Drawing Magic

Drawing Magic
3,DuniaImpian



                 Selamat membaca^_^


                 


                 _________  _________              ____________________________________


Akhir-akhir ini Kimberly sering menghabiskan waktunya untuk melukis. Lupa makan dan minum, membuat Sarwenda khawatir begitupun Justin.


Entah apa yang terjadi pada Kim?


Semenjak penghargaan seminggu kemarin, Kim tidak keluar dari ruangan melukisnya.


Sarwenda dan Justin sudah berusaha memanggil, mengetuk pintu, tetapi Kim sama sekali tidak menyahut.


Membuat rasa khawatir semakin membara pada kedua insan, yang telah menjadi orang tua angkat Kim.


"Kim, bukalah pintunya nak!"


Sarwenda terus mengetuk pintu, tetapi masih tidak ada sahutan. Begitupun Justin yang terus meneriaki nama Kim.


"Kim, Kim. Buka!"teriak Justin.


Tak lama pintu pun dibuka oleh Kim.


Ceklek.


"Iya, pah, Bun. Ada apa?"tanya Kim saat sudah membuka pintu.


Sarwenda langsung memeluk putrinya ini, lalu mengecek kondisi Kim. Tapi, anehnya. Wajah Kim sama sekali tidak pucat, atau terjadi apapun.


"Kim, kamu kenapa tidak keluar-keluar?"tanya Sarwenda penuh nada khawatir. Kim hanya membalas  dengan sebuah senyuman.


"Kamu tidak sakit kan nak?"Justin pun sama bertanya dengan nada penuh khawatir, lalu tangannya menyentuh kening Kim.


Kim hanya menggeleng sebagai tanda jawaban, tidak bicara. Aneh? Itulah yang dirasakan Justin dan Sarwenda. Kenapa? Sikap Kim seperti bukan dirinya saja.


Kim memegang tangan Justin lalu melerainya, Kim tersenyum kembali.


"Kim, kamu kenapa?"tanya Sarwenda saat Kim memegang tangan justin dan dirinya, lalu mulai menarik kami berdua menuju ruangan melukis Kim.


"Lihatlah! Bun, pah."ucap Kim, menunjuk beberapa lukisan yang terpajang di dinding. Begitu indah, cantik, nan bagus. Membuat Justin maupun Sarwenda terpana sementara, lalu menatap putrinya yang tengah membereskan beberapa alat melukisnya.


"Kim."Sarwenda menyentuh pundak Kim, Kim pun menoleh ke arah belakang dimana Sarwenda berada.


"Iya, Bun."


"Apa selama seminggu ini, Kim selalu menghabiskan diri untuk melukis semua lukisan itu?"tanya Sarwenda, Kim hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kim, apa Kim akan menjual juga lukisan itu? lukisannya terlihat sangat berbeda dan lebih bagus." Justin mempertanyakan hal itu karena penasaran, sebab selama ini jika tentang pesanan. Kim pasti membereskan nya dalam sehari, walau jumlah nya selalu tak terhingga.


Yang mengherankan itu adalah mengapa hanya melukis tiga lukisan saja, membuatnya membutuhkan beberapa hari.


Sangat jauh berbeda dengan Kim yang dikenalnya.


Kim tidak menjawab, Kim melangkah menuju lukisan itu. Menatapnya sekejap, memejamkan mata. Lalu mulai berbicara, ingin menjelaskan alasan dibalik ia tidak keluar selama seminggu ini.


"Bun, pah. Maaf, jika Kim membuat papah sama bunda khawatir. Ini adalah dunia impian Kim, mungkin Kim sangat gila yah. Sampai-sampai mengharapkan impian yang tak akan pernah terjadi. Tapi, percayalah! Bun, pah. Kim mengurung diri itu karena akhir-akhir ini sering memimpikan kakek. Kim jadi takut, hingga Kim memutuskan ingin melukis. Agar ingatan tentang kakek hilang sejenak. Tapi, nyatanya tidak berhasil Bun, pah. Kim harus gimana? Semakin kesini Kim semakin merindukan kakek. Kim yakin kakek belum menghilang, Kim benci om Raditya yang udah culik kakek. Bun, pah, Kim benci."kata Kim menjelaskan.


Kim sekarang sudah terduduk dilantai dan menangis. Sesekali menghapus air matanya yang terus menerus keluar.


Sarwenda dan Justin menghampiri Kim. Memeluk putri kesayangannya, mengerti dengan perasaan Kim.


"Sudah, bunda sama papah udah maafin kamu kok. Jangan nangis lagi yah, kamu itu putri bunda satu-satunya. Adanya hadir kamu aja bunda udah ngerasa cukup dan bahagia. Karena Kim udah berhasil melengkapi kekurangan bunda."ucap Sarwenda mengusap air mata Kim.


Kim tersenyum bahagia, lalu berhambur kembali ke pelukan Justin dan Sarwenda.


Untuk saat ini, Justin tak bisa berkata apa-apa. Ia yakin dengan adanya Kim disini sudah membuat Sarwenda bahagia.


Sebab Sarwenda tidak akan pernah punya anak, itu lah sebabnya Sarwenda dan Justin selalu bersyukur atas hadirnya Kim dihidup mereka. Dan berjanji kepada kakek Kim, akan menjaga nya dengan baik.


_________


_ACARA DI BALAI KOTA_


Kimberly saat ini sangat cantik, memakai gaun berwarna merah. Tak lupa juga tadi Kimberly sudah pamitan kepada Sarwenda dan Justin. Meminta doa serta restu, agar presentasi nya akan berhasil.


Ya, untuk acara kali ini adalah persentasi dengan ajang menceritakan maksud dari setiap lukisan. Kimberly sangat gugup, karena ini kali pertamanya mendapat undangan dari balai kota.


Kimberly saat ini sedang berada didalam mobil menuju perjalanan ke balai kota. Mobil ini bukan pribadinya, tetapi mobil para petinggi balai kota.


Para petinggi itu adalah para pelukis dari zaman sejarah kota Erlazes. Dan mungkin saat ini, Kimberly akan ikut bersaing dengan mereka. Karena perintah raja.


"Selamat datang, nona Kim."ucap supir membukakan pintu sambil membungkuk hormat. Ucapan supir tadi berhasil membuyarkan lamunan Kim. Kim langsung tersenyum membalasnya, lalu keluar dari mobil berjalan perlahan menuju bangunan yang sangat megah.


Kim terpaku dan terpesona dengan bangunan dihadapannya. Sungguh cantik. Tak bisa digambarkan, bahkan dibayangkan.


Kim menenteng lukisan yang akan ia persentasi kan, yaitu 'Dunia impian'nya.


Mungkin konyol. Tapi, Kim akan memperjelas segala yang ia impikan.


Kim sudah berada di depan pintu gerbang dengan bertulis namakan, Exlodher.


Apakah ini nama tempat para petinggi tempati?pikirnya.


Tak lama, gerbang yang tinggi dan megah itu terbuka lebar. Mengisyaratkan agar Kim masuk, tak lama muncul seorang lelaki dari gerbang itu.


"Hai, apakah anda nona Kimberly."sapa pria itu tersenyum ramah.


"Iya, saya Kimberly."Kim membalasnya dengan senyuman pula.


Cantik'batin lelaki tadi yang menyapa Kim.


"Apakah nona Kimberly bersedia masuk dengan saya?"tanya lelaki tadi sambil mengulurkan tangannya.


Kimberly yang tak mengerti maksud dari lelaki tak dikenalnya itu, hanya terdiam sesaat. Seakan bertanya 'maksud?'.


Lelaki itupun sadar lalu terkekeh pelan.


"Oh iya, saya lupa. Maafkan saya. Nama saya Andriano Levano. Nona Kimberly bisa panggil saya Vano."kata Vano memperkenalkan diri.


"Ah, yah. Tuan Vano juga bisa memanggil saya Kim, karena saya terbiasa dipanggil Kim."balas Kim.


Vano mengulurkan tangannya, Kim menerimanya. Mereka berdua pun mulai masuk ke dalam Exlodher.


Vano tadi sudah menjelaskan juga, jika yang dipertanyakan Kim memang benar. Bila Exlodher adalah nama tempat yang diduduki oleh para petinggi. Exlodher juga adalah tempat yang biasa disebut Balai kota.


_______


Kimberly saat ini, duduk disalah satu kursi. Dimana, itu adalah kursi khusus untuk para pelukis tingkat tinggi.


Gugup? Sangat mewakili perasaanya. Kimberly takut gagal, itulah yang dikhawatirkannya sedaritadi. Para pelukis yang dari tadi maju kedepan, sangat berbakat dan juga elegan. Bahkan imajinasi merekapun bisa dikatakan sangat unik.


Tapi, baginya saat Vano juga tampil kedepan. Rasanya, Vano lah yang sangat bagus. Dilihat dari segi lukis dan maksud artis lukisan itu. Mempunyai arti yang sangat mendalam.


Kimberly juga sempat kaget. Mendengar kenyataan jika Vano adalah saingan nya hari ini.


"Baiklah, mari kita sambut pelukis baru dari tahun ke tahun. Mungkin, kalian tidak akan percaya. Ada seorang pelukis wanita, yang sudah sukses diumurnya yang baru lima tahun. Tapi, inilah faktanya. Mari kita sambut! Pelukis wanita kota Erlazes, KIMBERLY."ucap mc memanggil.


Kimberly pun melangkah maju kedepan. Sangat gugup, penonton diperkirakan lima ribu lebih. Membuat dirinya tidak terbiasa.


"Apakah kalian tahu pelukis yang selalu di juluki 'sebuah keajaiban'?"tanya mc.


"Nah, saya perkenalkan. Nona Kimberly inilah pelukis yang selalu dijuluki 'sebuah keajaiban."ucap mc tadi lalu menunjuk Kimberly.


Kimberly hanya tersenyum lalu membungkuk hormat. Tak lama, banyak penonton yang bertepuk tangan untuk Kim. Tetapi, masih ada sebagian yang tidak mempercayainya. Karena usia Kim yang terlalu muda, dan di kota Erlazes sangat jarang. Atau bisa dikatakan mustahil bila bakat melukis, tumbuh pada seorang wanita.


Jika, tentang julukan Kim? semua penduduk kota Erlazes memang mengetahuinya. Bahkan, negara Boling mengetahuinya. Kecuali penduduk di balai kota, karena suatu alasan yang kerap tak bisa Kimberly jelaskan.


"Baik, nona Kim. Silahkan mulai!"ucap mc mempersilahkan.


Kimberly terdiam beberapa saat untuk berdoa. Lalu menatap seluruh penonton, berharap kakeknya ada. Tapi, itu mustahil.


Kimberly memejamkan matanya.


"Saat ini, yang dilukis oleh Kim memang tak akan sebanding dengan para pelukis yang sangat-sangat berpelangaman. Dari segi pengetahuan, imajinasi, serta masa-masa penjajahan. Kimberly mungkin tidak bisa membayangkan masa penjajahan kota Erlazes, yang terletak dinegara besar Boling. Tapi, Kim tidak akan melukis hal itu. Maaf! Kim hanya ingin melukis beberapa 'Dunia impian' yang selalu Kim impikan saat masih kecil."


Kim terdiam sebentar, lalu melanjutkan perkataannya.


"Mungkin, memang aneh terdengar. Tapi, inilah kenyataan yang selalu Kim harapkan. Kim selalu ingin menggapai dunia impian itu, dan berjalan melangkah ke dalamnya bersama kakek."


Setelah selesai mengucapkan penjelasan tema yang akan dibawa, yaitu Dunia Impian.


Kim pun mulai menunjukan lukisan pertamanya.




_Sekolah Gritin_


"Ini adalah hasil imajinasi Kim. Bukan khayalan atau cuman harapan. Kim namakan ini sebagai sekolah Gritin. Kata 'Gritin' Kim hanya memaknainya sebagai, dimana sekolah ini mengumpulkan beberapa murid yang mempunyai ajang bakat melukis. Yang lebih tepatnya 'melukis sihir'. Tetapi, sekolah ini memiliki syarat tertentu. Yang paling utama adalah memiliki imajinasi yang sangat luas."


Setelah menjelaskan lukisannya pertama. Kim mulai menunjukan lukisan keduanya.




_Istana Royales_


"Disinilah, saya membuat dari imajinasi saya sendiri. Akan menemukan wajah pujaan hati saya. Tetapi, saya belum menentukan namanya. Istana Royales dipimpin oleh Raja bijaksana dan amat baik oleh Raja Levin. Dia adalah salah satu Raja pribumi kerajaan Royales, yang berhasil mencapai beberapa penghargaan. Dan telah mengalahkan beberapa raja-raja sebelumnya. Namanya sudah sangat terkenal berkat semua usahanya. Bahkan, saudara-saudara kandung sebelumnya, yang pernah menduduki tahta raja. Memusuhi Raja Levin, karena perasaan iri dan dengki tumbuh di setiap hatinya."


Kimberly mulai menunjukan kembali lukisan ketiganya.




_Bukit Terapung_


"Bukit terapung atau biasa disebut dengan nama Psheonami, merupakan bukit yang ditinggalkan oleh Raja naemi. Raja Naemi adalah ayahanda Raja Levin. Bisa dikategorikan, jika Raja Naemi adalah satu-satunya raja yang memuncak dan memiliki kekuatan yang sangat mustahil dimiliki oleh raja. Contohnya, adalah Bukit terapung. Bukit-bukit terapung ini merupakan hasil dari sumber kekuatan Raja Naemi sendiri. Namanya telah tercatat sebagai panjima terbaik."


Selesai, Kimberly membungkukan badannya. Lalu kembali berkata.


"Sekian, dan terima kasih."


Itulah, akhirnya. Riuhan suara tepukan tangan menggelegar di setiap sudut ruangan. Bahkan, semua penonton sudah dibuat terpana dengan lukisan yang digambar oleh Kim. Saat menjelaskan lukisannya, cahaya dari tanda lahirnya muncul. Apalagi, cahaya yang muncul dari rambut Kim. Membuat penonton sangat terpukau.


Bahkan, cahaya itu terang berkali dua lipat lebih indah dari biasanya.


______


Sekarang adalah hasil penentuan.


Kim sangat menantikan hasilnya, mungkin. Ini adalah hasil perjuangan menjadi seorang pelukis selama dua belas tahun ini.


Kimberly memang sudah bersyukur, tetapi Kimberly tetap ingin di ketahui oleh penduduk di balai kota.


Selama ini, Kim hanyalah pelukis sah dan beralaskan julukan 'sebuah keajaiban'.


Tetapi, pelukis yang sangat diakui itu oleh Raja Patrick tersendiri, yaitu Raja yang bertempat di balai kota.


"Maaf, pasti kalian sudah menunggu."


Mc sudah datang.


"Dan pelukis yang namanya akan tercatat disejarah kota Erlazes adalah.......


"KIMBERLYYYY."teriak mc.


Kimberly langsung menangis terharu, saat mendengar bila dirinya adalah pelukis terbaik untuk tahun ini.


Dan dirinya tak menyangka, telah mengalahkan beberapa pelukis yang sangat berpengalaman dari zaman Erlazes.


Mc mulai memberikan piala yang sangat besar sebagai bentuk penghargaan.


Lalu, tak lama. Raja Patrick datang dan menghampiri Kim


Kim sangat bahagia disaat sadar jika ini memang raja.


Raja Patrick mulai tersenyum ke arah Kim, bahkan suara tepukan tangan pun langsung hening saat kehadiran Raja Patrick muncul.


"Selamat atas keberhasilan anda, Nona Kimberly."ucap selamat dari Raja.


"Terima kasih."balas Kim sambil membungkukan tubuhnya memberi hormat.


"Terimalah, mahkota ini. Sebagai bentuk bahwa ini adalah hadiah dari saya."


Raja mulai memakaikan mahkota itu di atas kepala Kim, lalu raja mengambil speaker.


"Saat ini, kita sudah menemukan bakat yang sangat luar biasa. Bahkan, saya memang sudah mengetahui nona Kim dari usianya yang masih kecil itu. Saya mengundangnya, sebab saya sangat penasaran terhadapnya. Kali ini saya akan menyebut anda sebagai 'Queen of imagination'. Mengapa saya menyebutnya sebagai 'Queen of imagination'? Lihatlah oleh kalian semua, imajinasi nya yang jarang orang miliki. Telah dimiliki oleh Nona Kimberly. Bahkan, selama saya melihat pengalaman dari para pelukis dari zaman ke zaman perkembangan kota Erlazes. Hanya nona Kim lah yang sukses membuat hati saya tergerak."


"Dan untuk ini, saya harap Nona Kim selalu berjaya kedepannya. Selamat untuk kesuksesannya 'Queen of imagination' negara Boling."ucap Raja Patrick.


Lalu, mulai melebarkan kedua tangannya. Pertanda agar Kim memeluknya.


Saat ini, Kim menangis bahagia. Lalu mulai memeluk raja Patrick tanpa ragu.


Suara tepukan tangan mulai kembali terdengar, sangat indah.


Mereka memang sangat merasa jika Kim memang lah pantas untuk menjadi pelukis paling terbaik tahun ini.


Kimberly, saat ini terkenal sebagai 'sebuah keajaiban' dan "Queen of imagination'.


______


Hy guys, gimana buat part kali ini?


Seru gak? Ayo, terus baca ya cerita baru aku ini.


And pastinya jangan lupa votmen:)


Kimberly




Seeyou, fiya.