
Suatu hari didunia atas para penghuni disana, sedang melakukan kegiatan mereka seperti biasanya, para malaikat melakukan pekerjaan rutinitas mereka, begitu juga dengan para dewa dan dewi disana..
"Hey coba lihat di atas itu bukan kah itu phoenix punyanya Dewi bulan?"
Kata seorang malaikat yang sedang bertanya kepada malaikat lain disana, yang sedang melihat seekor phoenix yang terbang melewati mereka.
"Hmm, kau benar itu emang Nona phoenix"
Kata malaikat lain ke malaikat itu.
"Nah kan, tapi kok dia terlihat sangat terburu buru? apa telah terjadi sesuatu?"
Tanya malaikat itu lagi ke malaokat yang lainnya.
"Ah jangan berpikiran buruk dulu, siapa tau nona phoenix terburu buru gitu hanya untuk bertemu dewi bulan"
Kata malaikat lain itu sambil meyakini teman malaikatnya.
"Kau benar, hah.. aku selalu saja muncul pikiran buruk"
Kata malaikat itu ketemannya.
"Makannya selalu berpikir positif dulu kawan ku"
Kata malaikat lain itu padanya.
"Hmm oke kalo gitu ayo kita lanjut kerja nanti kita bisa di marahin"
Kata malaikat itu kepada temannya lagi sambil berjalan.
"Yah sudah ayo.."
Kata malaikat lain itu kepada temannya.
Kedua malaikat itu pun pergi kembali mengerjakan tugas mereka.
Sedangkan di tempat lain di tempat burung phoenix itu berada, burung itu sedang terbang menuju ke kediaman dewi bulan untuk memberitahukan sesuatu yang telah dia lihat.
Sesampainya burung phoenix itu di tempat tinggal dewi bulan, phoenix itu merubah wujudnya menjadi seperti manusia dan berlari kedalam kediaman dewi bulan dengan terburu buru.
"Dewi!!"
Kata phoenix itu dengan berlari masuk ke kediaman dewi bulan sambil berteriak memanggil sang dewi bulan.
"Aduh kenapa kau berlari di dalam kediaman ku Mikana, dan kenapa kau memanggil ku sambil berteriak begitu?"
Kata sang dewi bulan itu kepada phoenix mikana, sambil duduk melihat ke arah Mikana.
Mikana pun berhenti berlari setelah mendengar suara sang dewi bulan dan menatap dewi bulan, Mikana menatap dewi bulan dengan mata yang penuh dengan ketakutan dan tubuh yang gemetar.
Sang dewi bulan yang melihat Mikana yang menatapnya dengan penuh ketakutan dan tubuh gemetar itu pun seketika kaget, lalu serentak berjalan ke arah Mikana dan memeluk mikana karna khawatir dengan Mikana.
"Mikana ada apa dengan mu? kenapa tubuh mu gemetar begini? ada kah yang menganggu mu"
Kata sang dewi itu sambil menatap Mikana dengan hati yang penuh Ke kuatiran pada Kondisi Mikana sekarang. Mikana pun membalas pelukan sang dewi dan menatap kembali sang dewi bulan.
"Dewi ini gawat! sangat gawat! kita harus memperingati bangsa dewa, dewi dan malaikat lain mengenai masalah ini!"
Kata Mikana pada Dewi bulan itu, sambil menatap panik sang dewi.
Sang dewi yang mendengar kata Mikana pun serentak kaget, tapi juga tidak mengerti dengan maksud perkataan Mikana padanya.
"Maksud dari perkataan mu barusan itu apa Mikana? apa yang gawat sampai membuat mu sepanik ini dan sampai membuat kita harus memperingati yang lain"
Kata Dewi itu pada Mikana dengan bingung
sambil mencoba menenangkan Mikana.
"Ini minum dulu, tenangkan dirimu phoenix ku, jika kau bicara dalam keadaan panik begini aku tidak akan bisa mengerti..jadi tenangkan lah dirimu, jika dirimu sudah tenang maka jelaskan pada ku apa yang gawat yang kau maksud barusan"
Kata sang dewi bulan itu lagi sambil memberikan minuman pada Mikana agar mikana menjadi tenang.
"B-Baiklah.."
Setelah minum, Mikana pun menjadi agak tenang dan melihat kearah sang dewi bulan lagi.
"Jadi apa yang gawat itu Mikana?"
Tanya sang dewi pada Mikana.
"Itu dewi gawat! orang orang dari dunia bawah akan menyerang kita! dan mereka sedang berkumpul untuk membuat pasukan untuk menyerang kita sekarang!"
Kata Mikana dengan keras pada sang dewi.
Sang dewi yang mendengar perkataan Mikana pun menjadi sangat syok dan kaget.
"A-apa!? Ma-maksud mu apa Mikana? dari mana kau tau tentang ini? apa kau punya bukti untuk membuktikan perkataan mu itu benar?"
Kata sang dewi bulan yang menjadi panik tetapi tetap mencoba untuk tenang setelah mendengar perkataan Mikana.
"Apa yang aku katakan ini benar dewi, dan aku juga mempunyai buktinya. sang dewa renkarnasi dari dunia bawah lah yang memberitahu ku saat dia sedang terluka parah"
Kata Mikana dengan tatapan seriusnya kepada sang dewi bulan.
"dewa reinkarnasi?"
Tanya sang dewi itu lagi pada Mikana.
"Iya dewa reinkarnasi lah yang mengatakan ini padaku saat aku menolong dia yang sedang terluka parah"
Sang dewi bulan yang mendengar perkataan Mikana menjadi semakin Khawatir.
"Lalu bagaimana kau bisa bertemu dengan dewa reinkarnasi mikana? dan kenapa dia bisa terluka parah?"
Tanya sang dewi bulan kepada Mikana.
"Saat itu aku sedang jalan jalan berpatroli seperti biasa lalu saat aku terbang aku mendengar suara orang yang memanggil namaku, lalu aku turun kebawah untuk melihat siapa yang memanggil ku itu, dsn ternyata itu adalah dewa reinkarnasi yang sedang terluka parah"
Kata Mikana pada sang dewi bulan itu.
"Lalu?"
Kata dewi bulan yang bertanya.
"Lalu aku membawa dia kerumah ku dan mengobati luka lukanya itu, dan saat aku ingin meninggalkan sang dewa reinkarnasi aku di tahan olehnya dan sang dewa reinkarnasi pun memberitahuku tentang dunia bawah yang sebentar lagi akan datang menyerang dunia atas, dan dewa reinkarnasi lah yang juga menyuruhku untuk segera memperingati anda dan juga para dewa, Dewi dan para malaikat lain tentang hal ini dewi"
Setalah dewi bulan mendengar perkataan Mikana, dewi bulan pun menjadi diam tak berkata kata.
"...."
Sang Mikana yang melihat sang dewi yang tidak bisa berkata kata itu pun mulai bicara lagi.
"Dewi?"
Seketika sang dewi bulan menutup matanya lalu menghela nafasnya berkali kali untuk mencoba tenang, lalu melihat kearah Mikana.
"Mikana sekarang bawah aku kerumah mu...aku ingin bicara dengan Dewa Reinkarnasi itu sendiri untuk memastikan keadaan sekarang lebih jelasnya dari dirinya langsung..."
Kata sang dewi itu dengan suara tegasnya, sambil menatap Mikana dengan serius.
"Baik dewi silahkan ikut dengan Saya"
Kata Mikana pada sang dewi itu dengan menatap sang dewi.
Mikana pun berdiri dan merubah wujudnya menjadi seekor phoenix lagi dan membuat tubuhnya menjadi besar.
"Naik lah dewi kepungungku akan ku antarkan anda kerumah ku dengan terbang agar kita cepat sampainya"
Sang dewi pun menganggukan kepalanya, dan berdiri lalu naik ke atas pungung Mikana.
Setelah Mikana melihat dewi bulan sudah duduk nyaman di atas pungungnya, mikana pun membuka sayap cantiknya ke udara dan terbang ke atas langit menuju kerumahnya.
★Bersambung...★