Dream Angels Rose The Blood Squad (D.A.R.T.B.)

Dream Angels Rose The Blood Squad (D.A.R.T.B.)
The Beginning of the World's Destruction Part 2



Mikana pun terbang mendarat dengan selamat kerumahnya.


"dewi kita sudah sampai di rumah ku, jadi silahkan anda turun"


Kata Mikana sambil melihat kearah dewi, dan menurukan sayap kanannya agar dewi bisa turun dengan aman.


"Terimakasih Mikana"


Kata Dewi bulan pada Mikana sambil tersenyum, lalu turun perlahan dari pungung Mikana.


"Sama sama dewi dan sekarang mari silahkan masuk ikut saya dewi, karena dewa reinkarnasi ada di kamar tamu sedang beristirahat"


Kata mikana lagi pada sang dewi bulan sambil mengembalikan ukuran tubuhnya jadi normal dan berubah kembali menjadi wujud manusia.


"bawa saja aku langsung ke kamar tamu mu Mikana, agar aku bisa cepat cepat bertanya sesuatu padanya"


Kata dewi pada Mikana, sambil melihat ke arah Mikana.


Mikana yang mendengar perkataan sang dewi itu pun langsung menganggukan kepalanya dan membawa sang dewi bulan ke kamar tamu untuk bertemu dengan dewa reinkarnasi.


Sesampainya dikamar tamu sang dewi melihat seorang pria berambut biru tua kehitaman warna rambut pria itu persis seperti warna langit malam yang berbadan besar yang sedang di baluti dengan perban pada tubuhnya, pria itu bertumbuh tinggi dan sedang menatap ke arah langit langit kamar.


Saat sang dewi melihat pria itu sang dewi pun sudah tau kalo pria itu memanglah sang dewa reinkarnasi, karna bagaimana pun sang dewa reinkarnasi sendiri adalah teman semasa kecilnya dulu sebelum mereka berdua menerima gelar sebagai dewa dan dewi.


Saat sang dewi sedang melihat sang dewa reinkarnasi, sang dewa reinkarnasi pun malah melihat ke arah sang dewi dan kearah Mikana


warna matanya yang indah bagaikan air laut itu dan tatapan nya yang dingin menatap mereka berdua.


"Mikana sedang apa kau disini? aku sudah berkata padamu untuk memperingati yang lain bukan? dan kenapa kau malah membawa dewi bulan kesini!!"


Dengan nada tegas sang dewa reinkarnasi memarahi mikana.


"Jangan marah padanya Albert, aku lah yang menyuruh Mikana untuk membawaku padamu"


Dengan nada tegas sang dewi bulan membela dan melindungi Mikana.


"Jadi jika kau ingin marah, maka marah lah padaku bukan pada Mikana mengerti!"


Serentak dewi bulan menjadi marah kepada dewa reinkarnasi, karna memarahi Mikana tanpa sebab.


Sang dewa Reinkarnasi pun terdiam setelah mendengar perkataan dari dewi bulan.


"Hah..sudah lah, aku akan melupakan perkataan mu barusan pada phoenix ku, tapi ingat jangan memarahi dia lagi tanpa alasan mengerti"


Kata dewi bulan kepada dewa reinkarnasi sambil menatapnya, sang dewa reinkarnasi pun hanya terdiam dan menganggukan kepalanya.


"bagus kalo kau sudah mengerti, dan sekarang aku ingin mendengar secara langsung dari mulut mu ini dewa Reinkarnasi...apa maksudmu saat kau mengatakan pada Mikana ku tentang ras dunia bawah yang ingin menyerang dunia atas"


Menatap tajam dewa reinkarnasi.


"hah tentang itu akan ku jelaskan padamu dari awal sampai akhir..."


Kata dewa reinkarnasi kepada dewi bulan itu sambil menatap serius dewi bulan.


Sang dewa reinkarnasi pun menceritakan semua kejadian yang dia alami di dunia bawah, dari bangsa dunia bawah dan pengikutnya yang memberontak dan penghianatan adiknya, sampai pada pembunuhan berencana yang di rencanakan adiknya padanya, hingga kenapa dia bisa terluka parah sampai hampir membuat dia menghilang karna lukanya dan pertemuan dia dan Mikana.


Sang dewi bulan pun yang mendengar cerita sang dewa reinkarnasi pun menjadi syok tiba tiba, dia bahkan sampai tidak bisa berkata kata lagi karna mendengar cerita sang dewa reinkarnasi.


"dewi? apa kau tidak apa apa?"


"A-aku tidak apa apa sungguh"


Kata sang dewi sambil tersenyum pucat didepan Mikana agar Mikana bisa berhenti mengkhawatirkan dirinya.


"Sungguh kau tidak apa apa dewi? wajah mu saja terlihat sangat pucat sekarang"


Tanya Mikana lagi pada sang dewi bulan.


"Aku benar benar tidak apa apa Mikana, terima kasih sudah menghawatirkan ku"


Jawab sang dewi bulan kepada Mikana sambil tersenyum dan mengelush kepala mikana.


"Jadi sekarang kita harus apa? apa kita harus segera memberitahukan ini pada yang lain?"


Tanya dewi bulan pada dewa reinkarnasi.


"Benar, kita harus memberi tahu mereka sekarang karna waktu yang kita miliki sudah tidak banyak lagi"


Kata sang dewa reinkarnasi sambil mencoba berusaha berdiri dari atas kasur.


"Hey apa kau gila!? kau sedang terluka tau"


Kata dewi bulan sambil menghampiri dewa reinkarnasi dan membantunya untuk duduk di kasur.


"Kita tidak ada waktu banyak lagi dewi bulan, saat ini pasukan dunia bawah pasti sudah hampir sampai kesini kita harus cepat selagi kitanya masih sempat memperingati yang lainnya"


Dewi bulan yang mendengarkan perkataan dewa reinkarnasi pun menjadi diam dan merenung perkataannya.


"baiklah tapi kau harus janji satu hal padaku, jangan memaksakan dirimu mengerti"


dewa reinkarnasi yang mendengarkan perkataan dewi bulan pun menganggukan kepalanya.


"Baik akan ku lakukan"


Sambil tersenyum dan melihat kearah dewi bulan.



Dewi bulan pun yang melihat dewa reinkarnasi yang sedang tersenyum pun menjadi ikut tersenyum.


"Kalo begitu ayo kita berangkat sekarang"


Setelah berkata seperti itu sang dewi bulan pun membantu dewa reinkarnasi untuk berdiri, dan membantunya berjalan ke arah Mikana.


Mikana yang melihat dewi bulan dan dewa reinkarnasi yang berjalan pun menjadi mengerti dan berubah wujudnya kembali menjadi seekor phoenix lalu membuat tubuhnya sendiri menjadi besar agar bisa di naikin oleh dewi bulan dan dewa reinkarnasi.


"Silahkan naik dewi bulan dan dewa reinkarnasi ke pungung ku akan ku antarkan kalian ke alun alun tempat semua ras dunia atas selalu berkumpul"


Kata Mikana sambil menurunkan sayap kanannya agar dewi bulan dan dewa reinkarnasi bisa menaikinya dengan mudah.


setelah mendengarkan perkataan Mikana mereka berdua pun naik keatas pungung Mikana, dan duduk.


Mikana yang melihat dewi bulan dan dewa reinkarnasi sudah duduk dengan nyaman di atas pungungnya, mikanapun mengangkat sayapnya ke udara dan berdiri tengak lalu terbang kelangit menuju alun alun yang di mana tempat itu selalu menjadi tempat berkumpulnya para dewa dan dewi maupun para malaikat.


Saat di perjalanan Mikana selalu memperhatikan kelajuan terbangnya agar dewi bulan dan dewa reinkarnasi merasa nyaman duduk di atas pungungnya.


★Bersambung...★