Ucap Karan dalam hati.
"Anu...apa kau kesusahan?"
"Ha? Ehem, kau bantu aku naik ke sofa ini." Karan menjawab sambil menghindari muka.
"Apa kau kesusahan naik ke sofa Karan?" Niro masih bertanya.
"Diam!! Lakukan apa yang kuminta saja." Karan menjawabnya dengan kesal.
"Uhh... Baik Karan."
"Hei siapa yang menyuruh mu memanggil ku begitu."
"E-ekk, apa aku salah?"
"Tentu saja salah, panggi aku Tuan Karan, aku tidak terbiasa dengan kau yang menyebutkan namaku begitu, apalagi kau masih bocah."
"Hmm... Baik Tuan Karan!!" Niro menjawab dengan keras.
"Hei, Sudahlah cepatlah kau tidur." Karan memberi isyarat tangan untuk menjauhinya.
"Baik, selamat Tidur Tuan Karan."
"Haihh...Sudahlah cepat tidur."
----------------------