Drawing Magic

Drawing Magic
1,Sebuah Keajaiban



"Kakek, bolehkah Kim melihat lukisan kakek?"


"Tentu saja, Kemarilah." Gadis kecil yang baru berusia lima tahun itupun, mulai melihat lukisan kakeknya dengan girang.


"Kakek, Kim juga Ingin melukis." Kakeknya hanya mengangguk sebagai tanda setuju, karena tengah fokus melukis. Kim pun mengambil kuas yang berada disamping kakeknya dan mulai melukis dengan telaten.


"Kakek lihatlah gambar Kim? Bagus tidak?"tanya Kim sambil menunjukan hasil gambarnya.


Kakeknya mulai berhenti melukis dan melihat gambar yang dilukis cucunya. Kakek hanya terdiam dan ekspresinya terlihat sangat terkejut.


"Kakek kenapa? Apakah ada yang salah dengan gambar yang telah dilukis oleh Kim?" Kim terus memeriksa gambarnya.


"Kim mana mungkin? Lukisan ini sangatlah bagus. Dan kakek tak pernah melihat lukisan yang sebagus dan semenarik ini. Dari mana Kim belajar melukis?" Kakeknya terus menatap lukisan cucunya. Lalu kakek Kim mulai menatap Kim yang masih kecil itu dengan tatapan tak percaya.


"Kakek kenapa?"tanya Kim merasa keheranan dengan kakeknya.


Tetapi, kakek malah menyodorkan kertas gambar kepada Kim.


"Kim melukislah didepan kakek?"perintahnya.


Kim yang masih kecil dan polos itupun, mulai melukis sesuai perintah kakeknya. Disaat Kim sedang melukis, tanda lahir ditangannya yang berbentuk bintang mulai bersinar. Begitupun dengan rambut Kim yang mulai bercahaya.


Kakek Kim terkejut bukan main.


Apa yang terjadi pada cucuku?'batin kakek bertanya-tanya pada peristiwa dihadapannya.


"Kakek sudah beres."Kim kecil tersenyum dan mulai memperlihatkan gambarnya. Cahaya dari tanda lahirnya dan rambutnya pun mulai menghilang.


Kakek Kim pun melihat lukisan Kim terkagum-kagum.


"Ini sangatlah bagus cucu ku, dari mana Kim belajar melukis?"tanya kakeknya sambil mengelus kepala Kim sayang.


"Kim tidak belajar dari siapa-siapa kakek. Kim hanya sering melihat lukisan kakek dan sering bermimpi dunia- dunia aneh. Dan lukisan Kim ini hasil dari mimpi serta khayalan Kim."jawab Kim sembari tersenyum.


"Kakek, bolehkah Kim melukis? Kim ingin melukis agar bisa dijual oleh kakek. Bukankah lukisan Kim sangat bagus?" Kim terus tersenyum dengan nada memohon.


Kakeknya masih terdiam, menimbang-nimbang atas permohonan Kim.


"Baiklah, jika itu yang diinginkan cucu kesayangan kakek. Melukislah yang banyak dan kakek akan menjualnya ke masyarakat kota Eslanzer." Kim pun berteriak histeris dan memeluk kakeknya, kakeknya pun membalas pelukan cucunya.


"Terima kasih kakek, Kim sangat menyayangi kakek."


****


"Permisi."seorang pelanggan memasuki toko kakek Kim sebagai pelanggan pertama.


"Pak Riko saya ingin membeli lukisan yang sangat bagus dan menarik." Kakek mempersilahkan pelanggan wanita yang bernama 'Sarwenda', Sarwenda pun mulai melihat lukisan-lukisan yang terpampang itu.


Disaat Sarwenda sedang fokus melihat setiap lukisan, ia melihat cahaya indah dari seorang gadis kecil.


Ia pun menghampiri Kim dan melihat lukisan yang dilukis oleh Kim.


"Lihatlah tante, lukisan hasil Kim."Kim memperlihatkan lukisannya kepada Sarwenda.


"Astaga, bagus sekali. Bahkan ini lebih bagus dari lukisan-lukisan yang dipajang di setiap dinding." Sarwenda menutup mulutnya terkejut dengan hasil lukisan gadis kecil dihadapannya.


"Apakah benar kamu yang melukis ini gadis kecil?"tanya Sarwenda kepada Kim.


"Namaku Kimberly bukan gadis kecil. Iya, itu adalah hasil lukisan Kim sendiri."ucapnya polos.


Kakek Kim menghampiri cucu nya yang tengah mengobrol dengan Sarwenda.


"Ada apa ini Sarwenda? Bukankah kau ingin membeli lukisan yang ada disini?"tanya kakek Kim.


"Pak Riko, bolehkah saya membeli lukisan yang dilukis oleh Kim? Lukisannya sangatlah bagus."tanya Sarwenda.


Kim melihat kakeknya sambil tersenyum, berharap kakeknya akan menyetujui permintaan Tante dihadapannya ini.


"Tentu saja, saya sangat senang jika anda menyukai lukisan cucu kecilku ini."kakeknya tersenyum kearah Kim dan mengusap pelan kepalanya.


"Baiklah, besok saya ingin sepuluh lukisan." Sarwenda pun memberikan uang tunai, lalu keluar dari toko kakek Kim.


"Kim kamu sangat hebat, apakah Kim mau melukis?"


"Tentu saja kakek, Kim akan terus melukis agar kakek bisa menjual lukisannya." Kim pun memeluk kakeknya.


***


"Sarwenda, lukisan siapa ini? Lukisannya sangatlah bagus."tanya pacar Sarwenda yang dikenal sebagai pelukis terkenal itu.


"Ini adalah lukisan yang kubeli dari toko pak Riko. Dan apakah kamu tahu Justin? Yang melukis nya adalah seorang gadis kecil yang bernama Kim."ucapnya.


"Benarkah? Mana mungkin?"tanya justin terkejut.


"Benar. Jika kamu tidak percaya, aku akan ajak kamu ke toko pak Riko."ajaknya.


"Baiklah, besok ajak aku ketokonya. Aku ingin tahu gadis kecil yang bernama Kim itu."ucapnya tersenyum.


***


"Permisi." Sarwenda dan Justin mulai memasuki toko kakeknya Kim dengan sopan.


"Silahkan masuk."kakeknya Kim menyambutnya dengan ramah.


"Pak Riko, apakah Kim ada disini?."tanya Sarwenda karena takĀ  melihat Kim.


"Kim berada diatas."jawabnya.


"Pak Riko perkenalkan ini Justin. Dia salah satu pelukis terkenal di kota Erlazes, dan Justin ingin menemui Kim." Sarwenda mulai memperkenalkan pacarnya kepada kakek Kim.


"Oh ya, kenapa nak Justin ingin menemui cucu saya?"tanya kakek Kim.


"Jadi begini pak Riko, saat saya melihat lukisan dirumah Sarwenda. Saya sangat kagum dengan hasil lukisan serta ide lukisannya itu. Karena selama saya melukis, saya belum pernah melihat lukisan sebagus dan menarik seperti itu. Mungkin jika dibandingkan dengan lukisan yang telah saya capai selama bertahun-tahun, akan kalah dengan lukisan cucu pak Riko. Jadi, saya ingin menawarkan. Apakah pak Riko bersedia jika lukisan cucu bapak di jual di toko ternama di kota Erlazes?"Tawarnya.


Sarwenda dan Justin pun tersenyum saat kakek kim menyetujui tawarannya.


"Pak Riko apakah boleh kami menemui cucu anda?"tanya Sarwenda.


"Tentu saja boleh, biar saya memanggil Kim terlebih dahulu."


Tak selang beberapa menit, kakek dan Kim sudah duduk dengan kedua pelanggannya.


"Iya, om ganteng ini siapa?"tanya Kim kembali.


"Nama om adalah Justin, dan om ingin melihat Kim melukis."Justin menghampiri Kim lalu mengusap pipinya.


"Benarkah? Berarti om adalah pelukis terkenal itukan?"ucapnya girang.


"Iya, ternyata Kim mengenali om."


"Tentu saja om, om mau jadi suami Kim? Kim bercita-cita ingin menikah dengan om." Betapa lucunya Kim kecil dihadapannya ini, sangat polos juga cantik.


"Tentu saja, tapi apakah Kim bersedia melukis dihadapan om?"tanyanya. Kim langsung mengangguk dan mulai melukis.


Saat itupun tanda lahir ditangan Kim yang berbentuk bintang, mulai bercahaya seperti biasanya. Serta rambutnya pun bercahaya lebih indah dari biasanya.


Justin sempat terpukau melihat gadis kecil dihadapannya.


Setelah Kim menyelesaikan lukisannya, Kim mulai menunjukan lukisan nya itu. Dan cahaya itupun mulai menghilang secara perlahan.


"Om lihatlah Kim sudah melukis, apakah om akan menikahi Kim?"tanyanya polos.


"Hahaha, baiklah om akan menikahi Kim. Tapi, apakah Kim ingin lukisan ini dijual oleh om?"tanya justin sesekali tersenyum melihat tingkah lucu Kim.


"Yup,yup."angguknya.


"Kalau begitu, Kim harus rajin melukis."


"Siap, asal om mau menikahi Kim jika Kim sudah dewasa."ucapnya tersenyum manis.


"Baiklah, anak kecil." Justin langsung menggelitik perut Kim, sedangkan Kim terus tertawa.


###


"Sarwenda, apakah kamu merasa jika dia yang disebutkan dulu oleh guruku?"


Kini Sarwenda dan Justin sedang berada didalam mobil menuju toko ternama di kota Eslanzer.


"Tentang apa." Sarwenda masih tetap fokus pada handphone nya.


"Tentang seseorang yang kelak akan disebut 'sebuah keajaiban'. Apakah kamu merasa jika itu adalah Kim?"tanya Justin yang tetap fokus menyetir kedepan.


Sarwenda pun langsung menyimpan handphone nya, karena terkejut serta baru ingat kembali mengenai hal itu.


"Ya, kamu benar Justin. Dan aku yakin jika itu adalah Kim."katanya.


$$$$


Toko Barrandes, Erlanzes.


Saat ini Justin dan Sarwenda berada di toko Barrandes. Salah satu toko ternama di dunia.


Mereka bertujuan menemui direktur utama, dengan tujuan ingin memperlihatkan lukisan Kim yang baru saja dilukis.


Tok....tok....tok


"Silahkan masuk."ucapnya layaknya seorang bos dari perusahaan terkenal.


Justin dan Sarwenda pun mulai memasuki kantor pak Bryan yaitu direktur utama.


"Eh, Justin. Apa kabar? Ada gerangan apa kamu kemari?"tanyanya sambil menyambut Justin dan Sarwenda dengan ramah.


"Baik pak. Bapak sendiri bagaimana?"tanya Justin kembali. Justin dan Sarwenda pun langsung duduk saat pak Bryan mempersilahkan.


"Sangat."jawabnya ramah. Lalu tak lama datang seseorang mengantar minuman.


"Oh iya, silahkan diminum. Jangan sungkan-sungkan."


"Terima kasih."


Setelah acara minum-minum mereka selesai, Justin mulai berbicara niat awalnya.


"Pak Bryan, maksud dan tujuan saya kemari adalah ingin memperlihatkan lukisan dari hasil karya seorang anak kecil."ucapnya menjelaskan.


Sarwenda pun memberikan lukisan yang dimaksud Justin kepada pak Bryan.


Pak Bryan sempat terkagum menatap lukisan indah dihadapannya itu.


"Apakah benar anak kecil yang melukisnya? Bagaimana mungkin?"tanyanya tak percaya.


"Lihatlah Vidio ini." Sarwenda menunjukan Vidio yang dimana isinya, Kim sedang melukis dan cahaya itupun muncul juga.


"Bagaimana mungkin?"ucapnya masih tidak percaya.


"Bagaimana pak? Apa bapak bersedia menjual lukisan ini?"tanya Justin.


"Ya, baiklah. Dengan senang hati saya menerimanya."jawabnya yang membuat Justin maupun Sarwenda merasa puas.


"Tetapi, saya ingin lukisannya lebih banyak lagi. Bagaimana?"


"Jika tentang itu, saya akan membawanya lebih banyak lagi. Dan pak mari kita juluki anak kecil yang bernama Kim ini sebagai 'sebuah keajaiban'."kata Justin.


"Ya, saya sangat setuju. Karena anak kecil ini memang sangat ajaib, saya yakin lukisannya akan menjadi teratas."


$$$


Semenjak lukisan Kim mulai dipajang di toko Barrandes, yang terdapat lukisan-lukisan indah itu.


Nama Kim mulai dikenali masyarakat kota Erlanzes khayalak. Toko kakek Kim pun mulai ramai, dan disana terpajang nama 'sebuah keajaiban'.


Ya, Kim kini sukses diusia yang masih lima tahun. Kesuksesannya sudah membuat dirinya populer dikota Erlanzes. Banyak yang mengaguminya serta banyak juga yang awalnya tak mempercayainya.


Tetapi, saat mereka melihatnya secara langsung. Mereka pun mulai percaya bahwa Kim memang pantas disebut 'sebuah keajaiban'.


Kota Erlanzes terkenal karena bakat-bakat pelukis selalu tumbuh dikota ini. Terutama datangnya Kim, membuat kota-kota lain semakin mengagumkan kota Erlanzes.


Kim pun sempat bertemu dengan pak Bryan ditemani kakeknya. Kim mendapatkan penghargaan dari pak Bryan karena kesuksesannya.


###