
12 tahun kemudian...
"Bun, Kim di undang pak Bryan ke acara perkumpulan para pelukis Apakah Kim boleh pergi ke undangan?"
"Tentu saja boleh, jam berapa Kim berangkatnya?"tanya bunda Sarwenda.
"Sekitar jam tiga sore nanti,"
"Baiklah, nanti bunda suruh papah untuk mengantarmu."
Sarwenda tidak melihat Kim, karena tengah fokus memasak. Sedangkan Kim, Kim fokus membalas chat pak Bryan memberi kabar bahwa Kim akan datang.
"Pagi anak kesayangan papah sama istri kesayangan papah."sapa Justin yang sudah duduk dimeja ruang makan.
"Pagi juga pah."balas Kim sembari tersenyum, begitu pun dengan Sarwenda.
"Pah, Kim diundang pak Bryan untuk pergi ke acara perkumpulan para pelukis. Papah antar Kim yah kesananya."ucap Kim.
"Baiklah, lagian papah juga ingin bertemu pak Bryan. Dan Kim, ingat ya! sebagai pelukis kamu harus sering mengunjungi undangan seperti itu. Dan papah harap Kim semakin sukses untuk kedepannya."
Justin pun kembali meminum kopi yang sempat ia tahan dulu.
"Bunda, nanti ikut Kim ya?"Kim menghampiri Sarwenda sambil memeluknya dari belakang,
"Bunda tidak bisa sayang, bunda ada urusan penting dengan teman-teman bunda nanti."
Yah, Sarwenda memang akan sibuk sekali nanti sore. Dikarenakan dirinya sekarang telah mempunyai toko butik, yang dikelola olehnya bersama teman-temannya.
"Yah,, padahal Kim ingin sekali bunda ikut hadir nanti."ucap Kim dengan nada kecewa.
Sarwenda membalikan badannya lalu mengusap pelan putrinya, merasa gemas dengan tingkah manja Kim.
"Nanti bunda janji kok, bakalan ikut. Tapi bukan sekarang sayang bundanya banyak pesenan."
"Tapi, janji ya."Kim mengajak bunda berjanji dengan cara menyatukan kelingking Kim dengan bundanya.
Sarwenda yang melihat itu hanya tertawa pelan, lalu menyatukan kelingking mereka.
"Iya, bunda janji kok."
///
Kim kini berada di kamarnya, memeluk foto kakeknya.
Andai kakek ada disini, menemani Kim. Kim sekarang sukses kek, sesuai harapan kakek. Kim udah mewujudkan semua harapan kakek. Kakek pergi kemana? Kim pengen cerita tentang segala keberhasilan Kim' batin Kim.
Peristiwa tujuh tahun lalu berputar kembali di memori ingatannya. Kim sesekali menghapus air mata yang turun sedaritadi.
~flashback on~
"Kakekkkk ada yang ingin ketemu kakek." Kim kecil berteriak sembari menghampiri kakeknya yang tengah melukis.
Lalu seorang pria bertubuh kekar menghampiri sang kakek sembari tersenyum.
"Salam kakek, saya Raditya anjelmes. Saya kemari ingin menawarkan sesuatu. Apakah kakek bersedia ikut dengan saya menuju acara di balai kota? Ini menyangkut bakat Kim yang harus di hadiri oleh keluarganya."ucap Radit menjelaskan.
Kim kecil memasang wajah memohon, sesekali berbisik.
"Baiklah, saya akan ikut denganmu. Kapan acara balai kota itu?"tanya kakek.
"Sekitar satu jam lagi kek, jika kakek mau bersiap-siap dulu tak apa. Saya akan menunggu." Radit tersenyum tak enak saat kakek terus menawarinya minum.
"Tak apa, saya akan seperti ini saja. Tadi saya sudah mandi, jika memang sangat mendesak. Mari kita berangkat sekarang saja."tawar kakek.
"Baiklah kek, mari."balasnya.
Kim menghampiri kakek lalu menyalaminya
"Kim kamu tak apakan disini sendiri?"tanya kakek merasa khawatir.
"Tak apa kok kek, tadi Kim dapat kabar jika bunda sama papah akan berkunjung kemari."Kim yang sudah berumur tujuh tahun itupun mendorong-dorong tubuh kakeknya, agar segera masuk ke dalam mobil.
"Dadah, kakek." Kakek Kim membalas lambaian tangan cucu kesayangannya itu.
Tetapi, kakek Kim merasakan firasat buruk sedari awal. Takut hal yang tak inginkan terjadi padanya.
Yah, seperti dugaan kakeknya jika Radit malah memarkirkan mobilnya di hutan yang sangat sepi dan sunyi.
"Mengapa Radit membawa kakek kemari?"tanya kakek sambil melihat hutan yang sepi ini.
Tapi, saat kakek menoleh kesamping dimana Radit berada. Radit tiba-tiba menghilang bak di telan bumi.
"Nak Radit, anda kemana?"kakek keluar dari mobil, sesekali memanggil Radit yang tak kunjung muncul.
Tiba-tiba mobil itu berubah menjadi sebuah pintu gerbang yang sangat megah.
"Apa maksud dari semua ini."ucap kakek bermonolog sendiri.
Kakek yang merasa penasaran pun masuk kedalam gerbang itu.
Dan gerbang itupun mulai hilang dan tak menyisakan sedikitpun cahaya seperti awal.
---
"Permisi."
Hening. Toko kakek Kim sama sekali tak ada orang.
"Apa mereka tak ada?"tanya Sarwenda kepada Justin. "Entahlah."jawab nya.
"Papahhh,bundaaa."Kim kecil tiba-tiba muncul dari belakang pintu membuat Sarwenda dan Justin terkejut.
"Hallo putri kecil, kakek kemana?"tanya Justin membungkukkan badannya mensejajarkan dengan tubuh Kim, lalu mengusap pelan kepala Kim.
"Kakek tadi berangkat sama om Raditya ke acara di balai kota."jelasnya, Kim sesekali mempejamkan mata merasa nyaman dengan usapan Justin.
"Balai kota? Memangnya ada ya mas?"tanya Sarwenda, karena setahunya jika memang ada. Pasti Justin pun sudah diundang oleh para orang-orang penting dari balai kota. Dan selebihnya lagi Sarwenda belum pernah mendengar orang penting yang bernama Radit.
"Setahu mas tidak ada. Nama lengkap yang pergi bersama kakek, siapa Kim?"tanyanya.
"Enjelmes,yah. Om Raditya Enjelmes."ucap Kim senang, karena sudah berhasil mengingatnya.
"Sarwenda coba kamu hubungi para petinggi di balai kota. Aku ingin tahu apakah disana memang ada acara."
Sarwenda pun mulai menuruti perintah suaminya, dan mulai menelpon. Tapi nomor yang dituju tidak aktif.
"Tidak aktif mas."ucap Sarwenda sambil menunjukan ponselnya kepada suaminya Justin.
"Bagaimana ini? Firasat ku daritadi sudah tidak enak."Justin sedaritadi memang merasa khawatir, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa kakek Kim.
Kabar terbaru, seorang kakek tua bersama pemuda kecelakaan. Disebabkan saling bertabrakan dengan bus yang berjumlah banyak sekitar lima puluh orang. Kini para korban sedang dibawa ke rumah sakit terdekat.' itu adalah suara dari tv. Kim yang mendengarnya langsung mematung, begitupun dengan Justun dan Sarwenda.
"Kakek."lirih Kim membendung air matanya. Takut-takut jika yang dimaksud kakek tua itu adalah kakeknya, dan pemuda itu adalah om Raditya.
"Papah, bunda. Kakek tidak kenapa-napakan?"tanya Kim yang sudah menangis itu.
"Kakek tidak apa-apa Kim. Percayalah kepada papah."ucap Justin menenangkan Kim sambil memeluknya.
"Bunda, Kim takut."ucap Kim sesekali menghapus air matanya. Dan terus menangis dipelukan Bryan.
Sarwenda membungkukan tubuhnya, lalu mengusap air mata Kim.
"Percaya yah sama bunda, jika kakek pasti tidak akan kenapa-napa. Dan kan kakek yang tua itu banyak."Sarwenda merasa khawatir dan kasihan kepada Kim. Kim yang masih kecil dan yatim piatu ini, tak mungkinkan bila ditinggalkan kakeknya. Sarwenda yakin itu.
Tit...tit...
Suara panggilan dari handphone Sarwenda berbunyi. Sarwenda mengangkat telponnya.
"Halo."
"Apakah betul ini bersama Sarwenda?"tanya orang dari seberang sana.
"Ya, betul ini dengan Sarwenda. Ada apa ya?"tanya Sarwenda.
"Kami ingin memberitahukan tentang kecelakaan yang baru terjadi. Maafkan kami, kami tidak menemukan jasad yang bernama pak Riko dan pak Raditya."ucapnya.
Handphone Sarwenda langsung jatuh yang menimbulkan retak pada layarnya. Sarwenda langsung berlari menemui Kim dan memeluknya erat sambil menangis sesenggukan.
"Kim, anak bunda. Kamu tinggal ya sama bunda mulai sekarang."kata Sarwenda dengan suara parau.
"Tapi Kim tidak bisa meninggalkan kakek sendirian bunda, kasihan kakek."ucap Kim.
Justin yang merasa heran pun memegang pundak Sarwenda. Dan memberi isyarat 'ada apa'.
Sarwenda hanya menghapus air matanya lalu memeluk Kim kembali.
"Kim bunda mohon tinggalah dengan bunda."ucap Sarwenda dengan nada memohon.
"Kakek katanya akan liburan satu tahun di balai kota, jadi Kim disuruh untuk tinggal sama bunda dan papah."ucap Sarwenda menjelaskan, meski nyatanya ia tengah berbohong
Tapi apalah daya, Sarwenda tak bisa memberitahu fakta kepada Kim yang masih kecil dan polos ini.
Justin yang mengerti situasi pun, akan mempertanyakan nya nanti.
~flashback of~
///
"Kim, cepatlah! Ini sudah jam tiga lebih."teriak Justin memanggil putrinya itu. Kim pun langsung berlari saat turun dari tangga.
"Iya pah, ayo! Kim sudah siap."ucap Kim yang sudah berlalu pergi meninggalkan Justin.
Mereka berdua pun mulai berangkat menuju perusahaan pak Bryan.
///
"Mari kita sambut, pelukis muda yang sudah dikagumi oleh banyak orang selama bertahun-tahun. Kita langsung panggil saja, KIMBERLY."
Mc memanggil Kim dengan nada suara tegas. Suara tepukan tangan pun mulai menggema kesetiap sudut ruangan acara.
Kim perlahan berjalan menuju panggung, tersenyum sekilas saat melihat ada tulisan 'sebuah kejaiban'.
Julukan itu membuat dirinya selalu teringat akan kakeknya.
"Nona Kim, apakah ada yang ingin anda bicarakan? Setelah semua hasil kesuksesan dimasa muda anda ini, telah berhasil membuat beberapa negara menyebut anda sebagai 'Ratu sebuah keajaiban' nomor satu."ucap mc sambil memberikan piala kepada Kim.
"Saya ingin mengatakan satu hal, semua keberhasilan saya semata-mata karena berkat papah saya dan bunda. Juga ini semua berkat do'a kakek, papah, bunda. Saya sangat senang dengan keberhasilan saya selama dua belas tahun ini. Saya persembahkan keberhasilan ini kepada kakek saya yang telah menghilang, tujuh tahun lalu. Harapan kakek, ambisi kakek untuk menjadi seorang pelukis. Telah Kim wujudkan. Kim sangat bahagia dan senang bila kakek ada disini. Tapi tak apa, masih ada orang-orang yang sangat istimewa di dalam kehidupan Kim. Yang senantiasa merawat Kim, menjaga Kim, dan menyayangi Kim. Kim persembahkan piala ini kepada papah saya yaitu, pelukis terkenal Justin."ucap Kim, Kim sudah menangis disana. Dan tersenyum saat Justin mulai melangkah menuju panggung menghampiri dirinya.
Justin memeluk Kim erat, sangat bangga dengan keberhasilan Kim.
Suara tepukan tangan pun mulai menggema kembali.
"Kim sayang papah."
"Papah juga sayang putri kecil papah ini."
Ucap mereka berdua disela-sela pelukannya.
Hy guys, Btw ni ya. Aku mau mengucapkan maaf kalo banyak typo atau banyak kesalahan dalam penulisannya.
Aku masih pemula guys, jadi harap ma'lumin ya^\-^
Dan jangan lupa vote and content.
See you,fiya.