Drawing Magic

Drawing Magic
5,DuniaImajinasi





Danau Afleksial.


Kim menatap sekitar danau yang menjadi saksi, bahwa dirinya memang berada di Dunia Imajinasi. Sungguh konyol, pikirnya. Mana mungkin hal ini terjadi. Kim menatap Damers yang menatap tenang ke arah danau didepan mereka berdua.


"Bukankah ini Danau Afleksial?"tanya Kim memecahkan keheningan, Damers hanya menganggukkan kepalanya. Kim menatap kembali danau ini, sungguh indah dan enak dipandang. Saat Kim teringat Justin dan Sarwenda, Kim mengeratkan tangannya kuat. Bagaimana ini? Mereka pasti khawatir akan dirinya.


Saat Kim mengeratkan tangannya semakin kuat. Kuas itu patah, lalu tak lama menyambung kembali dengan sendirinya digenggaman tangan Kim. Kim merasakannya. Melihatnya sendiri kuas yang menyambung itu. Damers pun menatap kuas itu dengan tatapan biasa, lain dengan Kim yang menatapnya takjub.


Dasar aneh, bukankah dia yang menciptakan dunia ini' Batin Damers.


Damers berdiri, mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Kim yang masih sibuk menatap kuas yang sudah membentuk kembali itu. Sudah jauh jaraknya, dan Kim masih menatapnya kuas itu. Damers menghela nafasnya pelan. Sungguh menyusahkan Kim itu, Damers benci wanita karena selalu menyusahkan dirinya.


"Jika kamu mau tetap memandangi kuasmu itu, aku akan meninggalkanmu!"teriak Damers dengan tegas, Damers melangkahkan kakinya kembali.


Kim tersadar, dan beranjak pergi mengikuti Damers dengan lari yang tergesa-gesa. Dirinya tak ingin tertinggal.


Dan yah, Kim sudah berada di samping Damers dengan nafas yang terengah-engah akibat capek berlari tadi. Damers hanya menatap sekilas kepada dirinya. Damers tiba-tiba berjongkok di depan dirinya. Kim hanya menautkan kedua alisnya pertanda bingung.


"Cepat naik! aku tau kamu cape,"jelas Damers menjawab pertanyaan Kim. Kim menggelengkan kepalanya cepat,"Apa maksudmu? aku tidak terbiasa berdekatan dengan seorang pria."tolak Kim.


Damers mendekati Kim, menatapnya tajam. Dirinya tak ingin diketahui tuannya. Damers menarik tangan kedua tangan Kim dengan erat, hingga Kim sekarang sudah berada di belakang punggung Damers.


Sial, berat sekali' batin Damers.


______


Tepat hari ini sudah pukul 12 malam. Justin dan Sarwenda masih sibuk mencari keberadaan Kim ke beberapa perusahaan. Di balai kota mereka sudah mencarinya ketiap berbagai sudut. Namun, hasilnya tak sesuai harapan. Hanya rasa khawatir lah yang menyelimuti mereka sedari awal.


"Mas, bagaimana ini? Sebenarnya kemana Kim, mas?"ucapnya menangis, wajah Sarwenda terlihat begitu khawatir kadang melihat ke arah jendela dengan berharap Kim baik-baik saja.


Justin mengerti akan rasa hati seorang ibu. Meski Kim bukan anak kandungnya. Namun, Sarwenda sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri.


Justin tak menjawab dan hanya menggenggam tangan Sarwenda memberi ketenangan. Dirinya juga sungguh mengkhawatirkan kondisi Kim saat ini. Namun, dirinya tak ingin memperkeruh suasana saat ini. Yang penting sekarang dirinya harus berusaha menenangkan Sarwenda yang sudah menangis.


"Kamu tenang ya, mas yakin kok. Kim pasti baik-baik saja."ucap Justin menenangkan, sesekali mengusap lembut tangan Sarwenda yang tengah menahan tangisnya.


Kini, mobil mereka sudah terpakir sejajar dengan beberapa mobil. Perusahaan pak Bryan memang selalu terbuka dua puluh empat jam penuh. Sarwenda dan Justin melangkahkan kakinya cepat masuk ke dalam perusahaan itu.


Merasa bingung apa yang harus dilakukannya karena datang secara tiba-tiba, Sarwenda dan Justin terdiam sejenak di depan pintu bernamakan 'Ceo Bryan'. Justin membuka pintu perlahan.


"Permisi,"ucapnya pelan. Justin menatap sekitar tak mendapati sosok Bryan sama sekali. Sarwenda hanya diam dibelakang sambil memegang ujung kemeja suaminya kuat.


"Kalian, kenapa tidak bilang-bilang jika akan kemari." Suara itu datang dari belakang, Justin dan Sarwenda menoleh kebelakang secara bersamaan dan tersenyum canggung.


"Kami, ada urusan penting. Pak Brayan."


"Mari, kita bicarakan didalam. Rasanya tidak sopan jika menyambut tamu sambil berdiri seperti ini."ucap Bryan berjalan membukakan pintu, sangat ramah. Sarwenda dan Justin tersenyum dan mulai masuk ke dalam.


Mereka bertiga sudah duduk saling berhadapan. Hening. Selama beberapa detik, tak ada siapapun yang memulai pembicaraan. Bryan hanya terdiam, sebab dirinya tengah menikmati kopi yang dipegangnya tadi. Dan menunggu pelayan kantor membawakan minuman untuk tamunya.


Tak lama, pintu diketuk dua kali. Menandakan pak Kardi membawa dua gelas kopi dan beberapa kue kantor.


"Permisi, pak. Ini kopinya."ucap pak Kardi sopan meski diumurnya yang sudah tua. Dirinya masih menghargai tuan nya.


"Iya, silahkan masuk pak."balas Bryan mempersilahkan. Pak Kardi sudah menaruh dua gelas kopi itu di meja.


Lalu membungkuk untuk kembali ke tempatnya. Selepas pandangan mereka sudah terhenti melihat pak Kardi hingga hilang dari pintu.


Justin memulai bicara niat awal mereka datang,"Maaf pak Bryan, sebelumnya. Saya kemari hanya ingin bertanya. Apakah Kim berada disini."tanya Justin. Bryan terdiam. Memangnya untuk apa dirinya memanggil Kim ditengah malam begini?pikirnya.


"Maaf, Pak Justin. Saya tidak tahu, dan saya sama sekali tidak mengundang nona Kim selama seminggu terakhir ini."jelasnya.


Jawaban Bryan, sukses membuat Sarwenda menangis kembali. Bryan pun menjadi merasa tak enak kepada Sarwenda yang tengah ditenangkan oleh Justin dengan sesekali mengusap punggungnya pelan.


Pak Bryan awalnya ingin bertanya tentang keberadaan Kim, namun diurungkan niatnya karena melihat Sarwenda yang sedang menangis pilu itu. Mereka berdua sudah pamit undur diri untuk pulang, dikarenakan waktu sudah menjelang malam sekali. Dan memutuskan untuk melanjutkan pencarian hari esok.


---


'√WELCOME TO THE WORLD OF IMAGINATION


"Damers, turunkan Kim."Kim menepuk-nepuk bahu Damers keras, membuat Damers memberenggut kesal.


Kini di hadapannya terpampang jelas karya hasil pemikiran imajinasinya sendiri.




Nama: Psheonami, bukit dari kekuatan sang Raja Naemi.


Atau biasa disebut sebagai bukit terapung.


Kim masih terpaku ditempat, sungguh pemandangan yang elegan untuknya. Hatinya bersorak senang, dan penuh haru. Dunianya, impiannya, semua berpadu bersama imajinasi yang akhirnya kenyataan. Air matanya sudah turun, karena saking senangnya.


"Cepat, gunakan kekuatan mu itu, agar kita bisa menaiki Psheonami ini!"


Kim mengernyit, bingung maksud dari ucapan Damers tadi.


"Apa maksudmu, Damers?"tanya Kim menatap Damers kembali. Damers tertawa kecil."Saya jadi ragu, jika kau ini memang keturunan bangsa Ovenus."


Kim masih terdiam tak menjawab, masih tak mengerti dengan perkataan Damers yang begitu berbelit-belit.


"Oh, ayolah! Nona Kim. Gunakan kekuatanmu, bagaimana mungkin keturunan bangsa Ovenus tak mengetahui kekuatan dari bangsanya sendiri?"


"Apa maksudmu, Damers? Aku masih tak mengerti. Apa itu bangsa Ovenus? Dan memangnya apa kekuatan yang kumiliki? Aku sama sekali tak memiliki kekuatan!"


"Dasar bodoh!"


Damers meninggalkan Kim, tak peduli lagi pada gadis yang amat membuatnya kesal itu.


Tiba-tiba, Kim merasakan ada sesuatu yang bergerak dari tangannya. Oh, ya. Itu adalah kuas yang saat ini dia pegang. Kuas itu bergerak seperti ingin terlepas, dan mengeluarkan cahaya yang begitu indah. Membuat mata Kim jadi silau sendiri.


"Damers, tunggu! Kenapa kuas ini terus-menerus memberontak seperti ingin terlepas?"


Kim menahan langkah Damers dengan memegangi tangannya, dan sebelah tangannya lagi memegang erat kuas.


"Kau ini memang bodoh."ledeknya, meninggalkan Kim kembali.


"Sial."umpat Kim.


"Apa yang harus kulakukan dengan kuas ini?"gumamnya.


Kim berlari menyusul Damers yang sudah berhenti didepan ujung bukit terapung. Kini tubuhnya sudah sejajar dengan Damers.


"Gambarlah jembatan dengan kuas itu."ucap Damers, membuat Kim semakin bingung.


Kim tak ingin menanyakannya, buru-buru dirinya menggerakkan kuas itu menggambar jembatan sesuai perkataan Damers tadi.


Tak lama, jembatan itu sudah jadi satu persatu.


Bagaimana mungkin?pikir Kim.


"Bodoh, bodoh, bodoh."


Damers meninggalkan Kim lagi dan mulai melangkah menuju jembatan yang sudah terbuat itu.


Sedangkan Kim masih terdiam di tempatnya, menatap kuas yang sudah tak bergerak lagi.


____