Drawing Magic

Drawing Magic
4,pintuKako'u



Kim dan Justin kini berada di parkiran Exlodher.


"Kim, papah akan pergi ke museum Renjamer, ada hal yang harus papah urus disana terkait lukisan papah. Kamu tak apakan bila pulang diantar supir disini?"tanya Justin.


"Tak apa,"Kim membalas seraya tersenyum. Justin memang tipe orang sibuk, sebab dirinya sudah sangat terkenal. Tapi tak sebanding dengan Kim yang hampir dikenali seluruh dunia.


Justin mengusap kepala Kim lalu tak lama datang seorang supir.


"Lelaki ini yang akan mengantarkan Kim pulang. Papah duluan yah."


Justin mulai memasuki mobil nya menuju museum Renjamer.


Supir itupun melihat Kim yang seketika membuat Kim tersentak kaget. Apa maksud semua ini? Mengapa dia ada di hadapan Kim? Bagaikan halusinasi dan begitu absurd.


Damers' batin Kim ingin memanggil namanya. Namun tak sempat sebab Damers sudah memasuki mobil terlebih dahulu.


Kim mulai membukakan pintu mobil ragu. Entah kenapa dirinya menjadi takut sendiri? Tiba-tiba muncul firasat buruk yang akan terjadi kepada dirinya. Mengapa tokoh ciptaan Kim sekarang ada dihadapannya? Dan tatapan bola warna mata merahnya yang sedaritadi memerhatikan Kim lewat kaca depan, membuat rasa hati semakin tak karuan.


Sebenarnya apa alasannya?


Sungguh mustahil, pikir Kim.


Damers sedaritadi diam tetapi terlihat seperti ingin berbicara.


"Nona Kim."panggil Damers.


"I-iya."jawab Kim terbata.


"Perkenalkan nama saya Arrandes, nona bisa memanggil saya Andes."


Damers Tiba-tiba memperkenalkan dirinya. Tapi Kim dengan sengaja tak membalas nya dan berpura-pura tengah fokus pada satu hal. Yaitu, gambar dunia impiannya yang kini ia genggam. Mengingat kembali mimpi semalam yang terjadi padanya.


Kim tiba-tiba berada di wilayah pasir. Tak ada air tak ada pohon, sepi. Binatang pun tak ada. Seperti tak ada warna kehidupan yang menjamin sekitar. Kim bingung, mengapa dirinya berada disini?


Apalagi kini dirinya memakai gaun tradisional, sangat indah. Kepalanya tiba-tiba terasa pening saat Kim mulai berdiri, dan langsung terjatuh. Kakinya seakan tak mendukung pergerakan Kim. Diliputi kelemahan dan rasa haus menyiksa sekujur tubuh Kim.


Kim meratapi kembali sekelilingnya yang sangat sepi itu. Hampa, kata yang sangat mewakili.


Kim memaksakan dirinya berdiri walau terasa seperti tak mempunyai kaki. Satu tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening akibat panasnya terik matahari.


Selama beberapa jam Kim sudah berjalan tanpa arah tujuan. Tetapi disekitarnya tetap tak tanda-tanda munculnya makhluk yang masih hidup. Sebenarnya dimana ini? Membuatnya semakin pusing disaat memikirkan bersamaan dengan rasa pening yang semakin keras ini.


Kim mengistirahatkan tubuhnya sejenak, menetralkan nafasnya dan menahan rasa haus serta lapar.


Tiba-tiba badai pasir muncul dengan angin kabut. Sangat hebat, seperti dialih kuasa oleh sihir. Kim berlari sebisa mungkin untuk menghindari kabut asap yang menyeruap masuk kedalam hidungnya. Membuatnya sesak nafas tak tahan bersama pening yang tersiksa bersama rasa lapar serta haus.


Tak berhasil, badai pasir semakin mengosongkan udara dipenghirupan nafasnya. Kim tak kuat, kesadarannya perlahan mulai hilang. Kim akan jatuh.


"Selamat datang, Queen of Imagination."


Tubuhnya ditahan oleh seorang pria bertubuh kekar. Satu tangannya menahan tubuh Kim dan satu tangannya lagi memegang kuas yang sangat elegan.


Tangan pria itu mulai bergerak menggambar sesuatu keudara dengan menggunakan kuasnya.


"Sadarlah, My Angel."


"Nona Kim."panggil Damers.


Lamunan Kim seketika terhenti akibat panggilan Damers. Kim menatap wajah Damers yang terlihat khawatir.


Kim memalingkan kepalanya dan mulai menatap sekitarnya. Kim berada di hutan yang sangat sepi.


"Andes, mengapa kamu membawa Kim ke hutan."tanya Kim, hatinya sudah bergemuruh hebat. Tangannya memegang gaun secara erat.


Andes atau yang dikenal sebagai Damers oleh Kim menyeringai, sangat seram di mata Kim.


Damers keluar mobil dan seperti sengaja tak menutupnya.


Kim juga membuka pintu tanpa membawa penghargaan atau lukisan dunia impiannya. Kim berjalan perlahan mengikuti Damers dibelakang.


"Aku tau nama aslimu adalah Damers, tak usah berpura-pura seakan tak mengenaliku, Damers. Mengapa kau berada didunia? Padahal akulah yang menciptakan lukisan tentangmu."ucap Kim.


Damers berhenti sambil tersenyum kecil. Inilah yang sedaritadi ditunggunya, mendengar Kim menyebutkan nama aslinya.


Damers membalingkan tubuhnya ke arah belakang Kim berada, menatap Kim lalu tertawa sendiri.


"Jadi, kau mengetahui namaku? Queen of Imagination."


Tatapan Damers semakin menyiratkan jelas bahwa akan terjadi sesuatu dalam beberapa detik.


Damers perlahan menggerakan tangannya ke arah mobil, Kim spontan mengikuti.


Mobil perlahan mulai remuk dan berubah menjadi pintu yang sangat kokoh perkasa.




"Pintu apa itu?"tanya Kim.


"Gerbang konko'u,"jawabnya.


"Apa maksud dari semua ini Damers? Kim sama sekali tidak mengerti?"


"Nona Kim akan mengetahuinya, tapi nanti."


Setelah itu, Damers berjalan menuju pintu Kanko'u. Kim masih diam ditempat, tak minat mengikuti Damers.


"Kemarilah, nona Kim."kata Damers menatap Kim yang berada jauh darinya. Kim menggeleng ke kanan dan ke kiri, Damers hanya tertawa kecil melihatnya.


"Baiklah,". Damers pun melangkah ke dalam menuju pintu Kanko'u, cahayanya mulai tampak. Sangat indah saat Kim menatapnya.


Kim ingin melangkah namun ragu, menatap sekitarnya. Namun sangat sepi. Bagaimana ini? Kim terus berpikir.


Tak lama cahaya dari pintu Kanko'u mulai tampak kembali. Kekuatannya dua kali lebih hebat dan indah dari pada awal.


Sampai-sampai pepohonan pun ikut masuk kedalamnya, Kim langsung berlari menuju pohon yang menjulang tinggi. Kim memegangnya erat.


Pohon yang dipegang Kim tiba-tiba berubah menjadi kuas. Kim pun sudah melayang tertarik kekuatan pintu Kanko'u, sambil memegang kuas tadi.


______


Tok....tok.....tok


Suara pintu yang sedari tadi Sarwenda tunggu akhirnya datang. Sarwenda membuka pintu dan terkejut karena hanya mendapati Justin suaminya.


"Kemana Kim?"tanya Sarwenda.


"Kim, bukankah Kim sudah pulang."jawab Justin lalu berjalan menuju sofa untuk mengistirahatkan rasa lelahnya.


"Tapi mas, Kim belum pulang."


"Benarkah?"


Justin menatap istrinya, takut-takut istrinya bercanda. Tapi, istrinya terlihat jujur seperti biasa.


Justin memegang tangan Sarwenda.


"Kamu gak bohongkan? Mas dari jam sembilan udah nyuruh supir dari balai kota buat anterin Kim pulang duluan, dan tadi mas ke museum untuk urusan rapat lukisan mas yang akan dipajang."jelas Justin, saat itu juga Sarwenda mulai merasa khawatir dan hatinya sudah berdegup kencang.


Jadi, inikah yang disebut sebagai rasa khawatir seorang ibu. Sedari awal Sarwenda sudah merasakan firasat, namun Sarwenda memilih untuk berpikir positif. Tapi, nyatanya hati seorang ibu memang tak bisa dielakkan lagi.


"Mas, aku mohon mas. Cari Kim."mohon Sarwenda sudah menangis dengan suara parau, Justin langsung memeluk Sarwenda merasakan hal yang sama.


"Sekarang kita cari Kim yah mas."pinta Sarwenda.


Justin mengangguk lalu mulai menggandeng tangan Sarwenda menuju mobil.


Mereka berdua memutuskan untuk mencari Kim di malam hari menuju balai kota.


______


Mata Kim mulai terbuka secara perlahan. Kim merasa asing dengan tempat ini, disaat bersamaan Kim mendapati Damers yang sedang duduk di tepi pulau.


Kim menghampiri Damers lalu menepuk bahunya. Damers menolehkan kepalanya menatap Kim lalu fokus lagi menatap danau didepannya.


Jujur, pulau yang saat ini Kim pandang sangat indah. Kim duduk disebelah Damers, tak peduli jika Damers tak menyukainya.


"Dimana ini Damers?"tanya Kim.


Damers tak menjawab.


"Damers, dimana ini?."tanya Kim kedua kalinya.


Damers masih tak menjawab.


"Damers, apa kau tuli? Dimana ini."ucap Kim kesal.


Damers menutup telinganya dan menatap tajam Kim.


"Dunia imajinasi."jawabnya singkat.


"Du-dunia imajinasi."ucap Kim terbata, masih tak percaya dengan perkataan Damers.


Damers hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.


_____


Hy guys semoga gak bosan-bosan buat baca cerita ini.


Seeyouagain